UIN Malang Adalah Kampus Terbaik di Kota Malang yang Bisa Bikin Kamu Patah Hati Jika Memasang Ekspektasi Terlalu Tinggi

UIN Malang, Kampus Terbaik yang Bisa Bikin Kamu Patah Hati (Wikimedia Commons)

UIN Malang, Kampus Terbaik yang Bisa Bikin Kamu Patah Hati (Wikimedia Commons)

Bertahun-tahun hidup Kota Malang membuat saya berinteraksi dengan beragam kawan dari kampus-kampus besar di sana. Dari banyak cerita, UIN Malang adalah kampus terbaik kalau kamu mau melanjutkan studi di Kota Bunga ini.

UIN Malang, kata teman-teman saya, bisa memberi banyak hal. Yang pastinya sangat bermanfaat bagi para lulusannya. Namun, saya harus mengingatkan. Jangan terlalu tinggi memasang ekspektasi. Dalam hidup, hal-hal kayak gitu nggak baik. Nanti kamu bisa patah hati.

Tapi, kalau kamu memang bisa mengatur ekspektasi, UIN Malang memang kampus yang tepat. Kampus hijau dengan jargon “ulul albab” ini punya beragam hal yang bisa menempa fisik dan mental kamu agar tetap aman setelah jadi wisudawan. 

BACA JUGA: 3 Hal Menyebalkan di UIN Malang yang Justru Membuat Saya Kangen Ingin Balik Lagi ke Sana

Wajib ma’had setahun. Mau nggak mau, harus mau

UIN Malang adalah satu-satunya kampus Islam negeri di Indonesia yang mewajibkan mahasiswa baru tinggal di ma’had (semacam asrama pesantren) selama satu tahun. Ini bukan opsi bukan juga tawaran “kalau berkenan”. Ini wajib.

Banyak mahasiswa akan mulai mengalami fase eksistensial. Datang dengan bayangan jadi anak kuliahan yang fleksibel, eh mendadak hidupnya terjadwal dari sebelum subuh sampai malam. Bangun sebelum azan. Salat berjemaah. Kelas bahasa. Tadarus. Kelas lagi. Ta’lim lagi. Dan begitu seterusnya.

Bakal sangat berat buat mahasiswa baru yang kalau bangun subuhnya karena alarm ketiga. Itu saja masih snooze. Tahun pertama di UIN Malang akan menjadi latihan kesabaran.

Banyak yang bilang, “Ah, cuma setahun.” Tapi, setahun itu 365 hari. Bukan tiga kali rapat panitia. Bukan juga dua kali UTS. Ini setahun hidup berjemaah, disiplin kolektif, dan belajar menyeimbangkan ego pribadi dengan sistem.

Maka, jangan sampai kamu terlewat membaca syarat kuliah di UIN Malang dan berakhir nangis di pojokan.

Mau lulus dari UIN Malang? Gampang kok, ma’had juga harus lulus, Cinta

Di UIN Malang, lulus kuliah bukan cuma soal IPK dan skripsi. Ada satu gerbang sakral yang harus kamu lewati, yaitu lulus ma’had. Kalau tidak lulus ma’had? Ya maaf. Gelar sarjana hanya akan jadi angan-angan belaka.

Kegiatan ma’had itu padatnya bukan main. Bangun sebelum azan, jemaah, kelas bahasa sampai pagi. Siang tadarus (dan wajib khatam). Sore kelas Bahasa Arab lagi. Malam ta’lim afkar dan ta’lim Qur’an. Di sela-sela itu ada kuliah reguler yang sudah mengantri padat.

“Tugasnya pasti sedikit dong?” Oh tentu tidak, sayang. Tugas tetap bertumpuk, indah nan ceria, menunggu kamu kerjakan dengan penuh cinta dan air mata.

Konsep kuliah di UIN Malang adalah keseimbangan. Visinya ialah melahirkan mahasantri ulul albab: cerdas intelektual, matang spiritual. Jadi kamu harus seimbang. Dunia dapat, akhirat jalan.

