Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Menjadi Orang Dewasa Itu Nggak Selalu Pahit

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
29 November 2019
A A
menjadi orang dewasa MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Menjadi orang dewasa itu nggak sepahit yang kamu duga. Kecuali kalau kamu manja dan memandang segalanya secara negatif.

Menjadi orang dewasa itu bukan berarti kamu nggak bisa nonton SpongeBob dan Doraemon. Menjadi orang dewasa juga masih memungkinkan kamu rebahan sepanjang hari. Semuanya soal pilihan aja, kok.

Iklan

Ngebanding-bandingin itu enak betul. Saya juga sering melakukannya. Apalagi ketika ngebanding-bandingin betapa bahagianya masa kecil dan pahitnya kehidupan orang dewasa. Kamu lantas bernostalgia kalau dulu bisa main sepuasnya, sementara kalau udah dewasa jam main habis buat kerja dan memikirkan tagihan.

Belum kalau ada masalah keluarga atau love life kamu berantakan. Lagi enak nangis sambil ngebucin, kamu tambah lesu karena dimarahin atasan di kantor. Menjadi orang dewasa dianggap sangat pahit dan rasanya pingin balik jadi anak kecil lagi.

Padahal, nggak semua orang mengalami hal yang sama. Banyak kok menjadi orang dewasa itu enak-enak saja. nggak sepahit kehidupanmu. Memandang semuanya secara rata itu yang bikin menjadi orang dewasa nggak enak betul. Nonton kartun sepanjang hari seperti masa kecil yang paling menyenangkan.

Ada beberapa pandangan yang saya rasa keliru betul. Pertama, kamu merasa tidak ada yang benar-benar memahami jalan pikiran dan mimpimu, bahkan keluarga. Banyak kok orang dewasa yang nggak gampang kena mental breakdown di akhir minggu karena dukungan keluarga. Ada juga yang mimpinya tergapai, juga karena keluarga.

Kalau keluarga atau orang lain nggak bisa memahami jalan pikiranmu, mungkin pikiranmu saja yang terlalu ruwet. Lalu ngeluh di medsos. Merasa kena mental breakdown tiap akhir minggu. Badan pegel-pegel. Kepala pusing. Padahal cuma masuk angin.

Kedua, kamu merasa semua teman hanya berdasarkan kepentingan ketika menjadi orang dewasa. Kamu merasa mereka cuma ada ketika butuh. Giliran kamu yang membutuhkan, nggak ada yang mau membantu. Sekali lagi, nggak semuanya kayak begitu. Jangan-jangan kamu yang nggak bisa berteman atau apes saja nggak nemu yang tulus.

Suatu kali temen minta nebeng ke kantor dan kamu membantu dengan senang hati. Giliran kamu nitip makanan, teman kamu nggak mau. Positif saja, mungkin teman kamu lagi nggak bawa uang tunai. Atau bisa aja temenmu cuma miskin. Titik.

Memang, menjadi orang dewasa, biasanya, lingkaran pertemanan menjadi kecil. Tapi, lingkaran kecil itu seharusnya menjadi seleksi. Kalau lingkaran pertemananmu sudah kecil, taken for granted semua, jangan-jangan lingkunganmu aja yang nggak bener. Bukan soal menjadi orang dewasa itu pahit atau enakan masa kecil.

Ketiga, ada yang bisa bikin kamu bahagia, tetapi tidak selamanya. Lha ya betul banget, apalagi kalau sudah saatnya kamu ketemu Gusti Allah. Mana mungkin kamu bakal bahagia terus di dunia fana ini. Manusia itu tempatnya salah. Mungkin dirimu saja yang terlalu menuntut. Selalu ingin dibuat bahagia. Jika dibalik, sudahkah kamu bikin bahagia orang lain?

Ketika temanmu bikin kamu sedih suatu saat nanti, jangan lalu pukul rata kalau orang lain juga bakal mengalami hal yang sama. Sangat mungkin orang lain itu biasa saja, nggak baperan kayak kamu karena sadar kebahagiaan memang nggak mungkin awet. Bakso formalin tuh awet.

