MOJOK.COUntuk diriku dua dekade yang lalu. Lewat surat ini aku ingin mengingatkan supaya dirimu tidak tergesa-gesa jatuh cinta. Kedua, belajarlah ikhlas, seikhlas-ikhlasnya.

Surat ini untuk diriku dua dekade yang lalu. Diriku yang masih berusia belasan.

Pertama-tama kamu akan belajar soal senang-senang, lalu belajar menelan kekecewaan yang mendalam, dan susah payah untuk merelakan.

Tapi percayalah kepadaku, semuanya itu sangat bernilai. Ketahuilah, lebih enak menjadi bajingan di kala remaja ketimbang ketika sudah mulai menua. Seiring usia, masalah yang perlu kamu kunyah dan telan semakin pahit. Pengalaman di masa lalu itu yang akan menyelamatkan kamu nanti.

Lewat surat ini aku ingin kamu bersyukur sudah lahir di tengah keberagaman yang bersahabat. Warna kulit saudara dan teman-temanmu beragam, kepercayaan mereka bermacam-macam. Kehidupan seperti itu membuatmu lebih menghargai perbedaan kelak. Bahkan menjadi bahan bakar tulisan-tulisanmu ketika sudah bekerja di sebuah “keluarga kecil” bernama Mojok dot co.

Kamu akan menyaksikan secara langsung orang berbeda agama, tetapi saling sapa dengan senyum ramah. Bersalam-salaman di awal pagi ketika kamu hendak pergi beribadah.

Pemandangan itu yang akan terus meneguhkan imanmu kelak, terutama ketika kamu jatuh ke kekecewaan kepada dirimu sendiri, ketika kamu kesulitan mempertahankan emosi dan terus-menerus mempertanyakan keberadaan Tuhan.

Bersyukurlah juga kamu sudah merasakan cinta ketika masih bocah. Oh, kamu belum akan menyebutnya cinta. Kamu akan menyebutnya teman terbaik. Aku kasih tahu lewat surat ini, kamu akan menyebutnya teman paling asyik untuk mengisi kenakalan-kenakalan yang hampir keluar dari batas.

Bersyukurlah, kamu sudah merasakan jatuh cinta sejak bangku sekolah dasar. Kamu akan terus bersamanya hingga 12 tahun lamanya.

Bersyukurlah, kelak kamu akan menemukan teman-teman yang tak hanya tahu cara bersenang-senang, tetapi juga menemanimu berkembang menjadi pribadi dan pekerja yang lebih mumpuni.

Aku ingin mengingatkamu soal urusan cinta lewat surat ini. Kamu akan dipaksa merelakan seikhlas-ikhlasnya. Kekasih 12 tahunmu tidak akan selingkuh, dia tidak akan mengkhianatimu. Namun, dia milik Tuhan, dan tidak ada yang bisa kamu lakukan ketika Tuhan menginginkan salah satu kreasi terbaiknya kembali ke sisi-Nya. Kamu akan kecewa, kamu akan absen ke gereja dalam waktu yang lama. Kamu akan mempertanyakan Tuhan setiap detik.

Kamu akan mempertanyakan dirimu sendiri. “Apakah diri ini tidak pantas merasakan kebahagiaan?”

Menangislah, menangislah hingga kamu pingsan. Menangislah hingga tangismu tak lagi berupa air mata. Menangislah hingga kamu muak. Menangsilah dan makilah Tuhan. Tak mengapa, karena Tuhanmu adalah Maha Pengampun. Ia Maha Mengerti. Ia Bapak yang baik, yang akan menukar kebahagiaanmu yang Ia ambil dengan sebuah kebahagian lain di masa depan.

Anggap juga surat ini sebagai pengingatmu untuk belajar ikhlas. Kehilangan kekasih 12 tahun itu yang akan membentuk rasa ikhlasmu di masa depan. Sebuah pelajaran yang akan membuatmu teguh di tengah kesulitan yang tak seberapa. Kamu akan merasakan kehilangan paling hakiki, masalah lain tak lebih dari sekadar kerikil di dalam sepatu sebelah kiri.

Aku ingin berpesan lewat surat ini, di tengah rasa kehilanganmu, jangan pernah tergesa-gesa untuk membuka hati lagi. Apalagi hanya karena kamu tak tahan dengan kesepian. Sementara dirimu tak bisa terbuka ke sembarang orang. Kamu sulit bercerita ke sembarang orang. Tak mengapa, kamu akan kuat menanggung semuanya. Namun, sekali lagi, soal hati, jangan gegabah.

Kamu akan menikmati masa-masa kuliah. Aku ingin berpesan, fokuslah dengan bangku kuliah. Soal hati, aku yakin kamu kuat untuk menutupnya sementara waktu. Namun, ketika kamu pada akhirnya tak kuat, tak mengapa. Kamu juga manusia yang butuh keberadaan orang lain.

Terimalah dia yang akan datang. Kamu akan menderita secara batin selama hampir 4 tahun. Tak mengapa. Inilah masa-masa pendewasaanmu selanjutnya. Belajarlah mengalah, belajarlah meredam emosi. Kelak ketika kamu tidak bisa mengontrol emosi itu, kamu akan menemukan jalan dan cara untuk mengontrolnya kembali.

Itulah proses terpenting dalam hidupmu. Ketika kamu bisa memetakan cara meredam emosi dan berpikir jernih ketika situasi menjadi bajingan betul. Ahh, maaf, aku memaki. Inilah efek dari cara yang aku maksud tadi. Kamu akan banyak memaki. Hahahaha… mungkin itu yang namanya refleks. Namun, ketahuilah, lebih enak refleks memaki ketimbang refleks nempeleng orang.

Hingga kamu menua nanti, proses belajar menjadi manusia yang lebih tidak akan usai. Kamu akan terjebak dalam masalah pelik, antara merawat hati orang tua, menyeimbangkan isi dompet sendiri, dan mengkhianati kepercayaan orang lain.

Aku menulis surat ini karena belum menemukan jawaban pasti akan semua masalah dalam hidup ini. Mungkin, kamu yang akan menjalani hari-hari nanti yang akan lebih berhasil. Lebih bijak dari diriku.

Nikmati hari-harimu dengan sewajarnya. Jangan gegabah menentukan keputusan, baik soal hati, hingga soal pekerjaan. Aku yakin dengan kamu, kok.

Nah, sekarang, belajarlah dengan lebih tekun.

BACA JUGA Surat Cinta Untuk Kol Goreng yang Jahat tapi Enak atau artikel Yamadipati Seno lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles