Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Wartawan Adalah Profesi yang Sering Disalahpahami Orang Desa Saya

Aly Reza oleh Aly Reza
4 Juni 2021
A A
Wartawan Adalah Profesi yang Sering Disalahpami Orang Desa Saya terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Semula saya kira penulis adalah satu-satunya jenis profesi yang sulit dijelaskan, seperti yang selama ini diutarakan oleh banyak penulis. Baik untuk keluarga sendiri, apalagi kepada masyarakat sekitar. Lebih-lebih jika kasusnya di desa yang kebanyakan masyarakatnya nggak cukup familier dengan jenis profesi tersebut.

Itulah kenapa saya urungkan cita-cita menjadi penulis penuh waktu. Terlalu ribet kalau harus terus-terusan menjelaskan tiap kali ada yang bertanya perihal pekerjaan yang sedang saya tekuni jika seandainya saya benar-benar menjadi seorang penulis. Saya kemudian memilih menjadi wartawan di salah satu portal berita di Kota Pati, Jawa Tengah.

Namun, karena dasarnya saya tinggal di sebuah desa yang lumayan jauh dari peradaban dan ingar-bingar kota, menjadi wartawan pun ternyata nggak kalah repotnya dengan menjadi penulis penuh waktu. Pasalnya, banyak masyarakat desa saya yang masih salah paham dengan profesi wartawan. Kesalahpahaman-kesalahpahaman yang sering saya alami antara lain:

Selalu dikaitkan dengan TV

Yang nggak diketahui oleh rata-rata masyarakat desa saya adalah bahwa wartawan itu beragam. Ada yang meliput berita untuk disiarkan di TV, ada yang menulis berita untuk dicetak di surat kabar, dan ada wartawan yang bekerja di portal berita online. Saya adalah wartawan jenis terakhir. Sayangnya, referensi masyarakat desa saya hanya sampai pada pengetahuan kalau yang namanya wartawan itu ya yang jenis pertama. Yang ke mana-mana harus nenteng kamera. Dan ini adalah kesalahpahaman yang sungguh sangat merepotkan.

Pernah suatu kali, waktu saya hendak mewawancarai salah seorang warga desa terkait harga daging yang tengah naik jelang Lebaran, ia dengan penuh percaya diri bertanya, “Ini nanti bakal masuk TV mana, Mas?” Saya auto gelagapan, dong, buat jelasin. Belum lagi ketika mulai banyak masyarakat desa saya yang tahu kalau saya berprofesi sebagai wartawan, beberapa ada yang gojloki, “Wah, kalau sampean wartawan, berarti punya kamera yang gede itu, tho. Mbok saya ini di-shooting.”

Tapi itu belum apa-apa karena ada satu lagi kesalahpahaman yang lebih epik. Lantaran bagi masyarakat desa saya wartawan identik dengan TV, saya sering gitu dikira sudah lalu-lalang di berbagai stasiun TV nasional. Bayangan mereka, wartawan sama dengan penyiar atau pembawa berita. Jadi, mereka mengira saya itu tampil di TV, pakai jas rapi dan berdasi, rambut klimis, suara berat nan merdu, terus bacain laporan-laporan peristiwa dari berbagai daerah. Untuk jenis kesalahpahaman ini, kerabat saya bahkan sempat sangsi kalau saya berprofesi sebagai wartawan. “Wartawan kok nggak ada di TV itu gimana?” katanya yang membuat saya sontak menjambak-jambak rambut sendiri.

Tukang memviralkan banyak hal

Pada dasarnya, masyarakat desa saya tahu bahwa tugas wartawan adalah mewartakan informasi penting atau suatu peristiwa yang terjadi. Nggak jarang pula memberitakan hal-hal unik. Oleh karena itu, di era yang apa sedikit kalau diunggah di media sosial bisa viral ini, masyarakat desa saya memandang wartawan juga sebagai seorang tukang memviralkan. Dan ini jelas merepotkan saya sekali.

