Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Olahraga

Tragedi Kanjuruhan Cuma Jadi Album Foto Berdebu yang Terlupakan dan Tak Akan Pernah Diselesaikan

Esha Mardhika oleh Esha Mardhika
2 Oktober 2025
A A
Tragedi Kanjuruhan Cuma Jadi Album Foto Berdebu yang Terlupakan dan Tak Akan Pernah Diselesaikan

Tragedi Kanjuruhan Cuma Jadi Album Foto Berdebu yang Terlupakan dan Tak Akan Pernah Diselesaikan

Share on FacebookShare on Twitter

Tragedi Kanjuruhan itu kayak arsip tua yang dibiarkan bedebu. Sepak bola tetep jalan, kompetisi tetep gacor, penonton tetep sorak-sorak di tribun kayak nggak terjadi apa-apa. Padahal tragedi Kanjuruhan itu baru dua tahun lalu, lho. Tapi kok rasanya udah kayak kisah sejarah yang terjadi 20 tahun yang lalu.

Bukan karena waktu yang jalan terlalu cepet, tapi emang mental kita aja yang udah terbiasa bikin sejarah tragedi cepet basi. Kita ini bangsa yang punya mental FOMO. Hari ini viral, ikut-ikutan marah, besok sudah lupa karena ada trending baru, lusa udah ngributin berita baru soal artis yang selingkuh sama mantan pacarnya.

Padahal, yang hilang di Kanjuruhan itu bukan cuma hitungan angka, tapi 135 nyawa manusia. Yang hilang di Kanjuruhan itu bukan cuma harapan semua orang tua yang pengen lihat anak-anak mereka pulang dengan selamat, tapi lebih dari itu, yang hilang adalah rasa kemanusiaan. Yang hilang di Kanjuruhan itu bukan cuma mimpi ribuan penonton yang cuma mau pulang dengan gembira setelah nonton bola, tapi lebih dari itu, yang hilang adalah kebahagiaan sepak bola itu sendiri.

Tragedi Kanjuruhan cuma tinggal gambar mural di pinggir jalan

Dan yang lebih ironis lagi, kita kayak sengaja membiarkan Kanjuruhan jadi album foto yang berdebu. Dilihat kalau ada momen peringatan, terus ditutup lagi, disimpan di rak. Seolah-olah peringatan tragedi itu cuma tugas rutin doa bersama biar kelihatan peduli, pasang spanduk, terus habis itu move on dan ngelanjutin hidup kayak nggak pernah terjadi apa-apa.

Yang tersisa sekarang cuma mural-mural kenangan di jalanan. Selain gambar di sudut-sudut jalan itu, semuanya udah pudar. Bukan cuma di kepala kita aja yang pelan-pelan lupa, tapi kayaknya bangsa ini beneran udah mulai lupa sama tragedi berdarah terbesar di sepak bola Indonesia.

Nyatanya, sepak bola di Indonesia terus berjalan, kompetisi tetep menyala, penonton tetep bersorak, sponsor masih ngucurin dana dan bisnis sepak bola nggak pernah berhenti sedetik pun buat sejenak mengheningkan cipta dan mengenang para korban.

Gas air mata di tribun penonton itu pembunuhan nggak masuk akal

Kita mulai melupakan tindakan represif yang merenggut nyawa saudara kita di Kanjuruhan. Tindakan penertiban yang harusnya bisa dilakukan dengan cara manusiawi, justru berujung pembunuhan massal yang nggak masuk akal. Kita melupakan puluhan gas air mata yang ditembakkan ke tribun penonton yang merenggut banyak nyawa.

Tindakan yang jelas-jelas melanggar aturan FIFA itu harusnya nggak pernah dilakukan sama sekali. Bukannya menertibkan suporter yang ricuh, malah merenggut nyawa ratusan orang yang cuma pengen nonton sepak bola dan bersenang-senang saja.

Baca Juga:

Arema, Persik, dan Kota Malang yang Tak Pernah Belajar Apa-apa dari Tragedi Kanjuruhan

2 Tahun Tragedi Kanjuruhan dalam Dunia Doa dan Harapan Semu

Mereka berdesak-desakan menghindari gas air mata yang efeknya jauh lebih menyiksa daripada kematian itu sendiri. Belum lagi mereka harus berebut jalan keluar yang sangat terbatas karena banyak akses pintu yang sengaja ditutup. Penertiban kok malah kayak mengantar jutaan orang ke peristirahatan terakhir mereka.

Saya nggak lebay saat bilang gas air mata itu siksaan yang melebihi kematian. Saya pernah ngerasain gas air mata langsung. Rasa perihnya kayak mata yang udah luka terus disiram air garam, kepala pusing kayak dipukuli palu godam, hidung perih kayak nyedot merica sekilo sekaligus, dan semua saraf kayak mendadak mati rasa. Dan begitulah kiranya siksaan yang dirasakan sebelum ratusan korban Kanjuruhan itu meregang nyawa.

Kita cuma bakal pura-pura peduli lagi

Kita melupakan tragedi paling berdarah di sejarah sepak bola Indonesia itu. Lupa memang manusiawi. Tapi, melupakan Tragedi Kanjuruhan yang mestinya jadi titik balik? Itu bukan manusiawi lagi, itu namanya nggak peduli sama kemanusiaan. Kalau luka sebesar Kanjuruhan aja bisa pelan-pelan kita kubur di ingatan, jangan heran jika kita bakal jadi bangsa yang melupakan sejarah, bahkan juga perjuangan para pahlawan sekalipun bakal kita lupain.

Kalau nanti tragedi serupa datang lagi, jangan heran kita cuma bakal pura-pura terkejut dan pura-pura peduli untuk ke sekian kalinya.

