Masa Depan Manchester United Ditentukan oleh Hubungan Mourinho-Pogba

MOJOK.CO Jose Mourinho boleh keras kepala. Namun, nasib dapurnya bersama Manchester United bisa jadi ada di kaki Paul Pogba.

Hubungan pemain dan pelatih memegang peranan sangat penting bagi keberhasilan sebuah klub mencapai misi yang sudah ditentukan di awal musim. Hubungan yang terjalin apik sangat membantu klub mempertahankan performa terbaik. Ketika hubungan memburuk, masa depan klub yang dipertaruhkan.

Namun, ada kalanya hubungan yang tidak begitu sehat antara pelatih dan pemain tidak menjadi masalah bagi sebuah klub. Ambil contoh Roy Keane dan Sir Alex Ferguson ketika keduanya masih membela Manchester United. Keane menjabat sebagai kapten tim dan menjadi poros mental skuat United kala itu.

Kedua sosok ini merupakan elemen penting untuk kesuksesan Setan Merah di semua ajang yang mereka ikuti. Keane pernah menyerang Sir Alex dengan kalimat, “Sir Alex tak tahu makna kesetiaan.” Kalimat tersebut dilontarkan Keane setelah Sir Alex merilis autobiografinya yang berjudul Alex Ferguson: My Autobiography pada tahun 2013.


Sir Alex juga punya hubungan yang “panas dan dingin” dengan David Beckham dan Ruud van Nistelrooy. Namun, meski hubungan Sir Alex dengan para mantan pemainnya tak begitu akur, di atas lapangan, mereka menjadi satu kesatuan untuk United. Sebuah kunci yang mengantar United mendominasi Liga Primer Inggris kala itu.

Situasi yang sama terulang di tubuh Manchester United. Kali ini, aktor yang terlibat adalah Jose Mourinho dan Paul Pogba. Pelatih dan pemain. Dua sosok kunci.

Baca juga:  Hasil Piala Dunia 2018 Portugal vs Maroko Skor 1-0

Ada selentingan kabar tak mengenakkan ketika pembelian Pogba tak pernah mendapat restu dari Mourinho. Dari kabar tersebut, situasi yang tidak nyaman berlanjut. Pogba, yang sempat menjadi pemain termahal di dunia, tidak bermain sedahsyat ketika masih memperkuat Juventus. Tudingan negatif langsung ditujukan kepada Mourinho.

Pelatih asal Portugal tersebut dipandang tak mampu menemukan peran dan posisi yang paling ideal untuk Pogba. Mourinho banyak memainkan Pogba sebagai gelandang sentral, dengan peran deep playmaker. Mourinho juga ingin Pogba terlibat lebih banyak dalam aksi bertahan Manchester United sepanjang laga.

Yang namanya niat tidak pernah salah sebelum ia dieksekusi. Pogba terbukti bukan pemain yang cocok untuk bermain di posisi dan dengan peran tersebut. Pemain asal Prancis ini akan jauh lebih berfungsi dan efektif ketika bermain lebih dekat dengan kotak penalti. Dasarnya punya ego yang tebal, Mourinho seperti enggan merevisi niatnya tersebut.

Untuk beberapa pertandingan, Mourinho teguh dengan kepalanya yang keras. Namun di pertandingan lain, mantan pelatih FC Porto tersebut mau memainkan Pogba lebih ke depan, lebih dekat dengan penyerang. Pogba sendiri pernah mengutarakan kepada jurnalis bahwa posisi idealnya adalah gelandang menyerang sebelah kiri dalam skema tiga gelandang.

Pogba memang memberi bukti bahwa ia tak hanya sekadar berucap semata. Ia bermain lebih tajam dan efektif ketika didorong ke depan. Kemenangan atas Manchester City dan Bournemouth menjadi ladang pembuktian. Bahkan, ketika Manchester United mengalahkan Bournemouth, Pogba terpilih sebagai pemain terbaik untuk pertandingan tersebut.

Baca juga:  Manchester United dan Arsenal Mengakhir Bulan Madu dengan Ighalo dan Ceballos?

Ketika menghadapi Bournemouth, Pogba bermain lebih dekat dengan trio di lini depan yang diisi Marcus Rashford, Anthony Martial, dan Jesse Lingard. Cara bermain United menjadi lebih cair. Kewaspadaan Pogba mencapai puncaknya ketika ia mendapatkan kebebasan untuk mengalirkan bola. Bukan dari tengah lapangan, namun sekali lagi, dekat dengan kotak penalti.

Terbukti, Pogba bisa langsung menyesuaikan diri dengan perubahan yang dilakukan Mourinho. Kala itu, Mourinho mencadangkan Alexis Sanchez dan Romelu Lukaku. Skema dasar di atas lapangan yang digunakan juga berubah, dari 4-2-3-1 menjadi lebih mirip 4-3-3. Jika Pogba tak punya lingkar otak yang luas, tentu akan kesulitan untuk langsung menyesuaikan diri ketika skema berubah.

Selepas laga, Mourinho menyoroti timnya yang tidak bisa konsisten musim ini. Mourinho memberi penekanan bahwa United hampir tidak pernah kehilangan poin ketika melawan tim di lima besar klasemen. United kalah, lalu menang ketika melawan Manchester City, Tottenham Hotspur, dan Chelsea. Imbang dan menang ketika berhadapan dengan Liverpool. Namun kalah ketika melawan Newcastle United dan Huddersfield, atau beberapa tim yang berkutan di jurang degradasi.

Berdasarkan catatan pertandingan, pendapat Mourinho memang benar adanya. Namun, ketika United menang di beberapa pertandingan terakhir, Pogba selalu bermain lebih ke depan. Oleh sebab itu, sudah waktunya Mourinho membuang sifat keras kepala dan mengakomodasi Pogba dengan lingkungan terbaik di atas lapangan.

Baca juga:  Sekularisme Prancis dan Kegagapan Kita Mengelola Ketersinggungan

Ketika Pogba bisa mencapai level permainan terbaik, toh Manchester United juga yang memetik keuntungan. Ketika United menang, kursi Mourinho tentu akan terasa lebih sejuk. Jika sudah begitu, masa depan Mourinho bersama Manchester United adalah, salah satunya, bergantung kepada Paul Pogba, si penyuka salon itu.

Bagaimana, Mourinho? Masih mau keras kepala? Dapurmu bisa terus mengebul itu bergantung kepada Pogba. Ngeyel? Saduk sisan!