Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Balbalan

Mendukung Klaim Steven Gerrard Bahwa Mohamed Salah Adalah Pemain Afrika Terbaik di Liga Primer Inggris

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
18 Maret 2018
A A
Liverpool-Salah-MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

[MOJOK.CO] “Steven Gerrard memandang Mohamed Salah sebagai pemain terbaik Afrika yang pernah berkarier di Liga Primer Inggris. Benarkah demikian?

Sempat terjadi pedebatan yang cukup panas ketika legenda Liverpool, Steven Gerrard, mengklaim bahwa Mohamed Salah adalah pemain terbaik dari Afrika yang pernah bermain di Liga Primer Inggris.

Iklan

Pendapat Gerrard diserang banyak pihak, dari fans hingga pundit. Gerrard dianggap seperti sengaja melupakan nama-nama besar dari Afrika lainnya yang pernah mencari nafkah di liga paling mewah di dunia. Mulai dari Jay-Jay Okocha, Michael Essien, hingga Didier Drogba. Gerrard juga dipandang memuji Salah hanya karena mereka sama-sama “berdarah Liverpool”.

Apakah Gerrard memuji hanya karena Salah pemain Liverpool? Tulisan ini berusaha mendukung klaim pendapat Gerrard tersebut. Bagi Mojok Institute, Mohamed Salah memang pemain terbaik Afrika yang berkarier di Inggris. Inilah tiga alasan yang mendukung klaim tersebut.

1. Beda zaman, beda kesulitan

Nama-nama seperti Okocha, Essien, hingga Drogba hidup di masa lalu. Secara pribadi, ketiga pemain tersebut memang hebat. Namun sekali lagi, ketika mereka hidup pada masanya.

Okocha sendiri berhasil membawa Bolton Wanderers duduk di posisi ke-6 Liga Primer Inggris pada musim 2004/2005. Sementara itu, Essien dan Drogba menjadi juara bersama uang minyak Chelsea.

Namun, semuanya itu terjadi ketika Liga Primer Inggris dihuni Portsmouth dan Southampton yang tiga kali mengganti pelatih dalam satu musim, lalu Manchester City, tanpa uang dari Qatar, masih tim medioker, dan Tottenham Hotspur adalah penghuni tetap papan tengah ke bawah.

Dengan peta persaingan yang masih berkutat di Arsenal dan Manchester United (ditambah Chelsea yang selamat dari kebangkrutan berkat duit Abramovich), maka masuk akal jika pemain-pemain dengan superioritas individu seperti Okocha dan dikelilingi skuat mahal seperti Essien dan Drogba, bisa selalu maksimal.

Situasi berbeda saat ini. Persaingan lebih merata dan lebih banyak klub yang terlibat dalam pacuan menuju gelar juara. Jika pada musim 2004/2005 hanya tiga klub yang saling sikut, musm 2017/2018, ada tujuh tim dengan masing-masing kekuatan sudah mengalami upgrade. Mereka adalah Manchester City, Tottenham Hotspur, dan Liverpool yang melengkapi trio Arsenal, Manchester United, dan Chelsea.

Pun, di bawah enam tim tersebut, masih ada Everton, Burnley, Leicester City, Bournemouth, Watfrod, Brihton, dan Newcastle United, yang selalu merepotkan tim enam besar setiap minggunya. Intinya, selain City, tim enam besar lainnya tidak dapat dengan mudah mengalahkan tim-tim papan tengah. Persaingan sudah begitu ketat.

Dan di tengah persaingan yang semakin ganas inilah Mohamed Salah berhasil mendobrak. Pemain asal Mesir tersebut sudah mengumpulkan 28 gol dan tengah menyandang status sebagai pencetak gol terbanyak. Salah hanya butuh 2 gol lagi untuk masuk ke dalam “daftar suci”, para pencetak 30 gol dalam satu musim yang dihuni Thierry Henry, Luis Suarez, dan Robin van Persie.

