Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Video

Petani Kopi Muda dari Lereng Muria: Narko dan Pilihan untuk Tetap di Desa

Redaksi oleh Redaksi
13 November 2025
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Belum banyak kawula muda yang berminat terhadap dunia pertanian karena dianggap kuno dan tak menjanjikan. Namun di Rahtawu ada seorang pemuda yang memilih untuk tidak bekerja di luar negeri dan justru sukses dari bertani. Dia adalah Narko. Seorang lelaki asal kampung Rahtawu, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Di usia yang muda, Narko sukses mewujudkan cita-citanya dari hasil bertani kopi.

Dulu Ingin Merantau, Kini Menanam Harapan

Berbincang dengan Mojok, Narko menceritakan kisahnya. Dulu ia sempat ingin bekerja di luar negeri, namun setelah mendengar cerita pengalaman teman-temanya yang pernah pergi ke luar negeri ia mengurungkan niatnya karena pada kenyataannya biaya hidup di sana lebih mahal dibandingkan pendapatan.

“ dengan saya membandingkan cerita dengan teman-teman yang sudah pernah ke sana itu hidupnya itu lebih gimana ya. Urip e luwih ngenes daripada urip ning omah” ucap Narko.

Ia kemudian memilih bertahan di Rahtawu. Sejak kecil ia bekerja di kebun hingga beternak. Awalnya ia menanam jagung, tapi sering gagal karena diserang hama babi hutan dan monyet. Harga jagung pun tidak stabil. Dari situ ia memulai melirik tanaman kopi.

Belajar Menanam Kopi 

Awalnya Narko tidak tahu cara yang baik dalam menanam kopi dengan kualitas baik. Melihat hal itu, Narko kemudian belajar dari warga di desa Colo, salah satu daerah penghasil kopi

“ Dulu kita nyontoh dari kampung sebelah kan gitu ya. Kampung Colo karena di sana dia lebih duluan untuk proses tanaman kopi dan prosesnya itu pun sistem stek mas sambung pucukan” ujar Narko

Harpan Baru

Dari situ ia mulai menanam serius, meskipun hanya beberapa batang namun rata-rata hasilnya tetap bisa mencapai ton-an setiap musim panen.

Lambat laun kopi Rahtawu tak hanya tumbuh tapi juga memiliki dampak. Salah satu dampak yang paling terasa dari keberhasilan kopi ini adalah berkurangnya jumlah perantau dan peningkatan ekonomi.

“Dulu para petani menjual hasil panen ke pengepul luar desa, tapi sekarang sudah ada pengepul lokal sendiri. Dan dulu  sering perang harga mas. Sekarang enggak lagi karena sudah tahu harga pasaran”

Kini bagi warga Rahtawu, kopi bukan hanya sekedar tanaman, tapi simbol perubahan. Ia mengembalikan semangat desa, menanam laju urbanisasi dan membuka peluang hidup bagi bayak orang.

Tags: kalcesrokkopi rahtawukuduspetani kopi rahtawu

Terpopuler Sepekan

Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik MOJOK.CO

Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik

4 Februari 2026
Sriwijaya FC, Tim Bola “Mainan” Politisi yang Dikelola seperti Toko Kelontong, Tapi Saya Tak Malu Pernah “Dibaptis” Jadi Fansnya.MOJOK.CO

Sriwijaya FC, Tim Bola “Mainan” Politisi yang Dikelola seperti Toko Kelontong, Tapi Saya Tak Malu Pernah “Dibaptis” Jadi Fansnya

5 Februari 2026
Asriadi Cahyadi pemilik Dcell Jogja Store, toko musik analog. MOJOK.CO

Saat Musik Analog Bukan Lagi Barang Jadul yang Bikin Malu, tapi Pintu Menuju Kenangan Masa Lalu bagi Pemuda di Jogja

4 Februari 2026
Mahasiswa Muslim Kuliah di UKSW Salatiga: Kampus Kristen yang Nggak Perlu Ngomongin Toleransi MOJOK.CO

Mahasiswa Muslim Kuliah di UKSW Salatiga: Kampus Kristen Kok Nggak Ngomongin Toleransi

2 Februari 2026
tan malaka.MOJOK.CO

Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi

6 Februari 2026
Sarjana pegasuh anak, panti asuhan Muhammadiyah di Surabaya. MOJOK.CO

Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam

5 Februari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.