UMK Kebumen yang baru akhirnya resmi ditetapkan. Angkanya Rp2.400.000. Bukan lagi rumor, bukan tebak-tebakan grup WhatsApp, bukan bocoran dari “katanya temannya temannya Disnaker”. Ini putusan resmi. Hitam di atas putih. Masalahnya sih tinggal satu: dijalankan atau tidak.
Sebab jujur saja, UMK itu tidak ada artinya kalau cuma berhenti di surat keputusan. Tidak punya makna kalau hanya jadi angka yang diumumkan di berita online, lalu menguap sebelum sampai ke dompet pekerja. UMK baru terasa fungsinya kalau benar-benar masuk ke amplop gaji, bukan sekadar jadi wacana tahunan.
Sebagai warga lokal, saya cukup sering mendengar respons khas setiap kali ada info UMK akan naik. Ada yang senang, ada yang sinis, ada juga yang sudah pasrah sejak awal. Karena pengalaman bertahun-tahun mengajarkan satu hal, UMK naik belum tentu gaji ikut naik. Di atas kertas bisa Rp2,4 juta, tapi di dunia nyata tetap saja “ya segini dulu”.
Padahal, kalau mau jujur, UMK itu bukan hadiah tahun baru. Bukan bonus kebaikan hati pengusaha. Dan jelas bukan angka opsional yang bisa dinegosiasikan sesuka hati.
UMK itu bukan opsi, tapi kewajiban
Izin saya sedikit nyeletuk sebagai warga Kebumen biasa. Bukan pejabat, bukan akademisi, apalagi aktivis ketenagakerjaan. Hanya orang lokal yang melihat langsung realitas di sekitar. Untuk para bos, juragan, pemilik usaha, atau apa pun sebutannya yang mempekerjakan karyawan di Kebumen, UMK itu mohon diperhatikan nggih. Betul-betul diperhatikan, bukan cuma dibaca sekilas lalu dilupakan.
Dalih-dalih seperti “usaha masih kecil”, “belum mampu”, “nanti menyusul”, atau “kondisi belum stabil” sejujurnya sudah terlalu sering terdengar. Sampai-sampai kalimat itu terdengar seperti template tahunan. Padahal, secara aturan, membayar di bawah UMK tetaplah pelanggaran, apa pun bungkus alasannya.
Yang perlu diketahui, UMK bukan saran. Bukan target jangka panjang. Bukan pula angka ideal yang bisa dicapai kalau usaha sedang ramai. UMK adalah batas minimum. Kalau sebuah usaha benar-benar tidak mampu membayar upah minimum, mungkin masalahnya bukan di angka UMK-nya. Bisa jadi persoalannya ada di model bisnis, skema keuntungan, atau cara memandang tenaga kerja itu sendiri.
Sebab yang dipertaruhkan di sini bukan cuma neraca keuangan usaha, tapi juga perut, kontrakan, dapur, dan kehidupan orang lain.
UMK naik di atas kertas, tapi segini di kehidupan
Mari kita jujur sebentar. Rp2,4 juta itu bukan angka yang bikin hidup mewah. Bahkan jauh dari kata “mapan”. Tapi di Kebumen hari ini, angka segitu setidaknya memberi nafas sedikit lebih panjang. Masalahnya, kenaikan UMK sering tidak datang sendirian.
Harga kebutuhan sudah lebih dulu naik. Kontrakan pelan-pelan naik. Gas elpiji makin sering langka. Ongkos transportasi ikut menyesuaikan. Rokok yang suka tidak suka masih jadi bagian hidup banyak pekerja, juga naik pelan tapi pasti. Akhirnya, UMK naik terasa seperti lari di treadmill. Capek, keringat keluar, tapi posisi tetap di tempat. Tahun baru datang dengan angka baru, tapi rasa hidupnya masih sama.
Itu sebabnya, UMK tidak boleh diperlakukan sekadar formalitas. Sebab bagi pekerja, angka itu bukan statistik. Itu soal bisa bayar kontrakan tepat waktu atau tidak. Bisa beli lauk agak layak atau kembali ke mi instan. Bisa menabung sedikit atau selalu habis di tengah bulan.
Antara realitas usaha dan tanggung jawab sosial
Tentu saja, tidak semua pengusaha itu jahat. Banyak usaha kecil di Kebumen yang benar-benar berjuang bertahan. Ini juga fakta. Tapi di situlah pentingnya kejujuran bersama. Kalau memang usaha belum mampu membayar sesuai UMK Kebumen, jangan dipoles seolah itu hal wajar. Jangan dinormalisasi. Jangan juga dibebankan sepenuhnya ke pekerja dengan dalih “yang penting kerja dulu”.
Yang harus diketahui, UMK lahir bukan untuk menyulitkan pengusaha, tapi untuk melindungi pekerja dari upah yang terlalu murah untuk hidup layak. Itu prinsip dasarnya. Kita sering lupa bahwa pekerja bukan sekadar tenaga. Mereka manusia yang pulang ke rumah, punya keluarga, punya kebutuhan, dan punya masa depan. Dan UMK adalah salah satu pagar paling dasar agar hidup mereka tidak jatuh terlalu dalam.
Tahun baru, angka baru, harapan lama
UMK Kebumen sudah ditetapkan. Tinggal dijalankan. Sesederhana itu sebenarnya. Tidak perlu perayaan. Cukup komitmen. Sebagai warga lokal, saya tidak sedang sok bijak atau merasa paling benar. Ini cuma celoteh warlok yang ingin melihat tahun baru datang dengan sedikit rasa adil. Bukan hanya adil di berita, tapi juga adil di slip gaji.
Sebab, UMK yang hanya hidup di atas kertas, sejatinya bukan UMK. Itu cuma angka. Dan angka, tanpa kebenarannya, tidak pernah benar-benar berarti apa-apa. Semoga tahun ini, UMK Kebumen bukan sekadar naik. Tapi juga benar-benar sampai.
Penulis: Akhmad Alhamdika Nafisarozaq
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.




