Satu yang perlu diberi garis bawah tebal: Mohamed Salah bukan penyerang murni. Namun, ia menjadi pemain paling tajam saat ini. Dan inilah yang menjadi alasan nomor 2.

2. Adaptasi kemampuan dan perkembangan signifikan Mohamed Salah

Ketika masih bermain untuk Basel, Salah adalah pemain sayap yang “terlalu bahagia” ketika ia menguasai bola. Teknik menggiring bolanya memang luar biasa, selayaknya pemain sayap stylish lainnya.

Ketika disia-siakan Chelsea untuk berlabuh ke Fiorentina lalu AS Roma, Salah bekerja begitu keras untuk meningkatkan levelnya. Terutama ketika berseragam Fiorentin dan Roma, Salah berubah menjadi pemain yang betul-betul berbeda. Ia tak hanya punya teknik menggiring kelas elite. Salah melengkapi dirinya dengan kemampuan-kemampuan lain, yang membuatnya menjadi seorang outlet.

Iklan

Istilah outlet, biasanya, disematkan kepada pemain yang mengemban minimial dua peran, yaitu kreator serangan dan penyedia peluang. Istilah ini berbeda dengan playmaker. Playmaker lebih banyak menggunakan visi dan kemampuan umpan (membangun sebuah fase serangan di sepertiga akhir). Sementara itu, outlet hidup di dalam bangunan tim, bisa juga di dalam rencana kerja seorang playmaker.

Contohnya begini: Leandro Parades adalah playmaker Roma yang beroperasi dari wilayah dalam (dekat gelandang bertahan atau bek tengah). Paredes mengatur tempo dan arah serangan Roma. Ketika hampir mencapai sepertiga akhir lapangan, Paredes memberikan bola ke depan kotak penalti (pre-asis).

Salah, yang sebelumnya bergerak dari sisi kanan luar menuju ke tengah, menerima umpan vertikal dari Paredes. Nah, di depan kotak penalti ini, Salah bisa langsung mendistribusikan bola ke dalam kotak penalti menggunakan umpan satu sentuhan, atau menahan bola untuk memancing bek tengah lawan keluar dari wilayah dan Edin Dzeko (striker Roma) bebas dari kawalan.

Setiap keputusan yang diambil Salah berbuah gol. Artinya, Salah membuat satu asis. Pun bisa jadi juga, Salah berkreasi sendiri. Ia melepas tembakan dari jarak jauh atau menerobos ke dalam kotak penalti menggunakan kelebihannya yang lain, yaitu teknik giringan. Komplet.

Inilah yang disebut outlet, pemain komplet. Untuk menjadi seorang outlet yang baik, Salah harus meningkatkan kewaspadaannya akan perubahan situasi, merekam pergerakan semua pemain dengan baik, dan mengasah kemampuan mengambil keputusan.

Teknik mengumpan dan menendang bisa dipelajari selama satu bulan secara intensif. Namun, tiga kemampuan di paragraf sebelumnya, tak hanya butuh latihan intensif untuk menyempurnakannya. Seorang pemain juga perlu tingkat intelejensia dan determinasi yang tinggi.

Apakah Evolusi Salah berhenti sampai di situ? Belum!

Salah menjadi pemain yang lebih komplet ketika bergabung ke Liverpool. Tak hanya seorang outlet, Salah juga menjelma menjadi eksekutor peluang yang begitu efektif. Mungkin, selain Neymar dan Cristiano Ronaldo, pemain lain yang mendekati level dewa Lionel Messi adalah Mohamed Salah.

Pendapat ini berpotensi memancing perdebatan yang lebih brutal lantaran Messi adalah topik yang sensitif. Namun, jika ingin membicarakan yang terbaik, standar paling baik untuk mengukur adalah kualitas Messi.

3. Bermain untuk Liverpool

Apakah Salah menjadi pemain terbaik karena bermain untuk Liverpool? Tentu saja.

