Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Tolong Kasih Tahu Saya, Siapa yang Mendesain Tata Letak Purwokerto, karena Saya Ingin Tahu Apa yang Beliau Pikirkan

Rendi oleh Rendi
29 Juli 2025
A A
Selamat Datang di Purwokerto, Kota Tanpa Ojol di Stasiun

Selamat Datang di Purwokerto, Kota Tanpa Ojol di Stasiun (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kalau ada kompetisi nasional soal kota dengan persimpangan terbanyak per kilometer persegi, Purwokerto pasti masuk tiga besar. Bukan karena ambisi, tapi karena sepertinya dari dulu tidak ada yang benar-benar berniat membuat tata letak kota ini menjadi masuk akal.

Bayangkan. Jalan bisa lurus sebentar, lalu langsung bercabang seperti ranting pohon jati di musim kemarau. Belum lagi urusan lampu merah yang muncul tanpa aba-aba. Semuanya bisa terjadi di kota yang secara administratif terbagi ke dalam empat kecamatan, tapi secara logika kadang terasa seperti empat dunia yang berbeda.

Coba kita mulai dari Jalan Jenderal Soedirman yang membentang dari barat ke timur, membelah Kecamatan Purwokerto Barat dan Purwokerto Timur. Sekilas, jalan ini tampak seperti jalan utama yang sederhana. Tapi begitu kamu mulai masuk dari perempatan Palma, belokan ke arah utara menuju Jalan Gerilya akan mengantarmu ke persimpangan super sibuk di Kelurahan Berkoh.

Di sana, ada pertigaan yang selalu rawan bikin pengemudi panik karena arah utara bisa ke GOR Satria. Arah barat bisa ke Karangklesem. Dan arah timur masuk lagi ke jantung kota lewat Jalan Suprapto yang justru semakin sempit padahal itu jalur strategis.

Purwokerto Selatan

Masuk ke wilayah Kecamatan Purwokerto Selatan, kita akan bertemu Jalan Martadireja. Di atas kertas ini hanya jalan penghubung, tapi kenyataannya adalah arena survival. Belum juga kamu lewat 500 meter dari Simpang Tiga Andhang Pangrenan, sudah disambut lagi oleh Simpang Empat Kranji yang tidak punya marka jalur yang jelas.

Belok ke mana saja bisa, tapi tidak pernah jelas mana yang prioritas. Kadang motor dari arah timur masuk begitu saja tanpa lampu sein, padahal dari barat mobil sedang belok kiri dengan niat mulia mengantar anak ke bimbel.

Kalau kamu nekat ambil arah utara lewat Jalan Pramuka, masuklah ke zona yang bahkan penduduk lokal pun sering salah belok. Di Kelurahan Karangpucung, ada satu bundaran kecil yang tidak resmi. Tidak pernah diakui dalam peta, tapi di lapangan fungsinya seperti bundaran besar yang mempertemukan Jalan Pramuka, Jalan Gunung Slamet, dan Jalan Kampus.

Pagi dan sore hari, tempat ini bisa jadi episentrum kemacetan karena mahasiswa, tukang parkir, sampai tukang cilok semuanya tumpah ruah tanpa urutan yang pasti. Apalagi kalau hujan, semua rambu seperti dilupakan.

Baca Juga:

Turunan Muria: Jalur Tengkorak yang Semua Orang Tahu, tapi Seolah Dibiarkan Merenggut Korban

Orang Purwokerto Adalah Manusia Paling Sombong se-Kabupaten Banyumas

Lanjut ke Purwokerto Utara

Lanjut ke Kecamatan Purwokerto Utara, kita akan menemui Jalan HR Boenyamin yang secara struktur seperti jalan utama, tapi secara perasaan seperti jalan lingkar karma. Setiap simpangan di sini bisa mengarahkanmu ke tempat yang tidak kamu duga. Misalnya, dari pertigaan dekat Universitas Jenderal Soedirman ke arah timur, kamu bisa masuk ke gang kecil yang ternyata mengarah ke Pasar Glempang.

Tapi kalau kamu ambil jalan ke kanan, kamu akan berakhir di tikungan tajam Jalan Rajawali yang secara misterius punya lampu merah meskipun kendaraan dari arah berlawanan hanya lewat setiap dua menit sekali.

Lampu merah di Purwokerto seperti hubungan toxic. Ada terus. Tidak tahu fungsinya apa. Tapi kamu tidak bisa menghindar. Di Jalan DI Panjaitan misalnya, dari Simpang Empat RITA Supermall ke arah barat menuju Simpang Empat Palma, kamu akan berhenti di tiga lampu merah dalam jarak kurang dari satu kilometer. Rasanya seperti ujian kesabaran. Saking seringnya berhenti, orang Purwokerto bisa tahu iklan yang diputar di radio hanya dari mendengarkan di lampu merah.

Dan jangan lupakan jalan-jalan kecil seperti Jalan Masjid di sekitar Pasar Wage. Jalan sempit, dua arah, dan penuh sepeda motor parkir. Tapi masih saja dijadikan jalur alternatif oleh pengemudi ojek online yang percaya diri. Tidak ada marka, tidak ada pembatas, hanya ada keyakinan bahwa semua akan sampai tujuan. Meski harus saling melipir dan menunggu bergantian seperti sedang antre ambil sembako.

