Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Wonogiri dan Gunungkidul, Saudara Kembar Beda Nasib

Jevi Adhi Nugraha oleh Jevi Adhi Nugraha
8 Oktober 2022
A A
Wonogiri dan Gunungkidul, Saudara Kembar Beda Nasib

Wonogiri dan Gunungkidul, Saudara Kembar Beda Nasib (Rizal Setiya via Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Kemarin saya nyoba lalar sepanjang Jalan Jalur Lintas Selatan (JLS) yang menghubungkan Kabupaten Gunungkidul dengan Wonogiri. Proyek jalan yang menghabiskan anggaran hingga ratusan miliar rupiah itu, membelah bukit-bukit karst yang dimiliki kedua kabupaten ini. Sejauh mata memandang, saya melihat Gunungkidul-Wonogiri memiliki banyak persamaan, seperti saudara kandung, tapi beda nasib.

Ya, terus terang saya iri dengan tetangga sebelah, Wonogiri, yang memiliki kondisi ekonomi jauh lebih baik dari Gunungkidul. Padahal, kalau dilihat-lihat kedua kabupaten ini nyaris serupa, lho. Sama-sama memiliki pegunungan karst, garis panjang pantai yang nyaris sama, dan penghasil gaplek terbesar di Indonesia. Tapi, kenapa, ya, Gunungkidul gini-gini saja (baca: angka kemiskinan sangat tinggi), sementara kita tahu, kian hari Wonogiri semakin menunjukkan taringnya di bidang ekonomi?

Biar nggak jadi asumsi belaka, saya kasih data nih. Menurut BPS, ada sekitar 17,69 persen warga Gunungkidul tergolong penduduk miskin pada tahun 2021. Artinya, ada lebih 135.330 ribu warga di Bumi Handayani ini terjerat kemiskinan. Sementara, dibandingkan Gunungkidul, angka kemiskinan di Wonogiri jauh lebih kecil, yakni 11, 55 persen.

Sekali lagi, kenapa saya harus membandingkannya dengan Wonogiri, ya, karena kabupaten yang berada di sebelah timur Gunungkidul itu letak geografis dan kehidupan sosial masyarakatnya cukup mirip. Saking miripnya, nggak sedikit kawan-kawan saya yang ada di luar daerah sangat sulit membedakan antara pantai Gunungkidul dan pantai Wonogiri. Maklum, kedua kabupaten ini memang punya panorama keindahan pantai pasir putih yang nyaris sama.

Jelas, potensi wisata di Gunungkidul bisa dibilang menang banyak jika dibandingkan Wonogiri. Ribuan wisatawan dari penjuru daerah datang ke tanah kelahiran membeli tiket, lalu dengan leluasa menikmati panorama keindahan alam yang ada. Tapi, kalau bicara masalah kesejahteraan masyarakat, saya kira Wonogiri jauh lebih unggul, ygy.

Semua orang tahu, Gunungkidul ramai dikunjungi wisatawan, karena peran para buzzer Jogja influencer yang begitu vokal dan pintar mempromosikan aneka objek wisata di media sosial. Tak ayal, setiap akhir pekan kendaraan dari penjuru daerah tumpah ruah memadati jalur wisata. Pertanyaannya, apakah semua masyarakat Gunungkidul ikut menikmati “kue pariwisata” ini?

Tidak. Sebagai orang yang dari orok sampai kepala tiga hidup di Gunungkidul, saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa potensi wisata di Kota Belalang ini nggak bisa dinikmati masyarakat lokal. Saya kira semua sudah melihat dengan gamblang bahwa sebagian warga sejak dulu cuma jadi penonton saja. Hampir semua penginapan, toko-toko besar, hingga tengkulak ikan pun, milik orang luar Gunungkidul (baca:investor). Jadi, kalau ada yang tanya apakah sektor periwisata sangat berdampak pada kesejahteraan masyarakat hingga ke pelosok-pelosok desa, jawabannya adalah tidak.

