[MOJOK.CO] Yang berpeluang menjadi juara Piala Dunia 2018 ada lima tim. Siapa saja mereka?

Kurang tiga bulan lagi, kompetisi sepak bola terbesar di dunia, Piala Dunia 2018 sudah akan digelar. Kali ini, Piala Dunia akan digelar di Rusia. Pertandingan pembuka akan mempertemukan tuan rumah Rusia melawan Arab Saudi.

Meskipun berstatus tuan rumah, tentu sangat sulit melihat Rusia menjadi juara Piala Dunia edisi ke-21 kali ini. Paling tidak, ada 5 negara yang bila melihat skuat mereka secara seksama, peluang menjadi juara menjadi cukup besar dibandingkan negara-negara lain. Pada titik ini, 5 negara yang akan kita bahas, boleh disebut sebagai negara unggulan, ala Mojok Institute tentu saja.

Jerman

Status Jerman adalah juara bertahan, masih dengan pelatih yang sama. Kerangka skuat sedikit berubah, menyusul pensiunnya beberapa pemain. Selain itu, cedera yang tengah diderita Manuel Neuer juga berpotensi mengubah susunan dan aura lini pertahanan. Ingat, perubahan susunan dan aura berubah tidak selalu berarti negatif.

Jerman diberkahi Tuhan dengan lahirnya beberapa kiper kelas elite. Ketika Neuer cedera dan terancam tidak dibawa ke Piala Dunia 2018, Jerman masih punya Marc-Andre Ter Stegen, kiper Barcelona. Di belakang Ter Stegen, Jerman masih punya Bernd Leno, kiper dari Bayer Leverkusen. Keduanya masih muda, dengan potensi yang masih bisa meledak di kemudian hari.

Ter Stegen adalah kunci lini pertahanan Barcelona musim ini. Bersama Samuel Umtiti, keduanya menjadi tembok kokoh, melengkapi lini pertahanan Barcelona yang sebelum musim ini tidak terlalu tangguh. Sementara itu, Leno adalah salah satu kiper muda paling potensial Jerman saat ini. Konsistensi dan kepercayaan diri membuatnya menjadi pilihan bijak untuk kiper kedua timnas Jerman.

Bergeser ke sisi kanan, tepatnya bek kanan, Jerman juga boleh dikata beruntung ketika langsung menemukan suksesor Philppe Lahm, seorang pesepak bola yang disebut paling jenius oleh Pep Guardiola. Perubahan posisi Joshua Kimmich memberinya berkah. Tak hanya menjadi pilihan utama untuk Bayern Munchen, Kimmich menjadi langganan timnas Jerman untuk pos bek kanan.

Sama seperti pendahulunya, Kimmich juga sosok pesepak bola cerdas. Dan di Rusia nanti, setelah bermain konsisten selama dua musim, potensi Kimmcih sudah akan semakin matang.

Untuk lini tengah, siapa pun pelatih Jerman, pasti akan langsung bersujud syukur karena diberkahi komposisi pemain berkaliber besar. Meskipun sembari pusing karena akan bingung memilih skuat utama.

Pilihan utama Joachim Löw adalah Toni Kroos dan Ilkay Gündogan. Di belakang mereka, berderet nama-nama luar biasa seperti Emre Can, Julian Weigl, Sami Khedira, hingga Leon Goretzka. Jika Gündogan tidak dalam keadaan fit, Khedira adalah pilihan pertama. Duet Kroos dan Khedira, ditambah Bastian Schweinsteiger, adalah tiga pemain kunci yang membawa Jerman menjadi juara Piala Dunia 2014.

Untuk gelandang serang dan ujung tombak, komposisi Jerman adalah perpaduan kecepatan, kecerdasan, dan efektivitas. Mesut Özil masih menjadi pemegang alur serangan Jerman, didukung Leroy Sane dan Thomas Muller. Sebagai pengganti Miroslav Klose, generasi baru Jerman dalam diri Timo Werner bisa memberi kejutan.

Kekalahan dari Brasil di laga uji tanding dengan skor 0-1 tidak berarti banyak. Mengapa? Karena Jerman adalah “tim kompetisi”, yang panas di fase-fase penting. Inilah salah satu alasan julukan Tim Panser disematkan kepada timnas Jerman.

