MOJOK.COCaptain America dan Sam Wilson hanyalah sebuah simbol. Namun, di dalamnya termuat pelajaran akan kasih sayang dan toleransi.

Rasanya masih rada aneh ketika nonton film garapan Marvel dalam bentuk “mode sinetron”. Banyak yang merasa kualitasnya akan jatuh. Namun, perlu diakui, mode sinetron ini nggak gagal-gagal amat. Bahkan bisa dibilang standarnya sudah cukup lumayan, terutama untuk menjadi pijakan judul-judul selanjutnya.

Saya memulainya dengan WandaVision. Mode sinetron, atau boleh juga kamu sebut sebagai sempalan dari rangkain fase The Avengers. Miniseri yang dimulai dengan lambat ini digarap cukup baik, dengan ending khas Marvel: menjadi pembuka untuk sesuatu yang lebih besar.

Metode yang sama juga terlihat dari Falcon and the Winter Soldier. Sam Wilson dan Bucky Barners bermain cukup apik. Emosi dan semacam kegeraman dari Falcon and the Winter Soldier lebih terasa jika dibandingkan WandaVision yang lebih kental dengan aura cinta dan kerelaan. Emosi, kegeraman, dan narasi akan kesetaraan menjadi garis merah dari Falcon and the Winter Soldier.

Saya tidak akan banyak berbicara soal teknis film. Maklum, saya awam di dunia ini. Saya menyusun tulisan pendek ini untuk berterima kasih, sekaligus mengapresiasi karakter Sam Wilson, yang sudah resmi ditahbiskan sebagai Captain America menggantikan mendiang Steve Rogers.

Black Captain America, Sam Wilson, dan kualitas film Marvel

Saya tahu kalau di luar sana banyak penonton film yang kurang mengapresiasi film superhero, apalagi besutan Marvel. Apa pun judul yang keluar, apa pun format penayangannya, pasti dibanding-bandingkan dengan serial Watchmen, yang konon dapat cap: “Kalau film superhero tuh ya gini, lho, nggak kayak Marvel. Fantasi banget. Ngebosenin. Gitu-gitu aja… bla bla bla.”

Well, namanya selera, tentu saya tidak bisa melarang mereka memilih tidak suka Falcon and the Winter Soldier. Meskipun sebelum komentar kayak gitu, secara nggak sadar udah menghabiskan 6 episode Falcon and the Winter Soldier dan nggak pakai skip segala. Hehehe….

Saya yang nggak ngerti soal teknis film berusaha memahami perkembangan karakter Sam Wilson. Beruntung, dulu, ketika masih kuliah, pernah mendapatkan pelajaran soal tokoh dan penokohan. Dari satu sudut ini, saya mengapresiasi dan berterima kasih kepada Sam Wilson yang mau menerima tanggung jawab menjadi Captain America.

Sam Wilson menghadapi banyak pergolakan batin untuk menerima tameng Captain America. Mulai dari tanggung jawab besar menggantikan Steve Rogers, sahabatnya sendiri, sampai pandangan masyarakat Amerika pada umumnya tentang black folk.

“Bagaimana mungkin masyarakat bisa menerima black people menjadi panutan mereka? Menjadi Captain Amerika yang berkulit putih, blonde, dan bermata biru? Apakah mereka mau meneladani Black Captain America?”

Berbagai pertanyaan itu menjadi sebuah “rumusan masalah” yang coba dijawab Sam Wilson dan film ini sendiri. Sebuah “rumusan masalah” yang akan menjadi pembuka film Captain America 4 dengan Sam Wilson sebagai titik sentralnya.

Film Falcon and the Winter Soldier memang menjadi titik mula dari berbagai film Marvel selanjutnya. Misalnya Armor Wars atau Secret Invasion. Tapi, mari kita simpan kisah itu untuk sementara waktu.

Bagai saya pribadi, film dengan pesan kemanusiaan yang kerap dianggap “Ah gitu amat”, atau “pesan moral banget”, atau “ketebak, nih” tetap film bagus. Apalagi ketika kamu melihat ke luar, ke tengah masyarakat yang semakin jahat dan chaos. Pengingat akan penerimaan akan perbedaan tetap dibutuhkan.

Sosok Captain Amerika, pada hakikatnya adalah sebuah pesan universal. Sebuah pesan yang ditujukan kepada masyarakat dunia, bahkan berbuat baik tidak pernah ditentukan oleh tampilan yang rupawan, warna kulit, atau agama. Meskipun dia memakai nama “Amerika”, kapten satu ini milik seluruh dunia.

Apakah yang namanya kebaikan hanya milik “propaganda Amerika”?

Yah, biarlah Captain America, atau beberapa plot dalam komik Marvel adalah sebuah produk dari “propaganda perang dingin”. Singkirkan dulu sentimen seperti ini lalu ambil esensi yang memang kita butuhkan.

Di episode 6 Falcon and the Winter Soldier, Sam Wilson menemukan resolusinya akan tanggung jawab menjadi Captain America. Dia tidak mengonsumsi serum superhuman. Kecerdasannya tidak secemerlang Steve Rogers. Namun, tokoh Sam Wilson hanya ingin membuat perbedaan dengan kekuatan yang dia punya.

Pada titik tertentu, film bisa dikategorikan sebagai sebuah simbol. Namun, seperti kata Sam Wilson, sebuah simbol tak akan punya makna tanpa perempuan dan laki-laki yang berjuang memberikan makna ke dalamnya. Bagi saya, yang disajikan Marvel, sudah cukup bermakna.

Ingat, Sam Wilson, sebagai bagian dari komunitas kulit hitam juga sempat “ditolak” oleh komunitasnya sendiri. Dia sempat dianggap tidak punya self-respect ketika mengenakan tameng Captain America.

Sam Wilson adalah tokoh rekaan. Yang memerankannya bernama Anthony Mackie. Suatu ketika, Anthony Mackie diberi tahu bahwa dirinya akan menjadi Captain America selanjutnya. Saat menerima telepon itu, dia masih bisa bersikap biasa saja.

Namun, ketika menyampaikan kabar itu kepada anaknya, Anthony Mackie dibuat meneteskan air mata. Sosok Captain America adalah idola dirinya dan anaknya sendiri. Sang anak tidak banyak berkomentar. Dia hanya bilang bahwa Anthony Mackie memang “layak”, lalu menutup kalimatnya dengan kata: “Cool”. Saat itulah, Anthony Mackie menangis.

Situasi ini menggambarkan bahwa Captain America sebagai sebuah simbol memang punya makna tersendiri. Bahkan memberikan kebanggaan tersendiri ketika memerankan tokoh ikonik ini. Tokoh yang mencerminkan kebaikan universal.

Saya jadi ingat Nelson Mandela. Dulu, Mandela pernah bilang bahwa semua anak kecil tidak lahir dengan membawa kebencian. Artinya, kebencian itu diajarkan, sama seperti kasih dan sayang kepada sesama.

Film garapan Marvel ini biarlah dianggap jelek. Namun, pada titik tertentu, sukses menegaskan bahwa kasih dan sayang itu bisa diajarkan. Bukankah yang seperti ini indah adanya?

BACA JUGA 5 Superhero Lokal yang Harusnya Tampil di Film Avengers: Endgame dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Baca juga:  Jika Spider-Man Jadi Superhero di Jogja