Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Otomotif

Toyota Fortuner Memang Biadab dan Bikin Pengendara Terpacu Ugal-ugalan, Bikin Saya Kesulitan Bertanggung Jawab

Raden Muhammad Wisnu oleh Raden Muhammad Wisnu
17 Juni 2025
A A
Semua Orang Benci Toyota Fortuner dan Pajero Sport, Sampai Mereka Mencobanya Sendiri

Semua Orang Benci Toyoya Fortuner dan Pajero Sport, Sampai Mereka Mencobanya Sendiri (Amith Ramakrishna via Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa hari yang lalu, saya membaca tulisan Mas Rizky yang judulnya Semua Orang Membenci Honda PCX dan Yamaha NMAX, Sampai Mereka Mencoba Motor Tersebut. Saya merasakan hal yang sama, hanya beda jenis kendaraan saja. Kalau Mas Rizky membicarakan tentang Honda PCX dan NMAX, saya sedang membicarakan Toyota Fortuner dan Pajero Sport.

Iya, nggak salah lagi. Fortuner dan Pajero, dua mobil biadab yang sering bikin kalian mengutuk di jalanan.

Selama lebih dari satu dekade, saya punya pemikiran, Ngapain sih orang-orang pada punya Fortuner dan Pajero Sport? Padahal mereka tinggal dalam kota, bukan pedalaman Kalimantan atau Papua yang butuh mobil bongsor buat keperluan offroad?

Pemikiran saya ini pun diamini oleh banyak orang, karena saking banyaknya (oknum) pengendara Fortuner dan Pajero yang ugal-ugalan di jalan arogan tak mau kalah. Banyak di antaranya bukan personil TNI/Polri, tapi memasang strobo lalu tetot tetot sembarangan di kala macet dan nyuruh orang minggir.

Sampai akhirnya, pada akhir 2023, atasan saya di kantor memberikan job sampingan pada saya untuk nganterin beliau dan keluarganya liburan ke Jogja untuk liburan akhir tahun.

“Kamu pernah nyetir ke Jogja nggak pakai Fortuner?”

Saya pun menjawab, “Nyetir ke luar kota sih udah biasa dari SMA. Tapi belum pernah kalau pakai Fortuner”

Lalu beliau pun meyakinkan saya bahwa Fortuner itu sama seperti mobil yang biasa saya kendarai pada umumnya seperti Honda Brio atau Toyota Avanza. Bedanya, ukurannya lebih besar saja. Beliau pun memberi analogi seperti Honda Supra X 100 milik saya dan PCX, nggak ada bedanya selain ukurannya yang lebih besar saja.

Baca Juga:

Gerbang Tol Kota Pekalongan, Tempat Nongkrong Favorit Anak Muda Pekalongan

Pengalaman Sehari-hari Lewat Tol Jakarta-Tangerang yang Bikin Tua di Jalan

Menjajal Toyota Fortuner untuk kali pertama

Pada hari H, saya sangatlah tegang ketika pertama kali berada di cockpit Toyota Fortuner. Meski saya bukan pilot Garuda Indonesia, saya merasa bahwa ukuran body mobil yang besar beserta tenaganya yang besar ini berbanding lurus dengan tanggung jawabnya. Saya bertekad untuk tak muluk-muluk sampai Jogja dengan cepat. Yang penting bawa diri dan seluruh penumpang dengan selamat tanpa kekurangan apa pun. Dah, sesederhana itu.

Saya pun mengobrol dengan kakek dari atasan saya selalu pemilik mobil. Beliau mengajari saya tentang fungsi-fungsi mobil berbadan bongsor tersebut. Satu jam pertama, saya beradaptasi dengan ukurannya yang besar. Saya menginjak pedal rem dan gas pelan-pelan agar nggak terlalu ngebut di jalanan provinsi Kabupaten Sumedang yang berkelok nggak terlalu besar.

Hingga saatnya saya memasuki Tol Trans Jawa yang panjang tersebut.

Pantes pada ngebut

Saya pun akhirnya memahami kenapa para pengendara Toyota Fortuner maupun mobil bongsor sebangsanya ini kerap kali kebut-kebutan di jalan tol. Saya dapat mencapai kecepatan 120 km/jam tanpa harus menginjak pedal gas dalam-dalam. Sebagai orang yang biasanya hanya mengendarai Honda Brio atau mentok-mentok Toyota Avanza, tentu saja saya kaget saat pertama kali mengendarai mobil bongsor ini di jalan tol.

Sebab, ketika mengendarai Honda Brio, saya harus menginjak pedal gas agak dalam untuk mencapai kecepatan lebih dari 80 km/jam. Bahkan, sering kali mobilnya harus ngeden terlebih dahulu selayaknya saat kita sedang buang air besar. Saat melewati tanjakan menuju Bukit Rhema di Magelang maupun Dataran Dieng pun sama, saya nggak harus menginjak pedal gas dalam-dalam untuk melewati tanjakan curam. Dari situ saya paham kenapa banyak pengendara Fortuner yang tergoda buat ugal-ugalan di jalan.

Namun, sesuai tekad saya saat awal mengendarai kendaraan tersebut, saya nggak berani bawa mobil lebih dari 100 km/jam kecuali untuk mendahului kendaraan lain. Dan saya pun hanya mendahului kendaraan lain dari lajur kanan, bukan dari lajur kiri apalagi via bahu jalan karena saya sadar ini bukanlah semesta Grand Theft Auto atau Need for Speed.

Fortuner nggak seburuk itu di tangan yang tepat

Sepanjang perjalanan melewati Tol Trans Jawa, kakek dari atasan saya ini bercerita tentang latar belakangnya membeli Toyota Fortuner meskipun beliau nggak butuh Fortuner buat melintasi pedalaman Kalimantan atau Papua.

