Beberapa waktu lalu, saya membaca salah satu artikel di Mojok berjudul “Tugas Presentasi di Kampus: Yang Presentasi Nggak Paham, yang Dengerin Lebih Nggak Paham”, yang ditulis oleh Nadia Dwi Apriani. Sejak membaca judul, saya langsung dejavu, sebab ketika masih kuliah, saya merasa demikian. Maksudnya tentang tugas presentasi mahasiswa.
Saya pernah diskusi dengan teman saya betapa sia-sianya sistem presentasi di perkuliahan. Namun, ketika sudah lulus, dan akhirnya menjadi dosen, saya merasa masalahnya bukan di metodenya, melainkan pelaksanaan. Saya merasa perlu menulis ini untuk memberikan sudut pandang lain.
Saya tidak membantah sepenuhnya artikel tersebut, toh sebenarnya di akhir artikelnya, blio mengatakan, “Kalau dirancang dengan baik dengan sumber jelas, kelompok yang proporsional, evaluasi dosen, dan penjelasan yang baik, presentasi bisa jadi metode belajar yang efektif.” Artinya dia sudah sadar bahwa kesalahannya bukan di metode presentasi.
Presentasi mahasiswa itu memang harus salah, bukan langsung benar
Keluhan pertama yang dalam artikel tersebut adalah: mahasiswa disuruh mencari materi sendiri, tapi tidak diberi arahan sumber yang benar. Lalu akibatnya copas, bingung, dan tidak paham.
Mohon maaf, dengan segala hormat, saya ingin mengatakan bahwa pendidikan memang mengutamakan proses. Iya, dalam belajar memang perlu salah dulu, memang nggak harus langsung bisa. Dan itu wajar.
Dalam pendidikan, ada konsep discovery learning. Mahasiswa memang perlu merasakan bingung, salah pilih sumber, bahkan keliru memahami istilah. Kenapa? Karena belajar bukan proses instan. Kalau sejak awal semua sudah disuapi (jurnalnya apa, halaman berapa, kesimpulannya apa) lantas apa bedanya sama anak SD?
BACA JUGA: Terberkatilah Para Tukang Presentasi Tugas Kuliah Snob
Cara belajar paling efektif adalah mengajar
Ada satu prinsip klasik yang sering dilupakan: seseorang baru benar-benar bisa memahami materi jika ia bisa menjelaskan ke orang lain. Dalam praktiknya, tugas presentasi mahasiswa itu memaksa mahasiswa untuk membaca, menyusun logika, lalu mengucapkan ulang dengan bahasanya sendiri agar teori ndakik-ndakik jadi mudah dipahami.
Kalau masih membaca slide, artinya ia belum sampai tahap paham, dan tidak apa-apa juga. Masih ada semester selanjutnya untuk berkembang lebih baik lagi. Jadi, tugas presentasi mahasiswa bukan hasil akhir. Ia adalah proses. Menilai presentasi seolah ia produk final itu tentu keliru sejak dari pikiran.
Kerja kelompok nggak merata? Selamat datang di dunia nyata
Masih dalam artikel tersebut, keluhan selanjutnya adalah, anggota kelompok banyak, tapi yang kerja cuma itu-itu saja. Yang rajin jadi korban, yang pasif tetap dapat nilai.
Saya paham betul ini menyebalkan. Tapi begitulah hidup. Kalau kata Patrick Star, “Hidup memang tidak adil, jadi biasakanlah dirimu”. Maksud saya, di masyarakat nanti, maupun di dunia kerja juga akan begitu. Tidak semua tim berjalan ideal. Ada yang narik beban, ada yang numpang nama.
Dan bukankah mempelajari realitas juga penting? Agar nggak kagetan sejak awal. Kalau kata Plato, “yang ideal hanya ada di kepala.” Yah, saya kira sudah sangat wajar jika kampus menjadi ruang simulasi di kehidupan nanti.
Soal ChatGPT, masalahnya bukan pada AI
Terakhir, ada juga keluhan soal jawaban presentasi yang terlalu mengandalkan ChatGPT atau AI. Saya tidak menyangkal itu. Di kelas saya, fenomena ini juga sering muncul, terutama di awal semester. Mahasiswa baru presentasi, lalu begitu ditanya, langsung refleks menunduk ke layar HP. Tak lama jawaban muncul dengan rapi dan baku sekali bahasanya.
Tapi jujur saja, ini bukan hal baru. Waktu saya masih kuliah dulu, kami juga melakukan hal yang sama, hanya medianya berbeda. Dulu bukan ChatGPT, tapi Google. Jadi, kalau mau jujur, masalahnya bukan pada teknologinya, tapi pada mentalitas belajarnya.
Dalam mengajar, saya sering menekankan soal keberanian dan penguasaan materi. Saya selalu bilang ke mahasiswa: salah itu nggak apa-apa. Justru dari jawaban salah itu diskusi bisa berjalan.
Meski begitu, saya tidak anti AI. Sama sekali tidak. Bahkan saya merasa kehadiran AI itu anugerah. Sebab, hari-hari ini saya hampir tidak pernah lagi menemui pertanyaan mahasiswa soal definisi istilah, pengertian konsep dasar, atau “Pak, maksudnya ini apa?”. Bukan karena mereka mendadak jenius, tapi karena pertanyaan-pertanyaan dasar itu sudah mereka temukan jawabannya lebih dulu melalui AI.
Kunci masalahnya ada pada pengawalan, bukan presentasinya
Saya sepakat dengan satu kritik besar: tugas presentasi mahasiswa tanpa evaluasi dosen memang percuma. Kalau dosen hanya duduk, diam, maka yang gagal bukan mahasiswanya, tapi desain pembelajarannya.
Jadi, jangan salahkan metodenya, tapi perbaiki praktiknya. Presentasi memang bukan metode yang sempurna. Tapi ia juga bukan biang kesia-siaan. Ia akan efektif kalau tidak dianggap sebagai formalitas, baik oleh dosen maupun mahasiswa.
Dan menurut keyakinan saya, tugas presentasi—dengan segala kekurangannya—masih layak dipertahankan. Bukan agar ada alasan dosen males ngajar, tapi karena proses dan dinamikanya yang membuat mahasiswa belajar. Kalau sejak awal dijelaskan dosen saja, lantas apa kalian bisa menjamin tidak ada yang tidur di kelas?
Apa pun metodenya, semuanya bisa jadi efektif atau justru sia-sia tergantung bagaimana ia dijalankan. Ketika mahasiswa dibiarkan belajar tanpa arah, tanpa umpan balik, dan tanpa ruang untuk salah, wajar kalau kelas terasa hampa. Tapi ketika prosesnya dikawal, kesalahan dihargai, dan diskusi benar-benar dicatat serta ditanggapi, presentasi justru bisa jadi alat belajar yang akan sangat menumbuhkan pemahaman.
Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA PPT Itu Buat Belajar Presentasi, Bukan Belajar Membaca
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.















