Yang Unik di Bojonegoro: Bahasa, Minyak, dan Masyarakat Samin

Artikel

Avatar

Bojonegoro merupakan salah satu kota atau kabupaten yang berada di paling barat di Jawa Timur. Kalian pasti berpikiran kok aneh banget namanya, lucu. Saya pun sebagai orang asli sini juga merasa begitu. Bojo adalah kosa kata dalam bahasa jawa yang artinya istri atau suami, sedangkan negoro artinya negara. Jadii, kalau diterjemakah ke Bahasa Indonesia, Bojonegoro adalah kota istrinya negara hehe. Lucu bukan?

Menurut sejarah, nama tersebut diambil karena dahulu kala ada sebuah kerajaan yang rajanya bernama Prabu Angling Dharma. Konon katanya Prabu Angling Dharma memiliki banyak istri. Karena hal tersebut banyak orang yang bilang kota ini adalah tempat istri-istrinya para raja.

Selain nama kota yang lucu. Kota ini terkenal dengan makanan khas daerahnya yaitu Ledre. Selain itu, Bojonegoro juga menyimpan banyak keunikan yang tidak diketahui oleh banyak orang. Salah satunya adalah orang Bojonegoro selalu dibilang orang paling medok di Jawa Timur.

Hal ini bagi saya sangat sahih, sebagai orang yang kuliah di luar kota, saya sering banget diomongin kayak gini, “Kamu pasti dari Bojonegoro ya? Kamu medok banget soalnya hehe.

Gara-gara anggapan kalau cah Bojonegoro pasti medok, kadang sebelum saya memperkenalkan asal kota saya, orang-orang sudah menabak duluan asal saya dari mana.

Tak hanya itu, orang-orang juga suka bilang kalau kosa kata orang Bojonegoro itu aneh. Dan tak jarang hal tersebut selalu jadi bahan bercandaan mereka.

Orang Bojonegoro memang mempunyai bahasa jawa khas daerah yang bisa dibilang unik dan beda dari kota-kota lainya di Jawa. Saking uniknya sampai banyak orang yang suka bingung saat mengobrol dengan kami orang Bojonegoro.

Salah satu kata paling hits dan terkenal yang biasa digunakan adalah kata “genyo”. “Genyo” adalah Bahasa khas dari Bojonegoro yang artinya kenapa. Kami memang sering banget mengucapkan kata-kata ini ketika berbicara satu sama lain. “Genyo nek aku cah Bojonegoro”, yang artinya “Emangnya kenapa kalau aku anak Bojonegoro?”. Kata “genyo” ini cuma ada di sini saja, jadinya kalau ngobrol sama orang jawa di luar Bojonegoro mereka pasti nggak akan ngerti.

Baca Juga:  Ketika Bung Karno Bangkit dari Kubur lalu Menangis Melihat Bangsanya

Selain genyo, masih banyak kosa kata khas yang unik lainnya kayak leh, nem, cah, porak dan masih banyak lagi. Kosa kata ini bikin orang mikir dua kali untuk mengartikan apa yang dimaksud, yap, meskipun saat itu konteksnya lagi bicara dengan sesama orang Jawa.

Selain bahasanya yang unik, Bojonegoro juga punya banyak hal yang bikin kota ini istimewa. Salah satunya adalah minyak yang kami miliki. Kami adalah penghasil minyak bumi terbesar di Indonesia. Makanya nggak heran kalau kota kami ini sering juga disebut sebagai kota minyak.

Ngomong-ngomong, Bojonegoro ini pernah digadang-gadang jadi kabupaten/kota penerima dana bagi hasil sumber daya alam (SDA) minyak bumi terbesar di Indonesia lho.

Tambang minyak salah satu bukti akan kekayaan Bumi Angling Dharma. Cadangan minyak yang kami miliki sebesar 450 juta barel dan dengan jumlah itu, pabrik minyak di sini mampu berproduksi hingga 200 ribu barel minyak per hari. Yang mana hasil minyak tersebut lebih tinggi dari kota-kota lainya di Indonesia.

Hal yang tak boleh dilupakan tentang keunikan kota ini adalah masyarakat nyamin. Bojonegoro memiliki suku yang masih mempertahankan budaya dan adat istiadat nenek moyang, suku tersebut di sebut Masyarakat Samin.

Mereka adalah figur atau tokoh yang berjuang menentang Kolonial Belanda dengan gerakan Khas yang di sebut Saminisme. Saminisme yang artinya sami-sami amin (bersama-sama).

Yang mana masyarakat suku nyamin masih menjujunjung tinggi dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan yang dilandasi kekuatan, kejujuran, kebersamaan, anti kekerasan dan kesederhanaan. Suku ini terletak di bagian baling barat kota Bojonegoro, tepatnya yaitu di Dusun Jipang, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo.

Jadi bukan hanya terkenal medok tapi banyak hal yang unik yang tersimpan dan kami miliki. “Bojonegoro Matoh”.

Baca Juga:  In Klopp We Trust: Tidak Ada yang Perlu Dikhawatirkan Dari Kekesalan Sadio Mane Kepada Mo Salah

BACA JUGA Kediri Bukan Hanya tentang Simpang Lima Gumul atau tulisan Nuru Lutviyah lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
6


Komentar

Comments are closed.