MOJOK.COJika Liverpool mau memborong “barang berkualitas” dari toserba bernama Manchester City, sudah pasti mereka semakin kuat. Dominasi sudah di depan mata.

Salah satu halangan yang mengganggu konsentrasi sebuah klub ketika berkompetisi adalah masalah non-teknis. Saking besar skalanya, masalah non-teknis bisa membuat sebuah tim tercecer dari pacuan juara. Masalah non-teknis juga yang membuat perbedaan kualitas sebuah tim semakin kontras.

Untuk Liga Inggris, sebagai pembanding, tentu kita akan melihat performa Liverpool sejauh ini. Setelah melewati 26 laga, Liverpool mencatatkan 25 kemenangan, satu hasil imbang, dan nol kekalahan. Kalau menghitung di atas kertas saja, The Reds cuma butuh 15 poin untuk menyegel gelar juara Liga Inggris.

Mempertimbangkan performa mereka di atas lapangan dan kondisi skuat di balik layar, target 15 poin bisa digapai dengan mudah. Itu kalau hitung-hitungan di atas kertas saja. Kita tahu, yang pasti di sepak bola adalah ketidakpastian itu sendiri. Liverpool masih akan juara, tetapi mereka mungkin tidak bisa mencapai rekor tidak terkalahkan Arsenal. Siapa yang tahu, bukan?

Melihat Liverpool begitu nyaman, melihat 22 poin selisih antara peringkat satu dan dua, aman untuk dikatakan kalau Liga Inggris sedikit kehilangan gregetnya. Seperti Serie A selama beberapa tahun terakhir, melihat satu tim begitu dominan tentu tidak begitu menyenangkan. Meskipun dari perspektif mereka yang dominan, keadaan ini begitu membahagiakan.

Kita juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Liverpool atas dominasi mereka. Saya menyebut mereka sebagai “tim yang bersih”. Bukan soal di atas lapangan, tetapi ketika menilai kinerja manajemen, hubungan antar-manusia yang bertemu sehari-hari, dan hubungan antara klub dan suporter itu sendiri. Mereka, untuk saat ini, sudah selesai dengan masalah non-teknis.

Toserba bernama Manchester City

Akhir minggu yang lalu kita dikejutkan–sebuah kabar yang menyenangkan–bahwa Manchester City kena hukuman tidak boleh berkompetisi di Liga Champions. Bukan sekali, tetapi dua kali. Intinya, mereka terbukti melanggar Financial Fair Play (FFP) sejak 2011. Saat ini, Manchester City juga sedang menunggu kabar pahit satu lagi: mereka terancam kena hukuman pengurangan poin di Liga Inggris.

Baca juga:  Lima Klub Sepak Bola yang Suporternya Selalu Menyebalkan

Sudah tertinggal 22 poin, masalah FFP datang. Masalah ini seperti datang di saat yang tidak tepat. Namun, bagi kamu yang curang, tidak ada saat yang tepat untuk kena hukuman selain sekarang juga. Manchester City masih akan melakukan banding. Namun, kita tahu, secara psikologis, ada torehan di benak pemain dan para SDM yang ada di klub itu.

Seorang jurnalis bernama Bolarinwa Olajide menyampaikan sebuah kabar yang pahit untuk Manchester City, menyenangkan untuk para rival, termasuk Liverpool. Bolarinwa menyampaikan ulang informasi dari John Mehrzad, seorang pengacara spesialis dunia olahraga. John bilang, para pemain Manchester City bisa hengkang secara gratis karena klub sudah melanggar kontrak para pemain dengan melakukan kecurangan keuangan.

Gayung bersambut, beberapa saat setelah itu, Bernardo Silva mengungkapkan keinginannya untuk mudik ke Benfica. Apapun alasan yang dikemukakan Bernardo Silva, orang pasti akan manggut-manggut curiga. Orang-orang pasti punya kesimpulan sendiri kalau Bernardo ingin hengkang karena masalah Manchester City.

Saya juga meyakini, di dalam benak pemain, pikiran untuk pindah pasti ada.Tertarik gabung Liverpool? WQWQWQ….

Oleh sebab itu, Manchester City seakan-akan menjadi sebuah etalase toko serba ada atau toserba. Klub akan melirik ke etalase toserba bernama Manchester City. Melihat dan memilih “siapa” yang kayaknya cocok untuk dibeli.

Namun, beberapa klub hanya akan window shopping saja. Semacam cuci mata di toko online cuma bisa add to cart tapi nggak mampu check out. Meski bisa dibeli secara gratis, gaji para pemain Manchester City tidak bisa digapai oleh sembarangan klub. Tapi bukan itu yang ingin saya tekankan saat ini.

Saya ingin berandai-andai. Jika Court of Arbitration for Sport (CAS) mengukuhkan hukuman Manchester City, apa yang akan terjadi bagi toserba ini dalam dua atau tiga tahun ke depan? Bisa jadi, para pemain elite mereka akan hijrah ke Liverpool.

Baca juga:  5 Alasan Mengapa Pep Guardiola Selalu Bisa Mendominasi Liga

Juara tahun ini membuat Liverpool punya dua keuntungan. Pertama, mereka punya daya tawar yang tinggi bagi banyak pemain kelas elite. Tentu saja, mereka juga mampu menggaji beberapa pemain bintang Manchester City. Kedua, kestabilan tim, termasuk minimnya masalah non-teknis, membuat pemain akan merasa nyaman untuk bekerja.

Liverpool dihubungkan dengan banyak nama winger modern nan bagus di Eropa. Mulai dari Jadon Sancho, Quincy Promes, hingga Timo Werner. Ketiga pemain itu punya price tag yang lumayan. Bagaimana jika manajemen Liverpool bekerja secara cerdik untuk memulangkan Raheem Sterling? Atau mungkin, Jurgen Klopp bisa membujuk Leroy Sane dan Ryad Mahrez untuk pindah ke Anfield?

Masalah Liverpool di sisi lapangan akan tuntas dengan cepat dan murah. Mereka juga punya daya tawar untuk mendapatkan John Stones atau Aymeric Laporte. Kita tahu, untuk musim depan, setidaknya Liverpool membeli satu bek tengah. Liverpool bisa mendapatkannya lewat toserba bernama Manchester City.

Pemain sepak bola adalah manusia yang mentalnya rentan terluka. Baik karena ledekan fans ketika bermain jelek. Bisa juga ketika klub yang mengikatnya dengan kontrak malah berbuat jahat. Tidak ada rasa damai di klub seperti itu. Makanya, ide untuk menurunkan Manchester City ke Divisi Championship ramai terdengar. Kejahatan seperti itu pantas diganjar dengan degradasi, bukan pengurangan pion saja.

Jika Liverpool mau memborong “barang berkualitas” dari toserba Manchester City, sudah pasti mereka semakin kuat. Melihat kinerja manajemen para rival, saya tidak kaget kalau dominasi Liverpool akan mirip seperti dominasi Juventus di Serie A.

BACA JUGA Liverpool Semakin Sulit Dikalahkan dan Pencarian Akan Sebuah Penanda Zaman atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.