Baca juga:  Siap-Siap Nggak Bisa Nonton Barcelona Lagi di La Liga

Brasil

Berkaca dari performa mereka ketika babak penyisihan dan beberapa uji tanding, Brasil punya potensi membalas dendam kepada Jerman. Pada gelaran Piala Dunia yang lalu, sebagai tuan rumah, Brasil dibantai Jerman dengan skor 1-7. Salah satu kekalahan memalukan di sepanjang sejarah Piala Dunia.

Di bawah asuhan Tite, Brasil berbenah. Pelatih yang juga berdarah Brasil tersebut membuat dua perubahan krusial. Pertama, mengubah suasana tim menjadi lebih terasa seperti keluarga. Kedua, menjadikan Brasil lebih efektif.

Tite punya cara unik untuk membuat para pemainnya menjadi “lebih bertanggung jawab”, yaitu dengan memberi mereka ban kapten. Jadi, kapten Brasil bisa berbeda-beda dari satu pertandingan ke pertandingan yang lain. Tak melulu Thiago Silva atau Neymar saja.

Kebijakan ini sempat dikritik karena dianggap meniadakan unsur kepemimpinan di dalam tim. Namun, eksperimen nyeleneh Tite terbukti tepat sasaran. Pemain-pemain Brasil menjadi lebih disiplin. Aroma joga bonito, keindahan dalam sepak bola ala Brasil tetap ada, namun dalam kadar yang wajar. Tidak berlebihan.

Aura kekeluargaan yang ditularkan Tite pun sangat terasa. Pembaca masih ingat ketika Neymar sampai menangis di depan jurnalis ketika Tite membela dirinya? Saat itu, hubungan Neymar dengan pelatihnya di Paris Saint-German, Unai Emery, diberitakan tengah memburuk. Tite membela Neymar dari segala kritikan. Pembelaan yang membuat hati Neymar tersentuh.

Tangis Neymar sebagai respons Tite adalah respons seorang prajurit kepada jenderalnya yang sudah berkorban pasang badan. Kebaikan yang menular kepada tim. Jika sudah begini, para prajurit tentu akan dengan senang hati bertarung mati-matian di palagan Piala Dunia. Tim yang solid dari hati, akan menjadi ancama bagi semua negara.

Spanyol

Sejak berhasil menjadi juara Piala Eropa dan Piala Dunia berturut-turut, tak hanya menyandang status unggulan, Spanyol dianggal sudah siap menjadi juara. Namun memang, tak semua ekspektasi tersebut akhirnya terbukti.

Saat ini, mungkin hanya Spanyol yang kedalam skuatnya bisa mengimbangi timnas Jerman. Jika berbicara kedalaman skuat, tentu kita berbicara kualitas yang tersedia di luar 11 pemain inti dan seberapa bagus mereka beradaptasi di tengah pertandingan.

Lini pertahanan Spanyol akan diisi pemain-pemain yang hampir selalu tampil di fase-fase akhir kompetisi antar-klub Eropa, baik semifinal maupun final. Dari David De Gea, Jordi Alba, Dani Carvajal, Sergio Ramos, dan Gerard Pique, semuanya terbiasa tampil di pertandingan dengan intensitas sangat tinggi.

Lini pertahanan menjadi isu terbesar Spanyol di dua kompetisi terakhir, Piala Dunia 2014 dan Piala Eropa 2016. Spanyol dibantai Belanda dengan skor 1-5 di Piala Dunia 2014 dan menyerah 0-2 dari Italia di Piala Eropa 2016. Beruntung, dua tim yang mengalahkan Spanyol di dua kompetisi terakhir mau berbesar hati menemani Indonesia untuk menyaksikan Piala Dunia lewat layar kaca.

Spanyol harus waspada dengan tim-tim dengan serangan balik tajam. Ingat, untuk kompetisi berdurasi pendek, tidak kebobolan sudah separuh langkah untuk memetik kemenangan. Nah, terbiasa bermain di tengah pertandingan dengan intensitas tinggi akan menguntungkan lini belakang Spanyol.

Untuk lini tengah dan depan, muka-muka lama masih akan mendominasi. Kunci timnas Spanyol akan berada di kaki Sergio Busquets, David Silva, dan Andres Iniesta. Perkembangan David Silva di bawah asuhan Guardiola sangat masif. Mantan pemain Valencia tersebut mampu beradaptasi dengan baik ketika bermain lebih ke dalam. Perubahan yang menguntungkan Spanyol. Busquets dan Iniesta butuh penyeimbang.

