Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Usaha Mengurangi Pemakaian Kantong Plastik, eh Dianggap Gila oleh Warga Kampung

Bayu Kharisma Putra oleh Bayu Kharisma Putra
22 Februari 2021
A A
Usaha Mengurangi Pemakaian Kantong Plastik, eh Dianggap Gila oleh Warga Kampung Terminal Mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Saya bukan anak indie, meski punya banyak totebag. Saya menggunakan totebag sesuai fungsinya untuk tempat belanjaan dan menggantikan kantong plastik kresek. Saya bukan pencinta lingkungan, saya cuma nggak suka melihat banyak sampah di mana-mana. Saya tahu yang saya lakukan tak begitu terasa bedanya, tapi tetap saya lakukan guna mengurangi sampah plastik, minimal di rumah saya dulu. Paling nggak, di rumah terasa sekali bedanya.

Beberapa produk yang saya beli kadang masih dibungkus dengan plastik. Seperti yang saya bilang, saya sedang berusaha untuk meminimalisir penggunaan plastik. Bukan untuk menghindari plastik sepenuhnya, apalagi jadi penggiat atau pelindung lingkungan, saya masih jauh dari itu. Pelan-pelan, saya terapkan cara meminimalisir plastik dengan santuy, sedikit demi sedikit. Bermula dari memilah sampah, bawa botol minum sendiri, bawa totebag untuk belanja, sampai ke menghindari sedotan dan membeli barang hasil daur ulang. Di lingkup kerja saya, itu hal lumrah dan sudah banyak yang menerapkan. Namun, lain cerita di kampung saya tercinta.

Di kampung, hal yang paling sering terjadi adalah saya dianggap pelit, medit, dan ndeso oleh teman-teman saya. Misalkan saat pergi belanja ke minimarket dan membawa totebag sendiri, teman saya bakalan menawarkan diri untuk membayarkan kantong plastik.

Begitu juga waktu kami beli minuman saat tengah bersepeda atau jalan-jalan. Saya akan diejek medit lantaran dianggap nggak mau keluar duit untuk sekadar beli Aqua. Walau sudah beratus kali saya jelaskan, entah kenapa mereka tetap menganggap yang saya lakukan ngisin-isini. “Wes gedhe kok koyo cah TK, sangu mimik!” (Sudah besar kok kayak anak TK, bawa minum). Begitulah b*c*t mereka yang adiluhung.

Sempat dikira agak sedeng juga karena selalu bawa tas belanja. Entah sudah berapa kali saya ditertawakan pemilik warung. Ada yang bilang kurang kerjaan, ada yang bilang kalau kantong plastik gratis, sampai ada yang tetap memaksa saya untuk pakai kantong plastik. Padahal, saya sudah ngotot nggak mau, namun tetap saja semua belanjaan saya dimasukkan ke dalam plastik tadi. Tak hanya sekali, tapi berkali-kali. Sampai ada pemilik warung yang WA ibu saya guna menanyakan kelakuan aneh saya itu. Gosip saya gila karena nganggur (karena saat itu sering di rumah dan WFH masih terdengar asing, padahal ya memang nganggur) merebak dengan cepat, dan saya ikhlas, Bund~

Pemaksaan para penjual nggak hanya saya alami saat di warung kelontong, tapi juga di warung makan atau angkringan. Tiap kali saya pesan es teh, saya selalu kasih embel-embel “tawar dan tanpa sedotan”. Namanya sudah kebiasaan mungkin, tetap saja ada gula dan sedotan menjulang di gelas es teh yang saya pesan. “Sedotan gratis, Mas.” Pasti itu yang selalu mereka katakan.

Begitu juga saat saya bungkus makanan untuk dibawa pulang. Walau sudah saya kasih kotak makanan dan totebag, makanan itu tetap dimasukkan plastik dulu. Alasan takut tumpah ada benarnya, tapi sejauh ini nggak pernah tumpah, kok. Lagi pula, apa susahnya nurut sekali saja sih, Mylov? Tapi nggak apa-apa, tetap saya terima dengan senyuman penuh kedamaian, saya memang orang baik.

Begitu juga saat saya bikin kertas gambar sendiri dari kertas bekas. Kertas daur ulang itu saya gunakan untuk berkarya, sekadar bikin lukisan atau gambar pakai arang. Lagi-lagi saya dianggap gila dan kurang kerjaan oleh tetangga. Tapi karena kuping sudah tebal, sudah tak terasa lagi cemoohan itu.

Baca Juga:

Ketika Ibu Rumah Tangga Bisa Membeli Rumah dari Mengumpulkan Sampah

Sampah Plastik Gencar Dibicarakan, Sampah Elektronik Dilupakan padahal Tak Kalah Membahayakan

Para warga di kampung saya masih suka membuang sampah ke sungai dan selokan. Sampah itu juga tak mengalami pemilahan. Sampah organik dan sampah plastik dicampur dan dibuang begitu saja. Kebiasaan itu sudah ada sejak zaman dulu. Bedanya, sampah jadul semuanya organik. Sampah zaman dulu paling banter terdiri dari daun pisang atau sampah sisa dapur.

