Culture Shock Warga Cepu Pindah ke Malang, Banyak Orang Ngomong Kebolak-balik dan “Kasar”

Culture Shock Warga Cepu Pindah ke Malang, Banyak Orang Ngomong Kebolak-balik dan “Kasar” Mojok.co

Culture Shock Warga Cepu Pindah ke Malang, Banyak Orang Ngomong Kebolak-balik dan “Kasar” (uns

Saya orang Cepu, Jawa Tengah yang menikah dengan orang Malang, Jawa Timur. Sebelum diboyong suami ke sana, saya sama sekali tidak khawatir soal perbedaan budaya antara Cepu dan Malang.

Pikir saya, Cepu dan Malang sama-sama di Pulau Jawa, masih menggunakan Bahasa Jawa, kebiasaan orang-orangnya pun tak jauh beda. Pasti saya bisa dengan mudah menyesuaikan di sana. Salah besar, saya menemui beberapa perbedaan yang cukup mengagetkan di Paris of East Java ini. Berikut beberapa di antaranya:

Baca juga Kota Malang Gampang Bikin Kangen Gara-gara UM dan Jalan Ijen.

#1 Pengantin di Malang dipajang di pelaminan hingga larut malam

Momen saya pindah ke Malang, adalah seminggu setelah pernikahan saya di Jawa Tengah. Umumnya di daerah saya di Cepu, Jawa Tengah, resepsi berlangsung dari pagi/siang sampai sore. 

Biasanya tidak sampai maghrib, pengantin sudah turun pelaminan walau tamu tetap berdatangan hingga malam atau bahkan beberapa hari setelahnya. Hal yang berbeda saya temui di Malang. 

Rupanya, di Malang, resepsi berlangsung dari pagi hingga malam dengan pengantin tetap sedia di pelaminan hingga larut malam, antara pukul 9-10 malam. Saya teringat, inilah momen culture shock pertama yang saya alami.

#2 Perbedaan dialek dan beberapa kosakata

Kalian kira semua bahasa Jawa itu sama? Cobalah Anda bergaul dan ngobrol cukup panjang dengan orang-orang dari Solo dan Malang. Cukup setengah jam saja, kalian akan menyadari kalau dialek antara Solo-Malang ini cukup signifikan bedanya. 

Contoh sederhananya, orang Malang menyebut “sepeda motor” dengan sebutan “sepeda”. Sedangkan sepeda kayuh, di sini disebut dengan “sepeda pancal”. Jadi, kalau orang Solo bingung mendengar saudara di Malang masuk rumah sakit hanya karena ditabrak “sepeda”, sekarang sudah paham?

#3 Bahasa walikan banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari warlok Malang

Bahasa Walikan sudah dikenal menjadi ciri khas warga Malang. Misal, untuk mengatakan “biasa” mereka memakai “asaib”, “sekali” jadi “ilakes”, dan “budhal” jadi “ladub”. Saya tahu konsepnya, tapi cukup makan waktu bagi saya untuk membiasakannya. 

Ada pengalaman lucu soal penggunaan bahasa walikan di Malang. Suatu hari, saya mengunjungi sebuah kafe, di salah satu areanya, ada bangunan dengan tulisan “Omah Helo-helo”. Dengan polosnya, saya kira bangunan ini adalah pusat informasi. Belakangan, saya baru sadar bahwa bangunan itu adalah toko oleh-oleh. Alamak!

Baca juga Cepu Blora Adalah Daerah Serba Tanggung: Masuk Jawa Tengah, tapi Lebih Dekat dengan Jawa Timur.

#3 Perbedaan nada bicara

Sebagai orang Jawa Tengah yang tinggal di sisi utara atau Pantura, saya merasa gaya bicara saya cukup kasar. Namun, setelah pindah ke Malang, ternyata gaya bicara saya nggak ada apa-apanya. 

Saya tergolong lembut dibandingkan orang Malang. Orang-orang sekitar saya bicara dengan nada seolah mereka sedang debat politik. Satunya Anak Gemoy satunya Anak Abah. Kebayang, kan, tensinya? 

Nah, seperti itulah kira-kira nada bicara orang Malang sehari-hari. Mungkin daerah ini semacam Medan cabang Jawa Timur.

#4 Nasi ayam, mendhol, dan nasi jagung yang tak ada dalam bayangan orang Cepu

Di Jawa Tengah, nasi ayam adalah nasi dengan lauk ayam. Di Malang berbeda, nasi ayam adalah nasi yang disiram kuah kental dengan potongan ayam dan sawi. 

Kekagetan serupa juga terjadi pada mendol. Seumur hidup, saya tidak pernah tahu apa itu mendol. Rupanya, mendol adalah lauk dari kedelai yang dihaluskan. Sampai sekarang, saya tidak doyan karena seumur hidup hanya akrab dengan tempe. 

Satu hal lain yang cukup membuat kaget adalah nasi jagung! Nasi Jagung di kampung saya, teksturnya sangat halus dan berwarna putih. Sedangkan nasi jagung di Malang berwarna kuning dan bentuknya mirip dengan nasi beras. Sungguh membingungkan.

Teman-teman ada yang pindah ke Malang dan merasakan kekagetan serupa? Culture shock di atas memang nggak begitu menyulitkan saya dalam kehidupan sehari-hari. Namun, kenyataan ini menyadarkan saya bahwa betapa beragamnya masyarakat kita. Walau sama-sama di Jawa, ada banyak sekali kebiasaan yang berbeda dan bisa bikin kaget. 

Penulis: Nur Indah Wuriani
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Cepu Blora Adalah Daerah Serba Tanggung: Masuk Jawa Tengah, tapi Lebih Dekat dengan Jawa Timur

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version