Baca juga:  Habis Jonatan Terbitlah Anthony Ginting Si Jago Net Tipis-tipis China Open

Untuk lini depan, armada dari Real Madrid bisa dipercaya. Mulai dari Lucas Vasquez, Isco, dan Marco Asensio. Catatan khusus diberikan kepada Isco yang performanya tengah menurun. Namun jangan khawatir, Spanyol masih punya Thiago Alcantara yang sudah terbiasa bermain lebih ke depan di bawah asuhan Jupp Heynckes di Bayern Munchen. Kualitas yang merata.

Kemenangan dari Argentina dengan skor 6-1 menggambarkan kualitas tersebut.

Prancis

Tim Ayam Jantan Prancis sudah lebih matang di persiapan menjelang Piala Dunia. Kegagalan menjadi juara Piala Eropa 2016 nampaknya menjadi pelajaran yang berharga. Meskipun punya bahan-bahan yang segar dan bagus, timnas Prancis masih membutuhkan satu bumbu lagi yang disebut sebagai mental.

Dari sisi komposisi pemain, kekuatan terbesar Prancis adalah lini tengah, yang diisi N’Golo Kante dan Paul Pogba. Didier Deschamps membuat kesalahan ketika memainkan Pogba terlalu dalam di gelaran Piala Eropa yang lalu. Oleh sebab itu, mempertimbangkan performa Adrien Rabiot (gelandang sentral) yang tengah menanjak, akan lebih bijaksana jika Pogba didorong lebih ke depan (gelandang serang).

Jangan sampai Deschamps mengikuti Jose Mouriho “yang begitulah” yang dengan keras kepala masih menempatkan Pogba terlalu dalam di beberapa pertandingan. Mengapa Pogba harus didorong ke depan? Karena hanya Pogba yang mampu menghidupkan potensi Antoine Griezmann. Performa kedua pemain akan saling berhubungan. Kunci bagi timnas Prancis.

Nah, selain lini tengah, di Piala Dunia nanti, lini depan Prancis juga akan lebih menakutkan. Matangnya Kylian Mbappe, Ousmane Dembele yang kembali ke kebugaran terbaik, dan Nabil Fekir yang matang bersama Lyon bisa dimaksimalkan. Dengan Olivier Giroud atau Karim Benzema sebagai ujung tombak, lini depan Prancis sangat komplet.

Argentina

Jujur saja, memasukkan nama Argentina ke dalam daftar tim yang paling berpeluang menjadi juara di Piala Dunia ini cukup berat. Mengapa?

Jika belum selesai dengan masalah “Apakah Messi bisa membawa Argentina juara?”, timnas yang kini dilatih Jorge Sampaoli ini akan sulit menjadi juara. Lionel Messi adalah salah satu pemain terbaik. Magis di kakinya tidak terbantahkan. Namun, untuk menjadi juara, sebuah tim tak hanya butuh satu pemain ajaib, namun kesatuan, seperti yang ditunjukkan Jerman atau Brasil saat ini.

Pun, di bawah asuhan Sampaoli, Argentina belum punya pijakan yang pasti. Pengalaman sampai di babak final di Piala Dunia 2014 harus menjadi bekal. Kekalahan yang harus diingat Argentina. Kenapa? Karena meski kalah, Argentina menunjukkan bahwa mereka punya potensi.

Komposisi dan kedalaman skuat Argentina tidak jauh berbeda dengan skuat Piala Dunia 2014, yaitu masih condong kuat di lini depan, namun tidak merata di lini lain.

Lini depan Argentina diisi Messi, Sergio Aguero, Paolo Dybala, dan Mauro Icardi. Memilih pendamping Messi akan cukup pelik karena baik Aguero, Dybala, dan Icardi tengah dalam performa apik. Kedekatan antara Messi dan Aguero akan menjadi bahan pertimbangan terbesar.

Kunci bagi Argentina adalah kesatuan. Jangan biarkan Messi bekerja sendirian, menyeret kaki Argentina untuk melaju sejauh mungkin. Membagi beban adalah keharusan. Jika berhasil, Rusia akan berwarna biru langit.

Jika gagal, nasib Argentina tidak akan jauh berbeda dengan ketika mereka dipermalukan Spanyol dengan skor 1-6 dalam uji tanding.



Loading...



No more articles