Gimana nggak merepotkan, hla wong pohon mangga ambruk saja disuruh beritain, je. Kalau ada urgensinya sih nggak masalah. Misal, nih pohon ambruk gegara hujan lebat terus menimpa rumah warga, atau ambruk menimpa tiang listrik. Itu kan masuk kategori bencana, ya. Lah, ini cuma ambruk biasa karena usia dan nggak ada korban maupun kerugian apa pun. Terus, apa yang harus saya beritakan? Kalau ada pertandingan tarkam saya pun disuruh beritain update skornya. Lah, di luar sana, memangnya ada yang peduli gitu pertandingan antara desa saya dengan desa sebelah? Kan nggak ada. Gini amaaattt.

Baca Juga:

5 Profesi yang Kelihatannya Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu

4 Usaha Paling Cuan di Desa yang Bisa Dilakukan Semua Orang

Ditambah sekian banyak hal-hal absurd lainnya. Nggak jarang gitu kalau ada apa-apa mereka minta saya untuk memviralkan. “Kalau diberitakan wartawan siapa tahu jadi viral ya, kan?” Begitu ungkapan yang sering keluar masuk di telinga saya. “Syukur-syukur kalau masuk tipi. Minimal masuk koran lah, Mas Aly.” Hiks! Saya ini wartawan media online, Bapak-bapak, Ibuk-ibuk…!!! Bukan dari koran, apalagi TV. Ah, dahlah.

Jualan koran

Ini adalah jenis kesalahpahaman yang sungguh-sungguh menggemaskan. Karena identik dengan surat kabar, seorang wartawan sering juga diangap masyarakat desa saya sebagai penjual koran. Paling nggak demikian yang saya alami sendiri. Atau malah jangan-jangan, dalam benak mereka, yang namanya wartawan itu ya penjual koran, nggak ada bedanya.

Untuk kesalahpahaman yang satu ini, kerap kali saat pagi hari sebelum berangkat liputan gitu, ada saja tetangga yang bertanya, “Mas Aly, ada koran untuk pagi ini nggak?” Kalau saya jawab nggak punya, mereka pasti berlalu sambil ngedumel, “Wartawan kok nggak punya koran iki piye?” Jal, gimana perasaanmu?

Atau pernah juga, nih, Lebaran lalu waktu kerabat saya berkunjung ke rumah. Salah satu dari mereka ada yang bertanya mengenai pekerjaan yang saya geluti saat ini. Saat saya jawab dengan mantap kalau saya sekarang menjadi wartawan, tahu apa yang ia katakan? Dengan tanpa dosa ia bertanya balik kepada saya, “Oalah wartawan, to? Penjual koran gitu, kan?” Belum juga saya jawab, eh sudah disahut lagi, “Jadi tiap hari gitu harus jualan koran di mana saja, Mas? Biasanya kan penjual koran itu ya keliling-keliling gitu. Malah ada yang di pinggir-pinggir jalan sama lampu merah juga.”

Gusti, aku kudu piyeee?

Dianggap tahu segalanya

Namanya juga wartawan, yang mewartakan berbagai informasi. Maka nggak heran jika masyarakat desa saya menganggap wartawan memiliki banyak akses informasi dan tahu banyak hal. Masalahnya, pengetahuan wartawan disalahpahami masyarakat desa saya sebagai pengetahuan yang unlimited. Nggak mau tahu, pokoknya yang namanya wartawan harus tahu semua hal dan harus bisa menjawab setiap pertanyaan masyarakat. Nggak cuma harus tahu harga cabai atau daging di pasar, bahkan bagi masyarakat desa saya, wartawan harus tahu harga mobil dan tanah juga, loh.

Baru-baru saja terjadi, salah seorang tetangga yang tengah nongkrong dengan saya mengungkapkan keinginannya untuk membeli mobil. Kemudian ia melancarkan pertanyaan bertubi-tubi kepada saya mengenai harga-harga mobil yang ia sebut satu per satu. Karena memang nggak tahu, ya saya jawab saja nggak tahu, dong, lah mau gimana. Eh, sama tetangga saya ini saya diomongin, “Kamu kan wartawan, harusnya tahu, dong, informasi-informasi seperti itu. Masa nggak tahu?”

