[MOJOK.CO] “Dengan jadwal TV jadul, timeline masa kanak-kanak kita terangkai.”

Sebagai seorang pengangguran berkedok mahasiswa baru yang untuk pertama kalinya merasakan liburan dengan durasi hampir 2 bulan, menonton televisi adalah salah satu dari sedikit cara untuk membunuh waktu. Ketimbang menonton video TWICE di YouTube yang tentu saja menyedot banyak kuota, lebih baik saya memilih paket hemat dengan menonton televisi. Tahu sendirilah, liburan dan dompet punya hubungan yang berbanding terbalik. Tapi, siapa sih yang tak mau libur panjang?

Seandainya peristiwa liburan kuliah ini terjadi 10 atau 15 tahun lalu, saya tak perlu kenyang menikmati tontonan drama FTV di TV ikan dan mantan-TV7 yang rasanya sungguh hambar dengan akting biasa saja dan cerita yang bisa ditebak andai. Andaikan saya lahir lebih cepat dan sekarang sedang jadi mahasiswa di awal tahun 2000-an, di liburan ini yang saya nikmati sehari-hari bukanlah acaranya Uya Kuya atau FTV berjudul “Ketemu Jodoh di Kandang Sapi”, melainkan Saint Seiya dan Spontan yang digawangi Alfiansyah alias Komeng.

Klise ya? Kedengaran seperti keluhan kids jaman old?

Nyatanya, kebanyakan mereka yang mengkritik acara TV sekarang tidak menarik adalah mereka yang berusia akhir belasan hingga akhir 20-an, dari yang mahasiswa sampai yang sudah punya keturunan. Memang generasi mereka inilah (termasuk saya, yang sempat kebagian belakangan) yang paling merasakan betapa nikmatnya menonton TV 10 sampai 20 tahun yang lalu. Apalagi di Minggu pagi, hari libur disambut dengan maraton acara anak-anak di hampir seluruh stasiun televisi swasta.

Detective Conan, Inuyasha, serial Power Rangers, Ultraman Cosmos, si veteran Doraemon yang sampai sekarang kebetulan masih bertahan, dan masih banyak lagi. Saya bisa berbusa jika menyebutkan satu per satu semuanya. Di kursi di muka televisi, ada kenangan yang sulit untuk dilupakan.

Baca juga:  Jogja, Kuliner, dan Kenangan

Kalau bisa sih, pengin rasanya memaksa TV-TV nasional menyiarkan ulang acara-acara jadul mereka untuk membayar rindu yang mendidih. Tapi, siapa saya sampai bisa bayar Hary Tanoe untuk mengganti slot tayang Mars Perindo dengan Ninja Ranger? Kalau sudah begitu, cara paling mudah untuk nostalgia ya dengan menonton kartun atau anime di internet. Memang sedikit bisa mengobati rasa kangen, tapi tetap saja, kartun dengan dubbing bahasa Indonesia lebih menggema di hati.

Saya sendiri membayar kenangan masa kecil dengan cara berbeda, yakni dengan melihat jadwal acara TV jadul. Luangkanlah sedikit waktu untuk meluncur di mesin pencari, dengan kata kunci “jadwal tv dulu” atau “jadwal tv 90an dan 2000an”, Anda akan menemukan situs yang membagikan jadwal-jadwal televisi tahun ’90-an hingga awal milenium ketiga.

“Jadwal Indosiar 8 Januari 2005” membawa saya ke memori saat saya menangis gara-gara mati listrik yang membuat saya tidak bisa menonton Power Rangers Wild Force. Pun melalui “Jadwal SCTV 21 Maret 2006” saya terkenang sering bolos “sekolah Arab” demi bisa menyaksikan Samurai X dan Ultraman yang kebetulan tayang pukul 2 siang di saat seharusnya saya ngaji. Dan berkat “Jadwal TPI 5 Juli 2005”, saya jadi tahu nama seorang aktor yang acap memerankan karakter berjaket kulit dan berwatak jahat. Namanya Sutoro Margono atau lebih dikenal sebagai Torro Margens.

Tentu banyak memori lain dan kesenangan yang terkandung di dalamnya yang tiba-tiba muncul begitu saya ingat nama dan jam tayang sebuah program yang pernah saya tonton. Banyak juga ingatan yang sepertinya sudah tak bisa bangun saking dalamnya terkubur atau karena memang tidak penting untuk diingat apalagi dikenang.

Baca juga:  Menghadapi Kelakuan Menyebalkan Netizen di Bioskop

Saya tak tahu siapa manusia brengsek yang pertama kali mencetuskan ide untuk membuat sebuah blog yang khusus berisi jadwal TV jadul. Motivasinya apalagi. Bahkan blog mana yang merintis untuk memposting jadwal TV jadul pun saya tak bisa menemukan, sebab sudah banyak blog serupa bertebaran. Tetapi, pantaslah dia kalau mendapat ucapan terima kasih setinggi-tingginya atas usahanya mengarsipkan berbagai macam memori penuh cerita.

Barangkali saya boleh berprasangka bahwa motivasinya ya untuk melestarikan kenangannya sendiri. Dan pada suatu hari yang cerah ia terpikir untuk bisa merawat kenangan orang lain, bukan dalam bentuk buku atau gambar bergerak, tetapi sebuah blog. Hanya sebuah blog sederhana dan gratis untuk diakses maupun dibaca. Bertujuan agar semua orang bisa dengan mudah membayar rindu sekaligus merawat kenangan.

Ah, kalau dipikir-pikir saya tak perlu berharap lahir lebih cepat. Jika dilahirkan lebih dulu mungkin kenangan yang terukir akan berbeda. Barangkali saya tak bisa menikmati hal lain saat kecil. Tinggal nikmati saja bersama segala ingatan dan kesenangan yang abadi.

Waktu boleh terus melaju, teknologi boleh tak berhenti berkembang, status boleh naik dari siswa ke mahasiswa, majalah boleh berganti dari Bobo ke majalah kelinci yang lain, tontonan boleh berganti dari Yu-Gi-Oh ke MV TWICE, tapi tetap saja kenangan tak boleh fana dan harus terus dirawat.

Komentar
Add Friend
No more articles