Ambarukmo mungkin hari ini lebih dikenal sebagai kawasan hotel, pusat belanja, dan tempat orang menghabiskan waktu. Namun, di balik ramainya kawasan tersebut, tersimpan sejarah panjang yang melewati berbagai zaman. Dari masa kerajaan, kolonial, hingga Indonesia modern, tempat ini terus mengalami perubahan fungsi dan wajah.
Hal itu menjadi pembahasan dalam diskusi peluncuran buku Ambarukmo, Jati Diri dan Kebanggaan Negeri di Pendopo Agung Kedaton Ambarukmo. Buku yang ditulis Sri Margono dan Mike Susanto tersebut mencoba menelusuri perjalanan kawasan ini dari masa kolonial hingga perkembangannya sebagai kawasan modern.
Sri Margono, yang merupakan sejarawan sekaligus salah satu penulis buku, bercerita bahwa Ambarukmo telah mengalami berbagai perubahan fungsi. Kawasan ini pernah menjadi kebun kerajaan, pesanggrahan, hingga kedaton tempat Sultan Hamengkubuwono VII tinggal. Perjalanan tersebut membuat tempat ini tidak hanya memiliki nilai sejarah bagi Yogyakarta, tetapi juga menyimpan bagian dari cerita perjalanan Indonesia.
Setelah Indonesia merdeka, kawasan tersebut kembali memasuki babak baru melalui pembangunan Hotel Ambarukmo. Hotel tersebut merupakan bagian dari gagasan pembangunan hotel pada masa Presiden Soekarno dan didanai pampasan perang Jepang. Kehadirannya menjadi bagian dari upaya membangun wajah Indonesia yang lebih modern pada masa awal republik.
Menariknya, sejarah kawasan ini ternyata tidak hanya soal bangunan dan politik. Hotel tersebut juga menyimpan banyak karya seni dari para seniman Yogyakarta dan Indonesia. Relief, patung, hingga berbagai karya seni di dalamnya menjadi semacam rekaman perjalanan Indonesia pada masa awal republik. Karena itu, tempat ini juga bisa dilihat sebagai ruang yang mempertemukan sejarah, seni, dan perkembangan zaman.
Dalam diskusi tersebut, Rendra Agusta kemudian menyoroti bagaimana Ambarukmo bisa terus bertahan di tengah perubahan zaman. Baginya, modernitas tidak harus membuat sebuah tempat kehilangan akarnya. Justru sejarah panjang itulah yang menjadi identitas kawasan ini sampai sekarang.
Pada akhirnya, obrolan tentang Ambarukmo bukan cuma soal masa lalu. Ia juga berbicara tentang bagaimana sebuah tempat bisa terus berubah tanpa harus melupakan dari mana ia berasal. Sebab, ketika zaman terus berganti, cerita dan identitas yang melekat pada sebuah tempat justru bisa menjadi hal yang membuatnya tetap berarti.