Gimana nggak mumet cobaaa? Malah ada yang—entah iseng atau serius—nanyain saya tentang harga “teman tidur”, loh. Lah, dikira saya mucikari apa?

Tapi, namanya juga masyarakat desa, saya mencoba maklum dan sesekali memberi pemahaman tentang profesi seorang wartawan. Kalau ada yang tanya informasi bocoran pertanyaan alam kubur, baru nanti saya akan nyolot, “Simulasi saiki piye?!”

BACA JUGA Beban Berat Menjadi Sarjana di Kampung dan tulisan Aly Reza lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 21 Desember 2021 oleh

Tags: Nusantara Terminalprofesiwarga desawartawan
Aly Reza

Aly Reza

Muchamad Aly Reza, kelahiran Rembang, Jawa Tengah. Penulis lepas. Bisa disapa di IG: aly_reza16 atau Email: [email protected]

ArtikelTerkait

Menelaah Logika Berpikir Lord Rangga Sunda Empire terminal mojok.co

Sebagai Orang Sunda, Saya Malu dengan Tingkah Lord Rangga

25 Mei 2021
3 Duka Jadi Penjual Parfum Isi Ulang

3 Duka Jadi Penjual Parfum Isi Ulang

29 Desember 2021
stereotip anak laut pantai sijile baluran mojok

Pantai Sijile, Pantai Indah yang Harus Dikunjungi kalau Kalian Main ke Situbondo

2 Agustus 2021
5 Profesi yang Paling Jarang Kita Temukan di Drama Korea Terminal Mojok

5 Profesi yang Paling Jarang Kita Temukan di Drama Korea

29 Januari 2022
4 Profesi Favorit Alumni Masterchef Indonesia terminal mojok.co

4 Profesi Favorit Alumni Masterchef Indonesia

11 Februari 2022
Nelayan, Profesi Paling Makmur di Lamongan, Awak Kapal Gajinya Minimal 3 Juta!

Nelayan, Profesi Paling Makmur di Lamongan, Awak Kapal Gajinya Minimal 3 Juta!

21 Agustus 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

7 Jajanan Indomaret Terburuk Sepanjang Masa (Unsplash)

7 Jajanan Indomaret Terburuk Sepanjang Masa, Jangan Dibeli daripada Kamu Kecewa dan Menderita

13 Maret 2026
Daihatsu Taruna, Mobil Sok Gagah yang Berakhir Gagal Total dan Bikin Penggunanya Bingung Setengah Mati

Daihatsu Taruna, Mobil Sok Gagah yang Berakhir Gagal Total dan Bikin Penggunanya Bingung Setengah Mati

17 Maret 2026
Stasiun Klaten Stasiun Legendaris yang Semakin Modern

Stasiun Klaten, Stasiun Berusia Satu Setengah Abad yang Terus Melangkah Menuju Modernisasi

16 Maret 2026
Ulukutek Leunca, Makanan Sunda Paling Nggak Normal dan Rasanya Bikin Pusing Pendatang  Mojok.co

Ulukutek Leunca, Makanan Sunda Paling Nggak Normal dan Rasanya Bikin Pusing Pendatang 

13 Maret 2026
Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

13 Tahun Bersama Honda Spacy: Motor yang Tak Pernah Rewel, sekaligus Pengingat Momen Bersama Almarhum Bapak

18 Maret 2026
Inspektor Mobil Bekas, Orang yang Menentukan Nasib Mobilmu, Berakhir Masuk Neraka Bernama Bengkel, atau Hidup Bahagia Tanpa Onderdil Rusak

Inspektor Mobil Bekas, Orang yang Menentukan Nasib Mobilmu, Berakhir Masuk Neraka Bernama Bengkel, atau Hidup Bahagia Tanpa Onderdil Rusak

12 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • 3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan
  • Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?
  • Mudik Gratis BUMN 2026: Hemat Rp600 Ribu dari Jakarta-Solo Tanpa Pusing Dana THR Berkurang
  • Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali 
  • Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman
  • Kapok Terlalu Royal ke Teman: Teman Datang karena Ada Butuhnya, Giliran Diri Sendiri Kesusahan Eh Diacuhkan meski Mengiba-iba

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.