Spot Foto Berbentuk Cinta Merajalela, Perlukah?

Destinasi wisata di Indonesia sangatlah beragam. Mulai dari puncak gunung sampai ke pantai dapat kita datangi untuk berwisata. Namun, ada satu hal yang membuat saya berfikir karena sering saya temukan di berbagai lokasi wisata. Yang saya maksud adalah spot foto berbentuk cinta.

Spot foto ini selalu mudah mencuri perhatian mata saat berada di suatu destinasi wisata karena bentuknya yang mencolok. Selain itu, spot cinta ini memiliki berbagai macam variasi, ada yang terbuat dari bambu, besi, ranting pohon, dan juga dari bahan bekas yang didaur ulang.

Sepertinya, hampir di semua destinasi wisata sudah ada spot foto cinta. Wisata danau, gunung, kebun teh, sawah, dan taman kota juga sering memiliki hal serupa. Sebenarnya, apakah perlu ada spot foto seperti ini?

Dari sisi pro, spot foto cinta yang sudah ada di banyak destinasi wisata bisa dikatakan mainstream, tapi anehnya masih saja menjadi primadona untuk berfoto-foto ria. Bahkan, ada beberapa tempat wisata yang menarik biaya tambahan hanya untuk berfoto di spot ini dan pengunjung masih mau membayar untuk itu. Tentu saja hal tersebut dapat menjadi pemasukan bagi sebuah destinasi atau bahkan menjadi ikon destinasi tersebut.

Apakah dengan adanya spot foto berbentuk cinta jadi salah satu daya tarik yang membuat orang datang ke sebuah destinasi wisata? Bisa jadi begitu. Apalagi untuk keperluan pamer di sosial media zaman sekarang, tentu saja pihak pengelola dengan senang hati membuat instalasi cinta untuk menarik pengunjung.

Sebaliknya, di sisi kontra, spot foto ini bukannya memperindah malah merusak estetika. Bayangkan saja jika Anda pergi ke sawah untuk melihat hamparan sawah yang hijau malah terhalang dengan tiang besi berbentuk cinta. Atau pergi ke bukit untuk melihat pemandangan malah bertemu dengan anyaman bambu berbentuk cinta. Hal ini dapat mengurangi pengalaman yang dirasakan pengunjung.

Apalagi spot foto seperti ini biasanya ditempatkan di tempat yang paling bagus sehingga menghalangi keindahan alam itu sendiri. Tentu saja menjadi hal yang mengurangi tingkat kepuasan bagi sebagian orang yang berwisata untuk mencari keindahan. Lalu, apakah spot foto cinta ini terlalu berlebihan pemanfaatannya? Bisa dikatakan begitu karena hampir ada di setiap destinasi wisata dan seakan sudah menjadi hal yang wajib. Padahal, tanpa spot foto berbentuk cinta pun masih bisa berjalan dengan baik.

Saya masih ingat saat mengunjungi salah satu destinasi wisata di tepi Danau Rawa Pening. Di sana terdapat jembatan yang panjang dan ada beberapa spot foto berlatarkan danau. Salah satu spot foto yang saya maksud adalah spot foto cinta. Saat saya amati, ternyata kebanyakan orang tua lebih senang berfoto di spot seperti itu dibandingkan langsung berlatarkan danau. Apalagi dilengkapi dengan properti seperti sepeda onthel dan bunga-bunga. Sementara itu, anak-anak muda cenderung lebih suka berfoto apa adanya tanpa harus berada di spot foto berbentuk cinta. Saya tidak tahu mengapa demikian, tetapi perbedaan selera antargenerasi ini cukup menarik.

Sepertinya keberadaan spot foto berbentuk cinta ini memang ditujukan untuk ibu, bapak, paman, dan tante kita. Tidak jarang saat ibu-ibu PKK pergi piknik biasanya pulang dengan foto di gapura berbentuk cinta. Atau juga perkumpulan bapak-bapak pergi ke gunung lalu berfoto di spot foto cinta dengan jempol andalannya. Namun, bukan berarti tidak ada anak muda untuk berfoto di spot cinta. Pasti ada tetapi tidak sebanyak itu.

Meskipun terdapat dua perspektif besar tentang spot foto berbentuk cinta ini, tetap saja spot ini masih eksis di berbagai tempat wisata dengan beragam macamnya. Tidak bisa langsung dihilangkan begitu saja karena masih banyak orang yang suka terhadap spot foto seperti ini. Kecuali semua tipe pengunjung menjadi suka pada hal yang sama, yaitu keaslian tanpa adanya spot foto ini.

Kemudian, untuk pengelola destinasi wisata di Indonesia yang memiliki spot foto berbentuk cinta, ada baiknya jika spot ini tidak ditempatkan di tempat yang dapat menghalangi suatu daya tarik utama sehingga tidak mengurangi estetika yang sudah ada. Tidak hanya itu, perlu dipertimbangkan lebih lagi terkait kecocokan spot foto seperti ini dengan destinasi yang dikelola, supaya tidak memberikan kesan yang memaksa untuk membuat spot ini di tempat yang tidak seharusnya.

Fernanda Tri Antono
Salatiga, Jawa Tengah
fernandatriantono@gmail.com

Uneg-uneg, keluh kesah, dan tanggapan untuk Surat Orang Biasa bisa dikirim di sini

Exit mobile version