Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Untuk Mahasiswa KKN, Stop Ngatur Hidup Orang Desa, Mereka Jauh Lebih Jago Bertahan Hidup ketimbang Kalian-kalian yang Mengaku Pahlawan

Janu Wisnanto oleh Janu Wisnanto
17 Agustus 2025
A A
KKN itu Pengabdian Masyarakat, Bukan Menjilat Kelurahan (Unsplash) mahasiswa KKN, KKN di kota

KKN itu Pengabdian Masyarakat, Bukan Menjilat Kelurahan (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Ada satu hal yang dari dulu bikin saya geleng-geleng kepala, orang kota yang dalam hal ini mahasiswa KKN, merasa paling ngerti cara hidup orang desa. Bawaannya kayak superhero—turun dari kendaraan, pakai kacamata item, bawa proposal tebal, lalu dengan bangga berkata, “Kami datang untuk menyelamatkan kalian, wahai warga desa.” Padahal, yang mereka sebut “desa tertinggal” itu kadang lebih mandiri dan lebih jago survival daripada anak kota yang tiap pagi bingung sarapan apa selain pesan online.

Saya bukan sedang anti orang kota atau mahasiswa KKN. Saya juga pernah jadi mahasiswa yang, kalau musim liburan, ikut ngerasain gegap gempita cerita kawan-kawan yang mau “mengabdi ke masyarakat.” Cuma, jujur saja, sering kali saya geli. Apalagi kalau mendengar proker andalan mereka bikin plang nama jalan, pasang papan penunjuk arah kampung, atau bantu lomba balap karung pas 17 Agustus.

Pertanyaannya, siapa sih sebenarnya yang butuh plang itu? Warga desa yang sudah hafal jalan ke sawah sejak masih bisa merangkak? Atau justru mahasiswa KKN itu sendiri, supaya tidak nyasar kalau mau ke rumah Pak RT?

Orang desa tidak butuh diselamatkan

Kebanyakan mahasiswa KKN punya imajinasi yang aneh soal desa. Mereka pikir, begitu masuk wilayah pelosok, warga desa pasti hidup menderita, bingung cari makan, dan menanti bala bantuan datang. Padahal, faktanya orang desa itu jauh lebih jago bertahan hidup.

Bayangkan saja orang desa bisa makan tiap hari tanpa perlu mikirin saldo rekening. Mau sayur tinggal metik di kebun, mau lauk tinggal mancing di kali, mau cemilan tinggal ngambil pisang atau singkong di pekarangan. Bandingkan dengan anak kos di kota besar, yang kalau uang bulanan telat ditransfer, bisa jadi sahabat akrab Indomie selama seminggu.

Jadi, ketika ada mahasiswa KKN datang dan bilang, “Kami akan mengajari kalian cara bertahan hidup,” saya cuma bisa nyengir. Yang lebih butuh pelajaran survival justru kalian yang kalau listrik padam sejam saja sudah bingung cara hidup.

KKN dan proker yang kadang absurd

Saya tidak anti KKN. Program itu bagus, niatnya mulia. Tapi sering kali, realisasinya lebih mirip studi wisata ketimbang pengabdian. Ada yang datang dengan rombongan besar, bikin basecamp, lalu bikin proker yang sebenarnya tidak terlalu krusial.

Contoh klasik seperti bikin papan penunjuk arah. Aduh, kenapa ya? Emangnya warga desa nggak tahu jalan ke rumah tetangganya sendiri? Atau contoh lain seperti acara lomba 17-an. Memang seru, tapi apakah tanpa mahasiswa KKN desa itu tidak bisa bikin lomba? Wong dari dulu orang desa selalu punya tradisi meriah kalau Agustusan.

Baca Juga:

5 Hal yang Bikin Saya Kaget Waktu KKN di Madiun

KKN di Bulan Agustus Itu Anugerah Sekaligus Musibah: Gara-gara Proposal Agustusan, Akhir KKN Serasa di Neraka

Saya sering membayangkan kalau warga desa bisa ngomong blak-blakan ke mahasiswa KKN, “Le, nduk, kami ini sudah biasa hidup di sini. Kalau soal bikin lomba balap karung, nggak usah repot-repot ngajarin. Coba kalau bisa, tolong bikinkan akses ke pasar supaya gabah kami nggak dijual murah ke tengkulak. Nah, itu baru pengabdian.”