Bermain untuk Liverpool dibutuhkan mental yang tebal supaya terbiasa untuk “hampir menjadi juara” setiap musimnya. Bermain untuk Bolton mungkin lebih ringan karena tingkat ekspektasi yang tidak setinggi ketika Salah bermain untuk Liverpool.

Pun, bermain untuk Chelsea, biasanya, Anda akan dikelilingi pemain-pemain berkualitas dan mahal.

Situasi yang berbeda terjadi di Liverpool, di mana terlalu banyak pemain yang bermental sebagai penghibur semata. Ya tidak jauh berbeda seperti Arsenal. Atau Steven Gerrrad yang lompat indah di pertandingan paling penting dalam satu musim.

Gerrard sudah sangat betul ketika mengatakan bahwa Salah adalah pemain terbaik dari Afrika. Sebuah pernyataan yang sebenarnya curahan hati bahwa mereka (akan) bernasib sama: yaitu hobi gagal juara Liga Primer Inggris. Butuh mental untuk menyandang status mulia tersebut. Manchester City dan David Silva belum tentu bisa. Berat. Biar Liverpool saja.

Terakhir diperbarui pada 18 Maret 2018 oleh

Tags: AfrikaArsenalchelseaDidier DrogbaInggrisLiga Primer InggrisLiverpoolMachester UnitedManchester CityMichael EssienMohamed SalahSteven Gerrard
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Harry Maguire Bek Dungu Manchester United Anti Bullying MOJOK.CO
Esai

Harry Maguire, Bek Dungu Milik Manchester United yang Mengajari Kita Makna Ketahanan Mental dan Cara Melawan Bullying

20 Oktober 2025
Untung Mohamed Salah Nggak Jadi Buruh di Indonesia MOJOK.CO
Esai

Beda Nasib Mohamed Salah dan Pekerja di Indonesia saat Menyuarakan Hak: Menghasilkan Ketimpangan yang Dinormalisasi

6 Januari 2025
Mahasiswa asal Madura alumnus UNY di Univeristy of Bristol
Kilas

Mahasiswa Asal Madura di Inggris Cerita Beratnya Puasa 16 Jam Sambil Penelitian

16 April 2023
NGGAK MASUK AKAL! MU KALAH 7-0 DAN ALASAN KENAPA SEKOLAH HARUS JAM 5 PAGI!
Video

Nggak Masuk Akal! MU Kalah 7-0 dan Alasan Kenapa Sekolah Harus Jam 5 Pagi

8 Maret 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya MOJOK.CO

Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya

18 Juli 2026
sarjana, ijazah s1, pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO

Seporsi Kekalahan Sarjana di Sleman: Susah Payah Dapat Ijazah S1, Ujung-ujungnya Kerja Setara Lulusan SMA karena Tak Punya Pilihan

20 Juli 2026
Pom mini warung madura kini jadi solusi di tengah antrean panjang SPBU yang tidak masuk akal MOJOK.CO

Strategi Hindari Antrean SPBU Tak Efektif Lagi, Isi Bensin di Pom Mini Warung Madura Jadi Solusi Asal Tak Pakai Logika Takaran

18 Juli 2026
Anak miskin di Yogyakarta masuk Sekolah Rakyat. MOJOK.CO

Saat Kemiskinan Memaksa Anak Lebih Dewasa sebelum Waktunya, Sekolah Rakyat Jadi Pilihan Satu-satunya

20 Juli 2026
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO

Standard Ganda: Orang Kota Sok Lebih Berkelas, Padahal di Mata Orang Desa Sama Noraknya

21 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kerja sama dengan Australia. MOJOK.CO

Satu Dekade Jogja dengan Melbourne Symphony Orchestra: Bukti Orkestra Nggak Melulu Kaku bahkan Bisa Dinikmati Sambil Lesehan

15 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.