Keempat, menjadi orang dewasa artinya bertanggung jawab atas dirimu sendiri. Ya iyalah! Memangnya kamu mau bergantung sama siapa? Sama negara? Sama tetanggamu?

Anak kecil belum punya daya untuk menopang diri sendiri. Sudah tanggung jawab orang tua untuk merawat, menjaga, dan mencintai mereka. Pada gilirannya, kamu yang harus memahami tanggung jawab itu. Apa ya mau kecil terus. Memangnya bonsai. Bonsai cuma badannya aja yang kecil, padahal tua! Jangan-jangan kamu saja yang manja dan maunya “disusuin” terus.

Iklan

Kelima, dunia tidak seindah masa kecil. Ini absurd banget karena semuanya soal pilihan saja. Menjadi orang dewasa bikin kamu bisa main sampai malam, misalnya. Kamu bisa ngopi sampai larut malam. Main sampai malam itu asyik, asal bertanggung jawab. Jangan lantas ngebegal orang di jalan.

Menjadi orang dewasa juga bikin kamu bisa menentukan pilihan sendiri. Kamu nggak terikat oleh aturan tidur siang sehabis pulang sekolah. Kamu bisa tetap main game atau baca komik sampai sore dan nggak ditegur orang tua. Kamu nggak perlu menggerutu karena harus tidur siang padahal temen-temen lain lagi asyik main layangan. Di rooftop kantor, ketika jam istirahat.

Kamu juga bisa rebahan sepanjang hari di akhir pekan. Itu sebuah kemewahan apalagi ketika deadline sudah menjelang dan tagihan mengejar. Semuanya soal pilihan. Terima konsekuensi like an adult gitu, lho.

Pada intinya adalah nggak ada gunanya membandingkan mana yang lebih enak, masa kanak-kanak atau orang dewasa. Semuanya cuma soal proses dan gimana dirimu nggak manja aja.

BACA JUGA Buat Apa Ingin Menjadi Dewasa, Padahal Itu Menyebalkan? Atau tulisan Yamadipati Seno lainnya.

Terakhir diperbarui pada 29 November 2019 oleh

Tags: anak kecildewasamenjadi orang dewasa
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Masalah Orang Dewasa: Dana Darurat, Skincare, dan Kecemasan yang Sama-sama Mahal MOJOK.CO
Esai

Masalah Orang Dewasa: Dana Darurat, Skincare, dan Kecemasan yang Sama-sama Mahal

24 Juni 2026
Ibu yang sudah menua sering diabaikan anak
Catatan

Orang Tua yang Menua adalah Ketakutan Terbesar Anak, meski Kita Menolak Menyadarinya

13 Februari 2026
Kepada Siapa Aku Harus Bercerita Saat Sudah Jadi Orang Dewasa? UNEG-UNEG. MOJOK.CO
Kilas

Kepada Siapa Aku Harus Bercerita Saat Sudah Jadi Orang Dewasa?

28 Mei 2023
Keluh kesah dari remaja yang menuju dewasa
Uneg-uneg

Keluh Kesah Remaja yang Beranjak Dewasa

15 Januari 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jaga Momentum Emas di Mandalika, Mario Aji dan Veda Ega Siap Unjuk Gigi di Kandang Sendiri MOJOK.CO

Jaga Momentum Emas di Mandalika, Mario Aji dan Veda Ega Siap Unjuk Gigi di Kandang Sendiri

20 Juli 2026
Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia MOJOK.CO

Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia

15 Juli 2026
Pakai jastip Mie Gacoan di Jombang: bayar lebih mahal untuk menu membagongkan MOJOK.CO

Pakai Jastip Mie Gacoan Ala Orang Jombang Pinggiran: Niat Hindari Kenorakan, Yang Datang Menu Membagongkan

20 Juli 2026
Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026
Cerita Pencari Kerja Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’.MOJOK.CO

Cerita Jobseeker Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’

17 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kerja sama dengan Australia. MOJOK.CO

Satu Dekade Jogja dengan Melbourne Symphony Orchestra: Bukti Orkestra Nggak Melulu Kaku bahkan Bisa Dinikmati Sambil Lesehan

15 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.