Tapi, ya begitulah. Akhirnya mahasiswa KKN pulang dengan laporan tebal, foto-foto dokumentasi saat pasang plang jalan, lalu dapat nilai A. Warga desa? Tetap saja harus mikirin gimana harga panen nggak jatuh di pasaran.

Romantisisasi desa dan rasa “superior” kota

Masalah utamanya ada pada cara pandang. Orang kota sering memandang desa dengan kacamata romantis sekaligus merendahkan. Romantis karena desa dianggap “alamiah, indah, damai, penuh keramahan.” Merendahkan karena dianggap “butuh bantuan modernisasi, butuh bimbingan.”

Padahal, kenyataannya desa punya sistem sosial yang lebih rapi daripada yang dibayangkan. Di kampung saya, kalau ada orang sakit, tetangga langsung datang bawain makanan. Kalau ada yang panen, mereka saling bantu. Bandingkan dengan kompleks perumahan di kota, yang kadang nama tetangga sebelah pun tidak tahu.

Survival sosial macam ini justru yang jarang dipunyai orang kota. Tapi, anehnya, justru orang kota yang datang seakan jadi guru kehidupan.

Saya bukan mau bilang mahasiswa KKN tidak boleh bikin acara 17-an atau plang jalan. Boleh saja, asal jangan merasa itu adalah satu-satunya bentuk “pengabdian”. Jangan merasa sudah menyelamatkan desa dengan papan triplek bertuliskan “Jl. Melati RT 03.”

Kalau mau benar-benar mengabdi, coba ngobrol serius dengan warga. Cari tahu masalah mereka yang paling mendesak. Misalnya, akses pupuk yang susah, hasil panen yang ditekan tengkulak, atau anak-anak muda yang bingung setelah lulus SMA mau kerja apa.

Tugas mahasiswa bukan jadi pahlawan kesiangan, tapi jadi teman diskusi. Orang desa tidak butuh diselamatkan, mereka cuma butuh didengarkan.

Mahasiswa KKN stop ngatur orang desa!

Jadi, stop lah orang kota ngatur-ngatur cara hidup orang desa. Apalagi cuma urusan survival. Karena kenyataannya, kalau dunia ini benar-benar hancur dan kembali ke zaman barter, orang desa akan tetap bisa hidup dengan kebunnya, sawahnya, ikannya. Sedangkan orang kota? Bisa jadi bingung cara nanam singkong.

Dan buat mahasiswa KKN, jangan kecil hati. Teruslah turun ke desa, tapi dengan niat tulus bukan untuk menggurui, tapi untuk belajar bareng. Jangan cuma bawa plang jalan, tapi bawalah telinga yang siap mendengar. Karena kadang, pengabdian yang paling sederhana itu bukan pada papan kayu atau acara seremonial, tapi pada keberanian untuk menghargai pengetahuan lokal yang sudah ada.

Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA KKN Mending Dihapus Sekalian kalau Isinya Cuma Drama dan Programnya Gini-gini Aja

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

 

Terakhir diperbarui pada 17 Agustus 2025 oleh

Tags: desa tertinggalKKNmahasiswa KKNprogram mahasiswa KKN
Janu Wisnanto

Janu Wisnanto

Mahasiswa semester akhir Universitas Ahmad Dahlan, jurusan Sastra Indonesia. Pemuda asli Sleman. Penulis masalah sosial di Daerah Istimewa Yogyakarta.