Ironi memang, di saat sektor wisata semakin mendunia, tapi masyarakat Gunungkidul hidup di bawah garis kemiskinan. Akibatnya, masalah sosial, kayak kasus bunuh diri, perkawinan dini, hingga angka putus sekolah cukup tinggi di Gunungkidul. Dan kita tahu, semua masalah klasik itu ujung pangkalnya karena masalah ekonomi. Pasti.

Baca Juga:

Sisi Gelap dari Kemiripan Nama Purwokerto dan Purwakarta yang Bikin Pusing

Mengaku dari Purwokerto Lebih Praktis Dibanding dari Kabupaten Banyumas

Kondisi yang dialami masyarakat Gunungkidul ini tentu jauh berbeda sama Wonogiri. Meski sama-sama hidup di lereng-lereng gunung, pelosok desa, jauh dari peradaban kota, tapi warga Wonogiri setidaknya terdengar lebih mapan. Saya kira, ini nggak lepas dari peran pemangku kebijakan di sana yang cenderung lebih niat membangun daerah dan mengelola sumber daya yang ada dengan baik.

Terlepas dari banyaknya kesamaan antara Wonogiri dan Gunungkidul, ada sejumlah perbedaan kebijakan yang cukup siginifikan, salah satunya perihal pengelolaan UMKM, yang dalam hal ini adalah mi ayam. Ya, kita tahu Wonogiri sangat identik dengan kuliner berbahan dasar mi dan suwiran ayam ini. Bahkan, bisa dikatakan mi ayam berperan besar bagi pertumbuhan ekonomi di Wonogiri.

Hampir semua penjuru daerah di Indonesia, bisa dipastikan ada orang Wonogiri yang jualan mi ayam. Dan lihat, nyaris semua pedagang asal Wonogiri sukses dan hidup layak di tanah perantauan. Sebuah fakta yang cukup sulit dibantah. Cuma modal semangkuk mi ayam saja, Wonogiri mampu menguasai pasar kuliner di berbagai wilayah, dan pastinya bisa meningkatkan taraf kehidupan masyarakat lokal.

Tentu ini nggak terjadi secara ujug-ujug dong, melainkan butuh semacam support system dari pemangku daerah yang benar-benar tahu potensi sumber daya yang ada di masyarakatnya. Sementara, Gunungkidul yang punya potensi alam sebegitu besarnya, lha kok kondisi ekonomi masih gini-gini saja.

Menurut pengamatan pemuda asli Wonogiri, Rizky Prasetya, tanah kelahirannya terlihat lebih makmur beberapa tahun terakhir ini karena ada dukungan dari pemangku daerah untuk para perantau, baik dalam bentuk materi maupun kebijakan. Begitu juga sebaliknya. Istilah “bali desa, mbangun desa” itu nggak hanya jadi jargon. Adanya pola seperti ini mampu menjadi support system untuk warga dan langsung bisa dirasakan dampaknya.

Bukankah hal seperti ini yang perlu dilakukan Pemkab Gunungkidul? Bukan malah sibuk gembar-gembor wisata, tapi warga nggak dilibatkan sama sekali? Atau jangan-jangan potensi wisata Gunungkidul emang sengaja “dijual” dan warga dipaksa untuk jadi penonton saja?

Maksud saya begini, terlepas dari konstelasi politik apa pun itu di Jawa Tengah, saya kira Pemkab Gunungkidul perlu bercermin, belajar, dan ngangsu kawruh sama tetangga dekatnya, Wonogiri. Gunungkidul nggak cuma punya potensi pariwisata saja lho, Pak, ada bakmi, tiwul, gatot, dan seabrek potensi kuliner lainnya yang sangat menjanjikan. Soal potensi di Gunungkidul, saya kira nggak kalah sama Wonogiri, baik SDA maupun SDM sebenarnya sangat mumpuni. Tapi, kenapa Gunungkidul justru jadi salah satu daerah paling melarat di Indonesia?

Wis, misal Pemda benar-benar mentok nggak ada langkah-langkah konkret dan meneruskan sistem mawut kayak gini, mending Gunungkidul-Wonogiri digabung jadi satu kabupaten saja lah. Kedua daerah sudah memenuhi syarat, kok, mulai dari keadaan geografis, kuliner, dan sama-sama adoh ratu cedak watu. Saya kira kalau digabung, Gunungkidul akan jauh lebih sejahtera dan simbiosis mutualisme akan tercipta di sana. Yakin wis.