Dan, kalau ada lagi tragedi yang sama, kita cuma bakal marah kalau semua orang marah. Kita bakal ngelupain masalahnya saat semua orang lupa. Dan habis itu, kita bakalan kembali berdebat ngotot soal siapa pesepakbola terhebat sepanjang masa, Messi atau Ronaldo. Kita nggak bakalan peduli lagi sama nyawa saudara kita.

Pada akhirnya, kita cuma bakal pura-pura berduka, pura-pura terkejut, pura-pura marah, dan pura-pura jadi orang yang peduli. Sepak bola tetep jalan, kita tetep hidup tanpa beban, tapi ibu para korban? Mereka bakal selamanya menangis meratapi kepergian anaknya, dan bakal selamanya benci sama sepak bola.

Seenggaknya ayo kita berkabung sejenak mendoakan para korban supaya tenang di sisi Tuhan mereka. Kita juga harus mulai bersuara kalau Tragedi Kanjuruhan harus menjadi titik balik sepak bola dan negara kita menuju kepedulian terhadap kemanusiaan. Seenggaknya, dimulai dari kita.

Tapi itu sih buat yang peduli. Buat orang yang nggak peduli, terserah kalian saja.

Penulis: Esha Mardhika
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Cerita Seorang Bapak yang Anak Perempuannya Jadi Korban di Tragedi Kanjuruhan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 7 Januari 2026 oleh

Tags: 135 korban kanjuruhangas air matakomnas ham kanjuruhanregulasi fifatragedi kanjuruhan
Esha Mardhika

Esha Mardhika

pemuda yang mencintai seni lebih dari apapun. terjebak dalam birokrasi tapi tetap berjuang menjaga pikiran agar tetap menjadi putra bangsa bebas merdeka

ArtikelTerkait

Tragedi Kanjuruhan: Mari Dukung Sanksi FIFA!

Tragedi Kanjuruhan: Mari Dukung Sanksi FIFA!

2 Oktober 2022
Devi Atok, Carok, dan Usaha Menantang Maut demi Keadilan

Devi Atok, Carok, dan Usaha Menantang Maut demi Keadilan

19 Maret 2023
PSSI dan FIFA sama-sama brengsek. (Mojok.co/Ega Fansuri)

PSSI dan FIFA Membuang Empati ke Tempat Sampah

19 Oktober 2022
Arema, Persik, dan Kota Malang yang Tak Pernah Belajar Apa-apa dari Tragedi Kanjuruhan

Arema, Persik, dan Kota Malang yang Tak Pernah Belajar Apa-apa dari Tragedi Kanjuruhan

12 Mei 2025
Kesaksian Suporter Malam Mencekam di Kanjuruhan dan Saya yang Gagal Menjadi Manusia Terminal Mojok

Kesaksian Suporter: Malam Mencekam di Kanjuruhan dan Saya yang Gagal Menjadi Manusia

3 Oktober 2022
Menolak Arema FC Main di Bantul Itu Sudah Betul (Unsplash)

Menolak Arema FC Main di Bantul Itu Sudah Betul

5 Januari 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Honda Civic Genio: Tampan, Nyaman, Harga 30 Jutaan, tapi Menuntut Kesabaran Mojok.co

Honda Civic Genio: Tampan, Nyaman, Harga 30 Jutaan, tapi Menuntut Kesabaran

6 Januari 2026
Saya Sadar Dracin Tidak Bermutu, tapi Saya Tetap Menontonnya sampai Tamat

Saya Sadar Dracin Tidak Bermutu, tapi Saya Tetap Menontonnya sampai Tamat

8 Januari 2026
Rujak Teplak Khas Tegal Adalah Anomali bagi Warga Blora, Rujak kok Jadi Menu Sarapan, Aneh!

Rujak Teplak Khas Tegal Adalah Anomali bagi Warga Blora, Rujak kok Jadi Menu Sarapan, Aneh!

9 Januari 2026
Pemasangan Lampu Merah di Persimpangan Purawisata Jogja itu Keputusan Konyol, Alih-alih Lancar, Malah Makin Macet!

Pemasangan Lampu Merah di Persimpangan Purawisata Jogja itu Keputusan Konyol, Alih-alih Lancar, Malah Makin Macet!

6 Januari 2026
Grand Livina Bukan Mobil Lemah, Ia Adalah Bukti Kenyamanan Sejati Memang Butuh Ongkos dan Keringat

Grand Livina Bukan Mobil Lemah, Ia Adalah Bukti Kenyamanan Sejati Memang Butuh Ongkos dan Keringat

5 Januari 2026
Alasan Kebumen Ditinggalkan Warganya dengan Berat Hati Mojok.co

Alasan Kebumen Ditinggalkan Warganya walau dengan Berat Hati

7 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Super Flu yang Muncul di Jogja Memang Lebih Berat dari Flu Biasa, tapi Beda dengan Covid-19
  • Derita Anak Bungsu Saat Kakak Gagal Penuhi Harapan Orang tua dan Tak Lagi Peduli dengan Kondisi Rumah
  • Nasib Sarjana Kini: Masuk 14 Juta Pekerja Bergaji di Bawah UMP, Jadi Korban Kesenjangan Dunia Kerja
  • Mengajari Siswa Down Syndrome Cara Marah, karena Dunia Tidak Selalu Ramah
  • Dari Coffee Shop “Horor”, Nira, hingga Jam Tangan Limbah Kayu: Pasar Wiguna Menjaga Napas UMKM Lokal
  • Curhatan Guru BK Hari Ini: Profesi Dipandang “Sepele”, Padahal Harus Hadapi Gen Z yang Masalahnya Makin Kompleks

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.