Tapi sekali lagi, ini bukan kampus yang bisa kamu jalani dengan mode yang penting lulus. Di sini kamu akan dipaksa (dalam arti positif) untuk naik level. Mental, waktu, dan manajemen hidup diuji total.

TOAFL adalah kunci mengikuti ujian skripsi di UIN Malang

Kamu pikir drama berhenti di ma’had? Tenang, masih ada lagi. Di UIN Malang, ada satu tiket tambahan menuju ujian skripsi, yaitu sertifikat TOAFL (Test of Arabic as a Foreign Language). Dan bukan sekadar punya. Harus lulus di atas standar.

Kamu nggak akan bisa nego. Tidak ada jalur titip tanda tangan dan tidak ada cerita njoki. Kalau belum lulus TOAFL, ya jangan mimpi mau daftar sidang. Sebab, otomatis, sistem akan menolak dengan sopan.

Ini unik. Di banyak kampus, syarat bahasa asing biasanya TOEFL atau IELTS. Di sini, selain TOEFL, Bahasa Arab adalah harga mati. Mau kamu Jurusan Ekonomi, Psikologi, Sains, atau Teknik. Standar Bahasa Arab tetap berdiri tegak menjadi pendamping Bahasa Inggris.

Dan disinilah realita mulai berbicara. Tidak semua mahasiswa UIN Malang berasal dari latar belakang pesantren. Juga. tidak semua fasih nahwu shorof. Ada yang dulu SMA umum, bahkan mungkin baru kenal i’rab setelah ospek.

Maka, perjuangan lulus TOAFL sering menjadi episode tersendiri bagi mahasiswa akhir. Mulai dari les tambahan, belajar ulang dari dari matkul semester awal, hingga menghafal mufradat sambil ngerjain revisi skripsi.

Apakah ini berat? Tentu saja. Mahasiswa harus dipaksa untuk bisa berbahasa Arab, minimal dasar. Sebab, jika mundur, harapan jadi sarjana UIN Malang, hanya angan-angan belaka.

BACA JUGA: Tak Cuma Dosen Guling-guling, Ujian Mahasiswa di UIN Maliki Malang Harus Tahan Hadapi “Dosen-dosen Absurd”

Harus siap jadi ustaz atau ustazah dadakan saat KKN

Masuk fase KKN, kamu akan merasakan satu fenomena sosial yang menarik. Begitu orang tahu kamu dari UIN Malang, ekspektasi langsung naik. “Oh, dari UIN? Bisa memimpin doa ya?”, “Ngisi kultum bisa?”, “Ngomongnya pakai Bahasa Arab dong”, adalah kalimat yang sangat mafhum didengar.

Entah dari warga, perangkat desa, atau mahasiswa kampus lain. Image itu otomatis melekat. Kamu membawa almamater kampus Islam. Maka secara sosial, kamu dianggap representasi nilai religius.

Padahal faktanya? Tidak semua mahasiswa UIN Malang jurusan keagamaan dan Sastra Arab yang jago memimpin doa hingga lancar berbahasa Arab. Ada yang ambil manajemen, akuntansi, teknik, bahkan sains murni. Tapi publik tidak terlalu peduli detail itu. Pokoknya kamu dari UIN, maka kamu adalah ustaz dan ustazah.

Tiba-tiba kamu yang biasanya cuma jadi makmum, harus memimpin doa di depan satu kampung. Atau ada saja yang meminta kamu ceramah dadakan padahal persiapan nol. Jadi, gelar mahasiswa UIN bukan cuma label akademik, tapi simbol sosial. MasyaAllah tabarakallah, bunda.

Semoga tulisan ini bisa membuatmu yakin jika UIN Malang memang jadi kampus yang tepat. Namun tetap, jangan terlalu tinggi memasang ekspektasi agar tidak patah hati.

Penulis: Ferika Sandra

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA UIN Malang Adalah Kampus Istimewa, Tidak Ada Kampus Lain di Malang yang se-Istimewa Kampus yang Punya 2 Masjid Ini

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version