Sayangnya, teknologi yang berubah tak diimbangi dengan perubahan budaya masyarakat. Gorengan zaman dulu dibungkus daun pisang, gorengan zaman now dibungkus kertas dan plastik. Tapi yang makan gorengan masih sama kelakuannya. Padahal memilah sampah itu nggak susah, tinggal pisah-pisahin saja.

Padahal, banyak kok keuntungan dari memilah sampah. Sampah organik bisa dijadikan pupuk tanaman hias, sampah botol, plastik, dan kertas bisa dijual, pokoknya usahakan jangan sampai ada yang terbuang. Apalagi kalau dibuang ke selokan, yang akan bermuara ke sungai, langsung ke laut, nubruk mahkota Nyai Roro Kidul, kuwalat!

BACA JUGA Galon Sekali Pakai, Efektif Tingkatkan Sampah Plastik di Indonesia dan tulisan Bayu Kharisma Putra lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 22 Februari 2021 oleh

Tags: diet plastikSampah Plastik
Bayu Kharisma Putra

Bayu Kharisma Putra

Hanya salah satu dari jutaan manusia yang kebetulan ditakdirkan lahir dan tumbuh di bentangan khatulistiwa ini. Masih setia memegang identitas sebagai Warga Negara Indonesia, menjalani hari-hari dengan segala dinamika.

ArtikelTerkait

Ecobrick, Memberi Kesempatan Kedua pada Sampah Plastik diet plastik

Diet Plastik, Cara Mudah Mempersulit Hidup

15 Agustus 2023
pasta gigi

Pasta Gigi Kok Harus Pakai Kotak Lagi?

3 Agustus 2019
sampah plastik

Plastik Kresek Harus Dijual Mahal

22 Juli 2019
Galon Sekali Pakai, Efektif Tingkatkan Sampah Plastik di Indonesia Terminal mojok

Galon Sekali Pakai, Efektif Tingkatkan Sampah Plastik di Indonesia

11 Februari 2021
Menebak Pikiran Orang yang Suka Buang Sampah Sembarangan

Pekerjaan Rumah Besar Soal Sampah: Negara Luar Malah Nambahin

23 Juni 2019
Setiap Orang Punya Nama, Kenapa Masih Memanggil dengan Profesi? terminal mojok.co

Mengurangi Sampah Plastik Ketika Lebaran, Kenapa Tidak?

8 Juni 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jujur, Saya sebagai Mahasiswa Kaget Lihat Biaya Publikasi Jurnal Bisa Tembus 500 Ribu, Ditanggung Sendiri Lagi

Dosen Seenaknya Nyuruh Mahasiswa untuk Publikasi Jurnal, padahal Uang Mahasiswa Cuma Dikit dan Nggak Dikasih Subsidi Sama Sekali

17 Januari 2026
Tempat Lahirnya Para Pahlawan, Satu-satunya Hal yang Bisa Dibanggakan dari Purworejo Mojok.co

Tempat Lahirnya Para Pahlawan, Satu-satunya Hal yang Bisa Dibanggakan dari Purworejo

14 Januari 2026
Kelurahan Batununggal dan Kecamatan Batununggal: Nama Mirip dan Sama-sama di Bandung, tapi Takdirnya Berbeda Mojok.co

Kelurahan Batununggal dan Kecamatan Batununggal: Nama Mirip dan Sama-sama di Bandung, tapi Takdirnya Berbeda

15 Januari 2026
Niatnya Hemat Kos Murah, Malah Dapat Kamar Bekas Aborsi (Unsplash)

Demi Hemat Ratusan Ribu, Rela Tinggal di Kos Murah yang Ternyata Bekas Aborsi

12 Januari 2026
Mahasiswa Kelas Karyawan Adalah Ras Terkuat di Bumi: Pagi Dimaki Bos, Malam Dihajar Dosen, Hari Minggu Tetap Masuk

Mahasiswa Kelas Karyawan Adalah Ras Terkuat di Bumi: Pagi Dimaki Bos, Malam Dihajar Dosen, Hari Minggu Tetap Masuk

13 Januari 2026
4 Alasan Drama Korea Zaman Sekarang "Kalah" dengan Zaman Dahulu Menurut Saya yang Sudah 15 Tahun Jadi Penggemar Mojok.co

4 Alasan Drama Korea Zaman Sekarang “Kalah” dengan Zaman Dahulu Menurut Saya yang Sudah 15 Tahun Jadi Penggemar

11 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • 2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup
  • Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi
  • Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan
  • Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM
  • Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna
  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.