Namanya, Universitas Terbuka. Orang-orang biasa menyingkatnya dengan UT saja. Sebagai salah satu universitas negeri di Indonesia, nama UT mungkin tidak begitu menggema seperti kampus negeri lainnya. Tidak pula hadir dalam percakapan penuh kebanggaan yang lantang.
Akan tetapi, tidakkah kalian ingat? Yang membuat sebongkah batu akhirnya berlubang itu bukanlah pantulan gema. Melainkan, tetes air yang jatuh terus-menerus. Persis seperti UT yang memilih hadir sebagai teman seperjalanan bagi mereka yang diam-diam berjuang.
Tak peduli betapa sunyi jalannya, UT tidak pergi. UT memilih untuk menemani jiwa-jiwa yang percaya bahwa selalu ada jalan bagi setiap mimpi. Dan, itulah yang selama ini kita butuhkan. Kawan seperjalanan yang bisa mengerti tanpa menghakimi.
Setiap orang pasti punya mimpi
Ingatkah ketika kita masih kecil, kita bebas memimpikan apa saja? Mimpi jadi presiden, hingga mimpi menjadi superhero. Kala itu, semua terasa sah-sah saja. Tak ada rasa malu, tak ada rasa takut. Dan, mata ini selalu berbinar tiap kali membayangkan saat di mana mimpi tersebut akan terwujud. Iya, masa depan kala itu memang masih jauh. Tapi, entah kenapa terasa dekat karena kita belum mengerti arti kecewa.
Lalu, seiring berjalannya waktu, hidup mengajarkan kita tentang batas-batas. Tentang realita kehidupan nyata yang membuat mimpi kita semakin mengecil. Bukan karena tak lagi penting ya, tapi kita telah belajar untuk menyesuaikan diri.
Saat itulah, mimpi tak lagi tentang bisa terbang seperti burung atau tinggal di kastil seperti putri. Tapi, kita mulai bermimpi untuk merasakan wisuda, ingin hidup sedikit lebih layak, ingin naik pangkat, ingin membuat orang tua bangga, dan masih banyak lagi. Dan, UT dengan segala fleksibilitasnya mampu menjadi jembatan untuk meraih semua impian tersebut.
UT adalah teman seperjalanan
Apa yang paling terasa soal UT adalah batasan usia. Apakah kalian tahu? Punya suatu keinginan dan semangat untuk mewujudkan, tapi terbentur usia adalah hal yang membuat patah hati. Seolah, semua terasa tidak mungkin ketika usia kalian sudah banyak. Tapi, UT membuat segalanya jadi mungkin. Usia berapapun, bisa kuliah di UT.
UT juga menggandeng mereka yang hampir menyerah karena biaya kuliah. Mereka yang awalnya tak percaya bisa mengenyam pendidikan tinggi hanya bermodal gaji UMR, jadi sumringah. Ternyata, bersama UT, asa itu bisa tetap terjaga.
Termasuk, mereka yang memiliki keterbatasan waktu. Bagi UT, tak masalah jika pagi hingga malammu harus dihabiskan untuk bergelut dengan pekerjaan. UT memilih untuk memberikan kemewahan kepada mahasiswanya dengan cara membebaskan mereka untuk mengatur waktunya sendiri.
Mahasiswanya pejuang dalam diam
Mahasiswa UT memang jarang terlihat sibuk kuliah dalam pengertian umum. Mereka justru terlihat sibuk hidup: pagi hingga malam bekerja, dan di sela-selanya baru membuka modul. Semua perjuangan tersebut mereka lakukan dengan diam. Bukan karena tak bangga, tapi karena sejatinya mereka belajar bukan karena ingin terlihat hebat, tapi karena ingin memperbaiki hidup. Toh, tidak semua perjuangan itu harus digembor-gemborkan, bukan?
Cukuplah superhero dalam film saja yang berisik. UT dan mahasiswanya biarlah tetap berjalan dalam sunyi, namun saling memahami sebagai kawan seperjalanan.
Lagi pula, bukankah rasanya menyenangkan ketika kita memiliki teman seperjalanan dengan mimpi yang sama? Yang tidak banyak mengekang dengan jadwal yang kaku, yang tidak memburu-buru, dan tidak menghakimi dengan pertanyaan, “Kok baru kuliah?”
Penulis: Dyan Arfyana Ayu Puspita
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Saya Sempat Meremehkan Universitas Terbuka, Sampai Akhirnya Saya Menjalaninya Sendiri sambil Kerja.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