ArtikelTerkait

Senangnya KKN Bareng Mahasiswa “Sultan”, Program Lancar Tanpa Keluar Banyak Uang Mojok.co

Senangnya KKN Bareng Mahasiswa “Sultan”, Program Lancar Tanpa Keluar Banyak Uang

3 Juni 2025
Mahasiswa KKN Diusir Warga Itu Adalah Teguran Keras untuk Kampus yang Nggak Melek Digital

Mahasiswa KKN Diusir Warga Itu Adalah Teguran Keras untuk Kampus yang Nggak Melek Digital

2 Agustus 2023
Pengalaman Bertahan Hidup Selama KKN dengan Iuran Rp300 Ribu: Proker Bisa Tetap Jalan meski Dompet Pas-pasan

Pengalaman Bertahan Hidup Selama KKN dengan Iuran Rp300 Ribu: Proker Bisa Tetap Jalan meski Dompet Pas-pasan

25 Agustus 2025
agribisnis menthek kafe tengah sawah KKN wabah corona pemandangan pagi sawah mojok

Tiga Tipe Alternatif KKN UINSA yang Tidak Sebatas Kuliah Kerja Maya

13 Juni 2020
Tak Perlu Berlebihan Romantisisasi KKN, Bukan Ajang Cari Jodoh apalagi Simulasi Rumah Tangga

Tak Perlu Berlebihan Diromantisisasi, KKN Bukan Ajang Cari Jodoh apalagi Simulasi Rumah Tangga

21 Juli 2024
KKN di Desa Penari

KKN di Desa Penari Versi Ketiga

29 Agustus 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Makanan Khas Jawa Tengah Paling Red Flag- Busuk Baunya! (Wikimedia Commons)

4 Makanan Khas Jawa Tengah yang Paling Red Flag, Sebaiknya Tidak Perlu Kamu Coba Sama Sekali kalau Tidak Tahan dengan Aroma Menyengat

17 Februari 2026
Jalan Mojokerto Mulai Banyak yang Berlubang, Gus Barra, Njenengan di Mana?

Jalan Mojokerto Mulai Banyak yang Berlubang, Gus Barra, Njenengan di Mana?

20 Februari 2026
Motor Keyless Memang Terlihat Canggih dan Keren, tapi Punya Sisi Merepotkan yang Bikin Pengendara Hilang Kepercayaan Mojok.co

Motor Keyless Memang Terlihat Canggih dan Keren, tapi Punya Sisi Merepotkan yang Bikin Pengendara Hilang Kepercayaan

19 Februari 2026
Realitas Mahasiswa UNNES Gunungpati: Ganti Kampas Rem yang Mengacaukan Keuangan, Bukan Kebutuhan Kampus Mojok.co

Rajin Ganti Kampas Rem, Kebiasaan Baru yang (Terpaksa) Tumbuh Pas Jadi Mahasiswa UNNES Gunungpati

20 Februari 2026
4 Gudeg Jogja yang Rasanya Enak dan Cocok di Lidah Wisatawan

Gudeg Jogja Pelan-Pelan Digeser oleh Warung Nasi Padang di Tanahnya Sendiri, Sebuah Kekalahan yang Menyedihkan

18 Februari 2026
Tebet Eco Park, Spot Hits Jakarta Selatan yang Sering Bikin Bingung Pengunjung Mojok.co

Tebet Eco Park Adalah Mahakarya yang Tercoreng Bau Sungai yang Tak Kunjung Dibenahi

20 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • 3 Dosa Indomaret yang Membuat Pembeli Kecewa Serta Tak Berdaya, tapi Tak Bisa Berbuat Apa-apa karena Terpaksa
  • Derita Orang Biasa yang Ingin Daftar LPDP: Dipukul Mundur karena Program Salah Sasaran, padahal Sudah Susah Berjuang
  • Sarjana Sastra Indonesia PTN Terbaik Jadi Beban Keluarga: 150 Kali Ditolak Kerja, Ijazah buat Lamar Freelance pun Tak Bisa
  • Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan
  • Salut dengan Ketahanan Yamaha Mio Sporty 2011, tapi Maaf Saya Sudah Tak Betah dan Melirik ke Versi Baru
  • Mall Kokas, Tempat Paling Membingungkan di Jakarta Selatan: Bikin Pekerja “Mati” di Jalan, tapi Diminati karena Bisa Cicipi Gaya Hidup Elite

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.