Utamanya, untuk membopong keluarganya kalau mau liburan kayak gini. Kalau beli LCGC macam Honda Brio kan nggak bisa muat banyak orang beserta barang bawannya.

Alasan kedua, sebagai pemilik pabrik oven di Sumedang, sering kali beliau membutuhkan mobil untuk membawa oven, material pembuat oven, maupun tetek bengek lainnya dalam kesehariannya sehingga butuh mobil mobil sebesar ini.

Alasan ketiga, beliau ini sudah kepala tujuh. Selama lebih dari setengah abad, beliau bekerja keras banting tulang cari duit. Masa nggak boleh menikmati akhir hidupnya dengan beli mobil dari jerih payahnya?

Selanjutnya, sampai tulisan ini saya tulis, saya dipercaya oleh kakek atasan saya maupun atasan saya untuk membawa Fortuner ini kemana-mana. Mulai dari Jakarta-Bandung untuk keperluan kantor tempat saya bekerja maupun urusan pribadi. Hingga beberapa kali bolak-balik Bandung-Surabaya-Malang untuk dua urusan yang sama.

Pada akhirnya, baik Toyota Fortuner, Mitsubishi Pajero Sport, McLaren, hingga Honda Supra X 100 sekalipun, gimana yang menungganginya. Ada yang menungganginya dengan tanggung jawab, ada yang menungganginya dengan ugal-ugalan. Satu hal yang pasti, setiap kendaraan punya kekurangan serta kelebihannya masing-masing. Dari perkara teknis kendaraan hingga urusan cicilan hingga perpajakannya. Sudah banyak yang review di internet. Sesuaikan saja dengan kebutuhan dan isi dompet masing-masing.

Penulis: Raden Muhammad Wisnu
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Toyota Fortuner, Mobil yang Memancarkan Aura Kesombongan dan Membuat Pengendara Lupa Diri Sesaat

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 18 Juni 2025 oleh

Tags: jalan tolpajero sporttoyota fortuner
Raden Muhammad Wisnu

Raden Muhammad Wisnu

Lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung yang bekerja sebagai copywriter. Asal dari Bandung, bercita-cita menulis buku. Silakan follow akun Twitternya di @wisnu93 atau akun Instagram dan TikToknya di @Rwisnu93

ArtikelTerkait

Jalan Tol Ungaran-Salatiga Adalah Tol dengan Pemandangan Paling Cantik di Jawa Tengah

Jalan Tol Ungaran-Salatiga Adalah Tol dengan Pemandangan Paling Cantik di Jawa Tengah

15 Desember 2024
Pelase, Stop Menggunakan Bahu Jalan Tol sebagai Jalur Menyalip!

Please, Stop Menggunakan Bahu Jalan Tol sebagai Jalur Menyalip!

1 November 2024
Semua Orang Benci Toyota Fortuner dan Pajero Sport, Sampai Mereka Mencobanya Sendiri

Pajero Sport dan Fortuner Memang Gagah di Jalan Rusak, tapi di Jalan Tol Mereka Pecundang

3 September 2025
Jalan Tol Lampung: Penggerak Mobilitas, Pembunuh UMKM bus akap

Pengalaman Saya Naik Bus AKAP dan Turun di Jalan Tol: Ngeri-Ngeri Sedap, Jangan Pernah Ditiru!

21 Juli 2024
Rest Area 754 A Tol Surabaya-Gempol Mirip Mal: Nggak Cuma Restoran dan Kafe, Toko Baju pun Ada di Sini

Rest Area 754 A Tol Surabaya-Gempol Mirip Mal: Nggak Cuma Restoran dan Kafe, Toko Baju pun Ada di Sini

23 September 2025
Jalan Layang MBZ, Mimpi Buruk Pengguna Jalan Tol Jakarta-Jawa Barat

Jalan Layang MBZ, Mimpi Buruk Pengguna Jalan Tol Jakarta-Jawa Barat

18 Juni 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sisi Gelap Mahasiswa Timur Tengah- Stempel Suci yang Menyiksa (Unsplash)

Sisi Gelap Menjadi Mahasiswa Timur Tengah: Dianggap Manusia Suci, tapi Jatuhnya Menderita karena Cuma Jadi Simbol

5 Februari 2026
Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan

Jogja Memang Santai, tapi Diam-diam Banyak Warganya yang Capek karena Dipaksa Santai meski Hampir Gila

2 Februari 2026
Gudeg Malang Nyatanya Bakal Lebih Nikmat ketimbang Milik Jogja (Unsplash)

Membayangkan Jika Gudeg Bukan Kuliner Khas Jogja tapi Malang: Rasa Nggak Mungkin Manis dan Jadi Makanan Biasa Saja

1 Februari 2026
Petaka Terbesar Kampus- Dosen Menjadi Joki Skripsi (Pixabay)

Normalisasi Joki Skripsi Adalah Bukti Bahwa Pendidikan Kita Memang Transaksional: Kampus Jual Gelar, Mahasiswa Beli Kelulusan

4 Februari 2026
5 Bentuk Sopan Santun Orang Solo yang Membingungkan dan Disalahpahami Pendatang  MOjok.co

5 Sopan Santun Orang Solo yang Membingungkan dan Disalahpahami Pendatang 

2 Februari 2026
Pengendara Mobil Nggak Usah Ikut-ikutan Lewat Jalan Tikus, Kalian Nggak Diajak!

Pengendara Mobil Nggak Usah Ikut-ikutan Lewat Jalan Tikus, Kalian Nggak Diajak!

31 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.