Perkara gabungan dua kabupaten ini mau masuk provinsi Jateng atau DIY, itu urusan nanti, tak ngopi-ngopi dulu sama Mas Prabu Yudianto dan Pak Sri, gimana baiknya. Tapi, kayaknya lebih asik Jateng deh, ygy.

Sumber gambar: Rizal Setiya via Unsplash

Penulis: Jevi Adhi Nugraha
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Jogja Istimewa, Gunungkidul Merana

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 8 Oktober 2022 oleh

Tags: diyGunungkiduljawa tengahWonogiri
Jevi Adhi Nugraha

Jevi Adhi Nugraha

Lulusan S1 Ilmu Kesejahteraan Sosial UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang berdomisili di Gunungkidul.

ArtikelTerkait

5 Tempat di Solo yang Sebaiknya Nggak Dikunjungi terminal mojok

5 Tempat di Solo yang Sebaiknya Nggak Dikunjungi

10 November 2021
Menjadi Warga Kabupaten Semarang Nggak Mudah, Hanya Orang Tangguh yang Sanggup Tinggal di Sana

Menjadi Warga Kabupaten Semarang Nggak Mudah, Hanya Orang Tangguh yang Sanggup Tinggal di Sana

16 Oktober 2023
Uniknya Kutoarjo, Sebuah Kota yang Menghadapi Krisis Identitas

Uniknya Kutoarjo, Sebuah Kota yang Menghadapi Krisis Identitas

24 Oktober 2023
Jalan Sukorejo-Parakan, Jalan Paling Berbahaya di Temanggung yang Mengancam Pengendara

Jalan Sukorejo-Parakan, Jalan Paling Berbahaya di Temanggung yang Mengancam Pengendara

9 Februari 2024
Menanti Gojek Tembus ke Desa Kami yang Sangat Pelosok (Unsplash)

“Gojek, Mengapa Tak Menyapa Jumantono? Apakah Kami Terlalu Pelosok untuk Dijangkau?” Begitulah Jeritan Perut Warga Jumantono

29 November 2025
mi ayam pak sabar mojok.co

Mi Ayam Pak Sabar dan Kesialan yang Menyenangkan

7 Februari 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Kebohongan Tentang Indomaret yang Perlu Diluruskan (Unsplash)

4 Kebohongan Tentang Indomaret yang Perlu Diluruskan

4 Februari 2026
Stasiun Plabuan Batang, Satu-Satunya Stasiun Kereta Api Aktif di Indonesia dengan Pemandangan Pinggir Pantai

Bisakah Batang yang Dikenal sebagai Kabupaten Sepi Bangkit dan Jadi Terkenal?

1 Februari 2026
5 Barang Indomaret yang Sebenarnya Mubazir, tapi Terus Dibeli Pelanggan Mojok.co

5 Barang Indomaret yang Sebenarnya Mubazir, tapi Terus Dibeli Pelanggan

31 Januari 2026
Universitas Terbuka (UT) Banyak Prestasinya Itu Bukan Kebetulan, tapi Memang Sistemnya yang Keren

Universitas Terbuka (UT) Banyak Prestasinya Itu Bukan Kebetulan, tapi Memang Sistemnya yang Keren

31 Januari 2026
Sisi Gelap Mahasiswa Timur Tengah- Stempel Suci yang Menyiksa (Unsplash)

Sisi Gelap Menjadi Mahasiswa Timur Tengah: Dianggap Manusia Suci, tapi Jatuhnya Menderita karena Cuma Jadi Simbol

5 Februari 2026
Purworejo Tak Butuh Kemewahan karena Hidup Aja Pas-pasan (Unsplash)

Purworejo Tidak Butuh Kemewahan, Apalagi soal Makanan dan Minuman karena Hidup Aja Pas-pasan

6 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers
  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign
  • Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia
  • Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi
  • Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.