Semua dianggap biasa

Anehnya, semua kekacauan ini sudah dianggap biasa. Tidak ada yang marah. Tidak ada yang protes. Bahkan warga lokal sering bilang dengan santainya “kalau kamu nyasar, yaudah muter aja nanti ketemu Pom Rakyat.” Karena benar, ke mana pun kamu pergi di kota ini, entah kenapa ujung-ujungnya pasti ketemu alun-alun, pom bensin, atau tempat fotokopi.

Mungkin inilah filosofi terbesar dari tata kota Purwokerto. Semua jalan itu bukan untuk mempercepat, tapi untuk mempertemukan. Antara kesabaran dan kenyataan. Antara kamu dan kenangan mantan yang rumahnya masih satu RT dengan jalan pintas ke stasiun.

Purwokerto memang tidak cocok untuk yang buru-buru. Tapi sangat cocok untuk mereka yang ingin belajar arti pasrah. Karena di kota ini, kamu tidak bisa bertanya “mana jalan tercepat,” yang bisa kamu tanyakan hanya “kalau aku lewat sini, nanti nyampe nggak?”

Dan seperti hidup, jawabannya tidak pernah pasti. Tapi kamu tetap jalan.

Penulis: Rendi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Customer Shopee Food yang Arogan seperti “Mas-mas Pelayaran” Memang Pantas Jadi Musuh Bersama

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 28 Juli 2025 oleh

Tags: purwokertotata letak purwokerto
Rendi

Rendi

Mahasiswa yang lebih percaya diskusi spontan di warung kopi daripada sidang pleno yang isinya saling cari muka dan lupa tujuan awal.

ArtikelTerkait

5 Tempat Main Gratis di Area Kampus Unsoed Purwokerto yang Jarang Disadari Mahasiswa

5 Tempat Main Gratis di Area Kampus Unsoed Purwokerto yang Jarang Disadari Mahasiswa

17 April 2025
Purwokerto Punya 3 Pusat Hiburan dengan Nama Aneh (Unsplash)

3 Pusat Hiburan dengan Nama Unik dan Aneh di Purwokerto yang Menjadi Daya Tarik Tersendiri

3 Mei 2024
Purwokerto, Tempat Ternyaman untuk Merayakan Patah Hati

Purwokerto, Tempat Ternyaman untuk Merayakan Patah Hati

14 Agustus 2024
Masalah Kabel di Purwokerto Persis Seperti Rumus Matematika, Sama-sama Ruwet dan Bikin Mumet!

Masalah Kabel di Purwokerto Persis Seperti Rumus Matematika, Sama-sama Ruwet dan Bikin Mumet!

14 Juni 2023

3 Spot yang Harus Kalian Coba Kalau Ingin Menikmati Purwokerto dari Ketinggian

14 Juli 2024
3 Lampu Lalu Lintas di Purwokerto yang Bikin Darah Tinggi

3 Lampu Lalu Lintas di Purwokerto yang Bikin Darah Tinggi

11 Juni 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bakpia Kukus Tidak Layak Pakai Nama Bakpia Asli Jogja (Unsplash)

Bakpia Kukus Tidak Layak Menyandang Nama “Bakpia” karena Ia Bolu Kukus yang Mengaku sebagai Kuliner Asli Jogja

21 Februari 2026
4 Hal yang Wajar di Tegal, tapi Nggak Lazim dan Bikin Bingung Pendatang Mojok.co

4 Hal yang Wajar di Tegal, tapi Nggak Lazim dan Bikin Bingung Pendatang

20 Februari 2026
Saya Menemukan Ketenangan Bersama Muhammadiyah (Wikimedia Commons)

Saya Menemukan Ketenangan Bersama Muhammadiyah

24 Februari 2026
Berharap Terminal Bawen Semarang Segera Berbenah agar Tidak Membingunkan Pengunjung Mojok.co

Berharap Terminal Bawen Semarang Segera Berbenah agar Tidak Membingungkan Pengunjung

20 Februari 2026
Trio Senator AS Roma: Mancini, Pellegrini, Cristante

Trio Senator AS Roma

23 Februari 2026
Makanan di Jawa Memang Terkenal Manis, tapi Kenapa Sambelnya Ikutan Manis?

Makanan di Jawa Memang Terkenal Manis, tapi Kenapa Sambelnya Ikutan Manis?

20 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Pindah ke Lingkungan Muhammadiyah Lebih Tentram: Jauh dari Bunyi Toa Masjid yang Berisik hingga Terbebas dari Iuran dan Cap Islam Abal-abal
  • Cerita Perantau Jatim: Diremehkan karena Tinggal di Kos Kumuh Jogja, Bungkam Mulut Tetangga dengan Membangun Rumah Besar di Desa
  • Maunya Motor Matic, tapi Terpaksa Pakai Supra buat Kuliah di Fakultas “Elite” di UGM demi Menyenangkan Ayah
  • Sahur dengan MBG, Nilai Gizinya Lebih Cocok untuk Mahasiswa ketimbang Anak Sekolah
  • 35 Tahun Bekerja Keras demi Anak, tapi Kesepian di Masa Tua karena Dianggap Tak Pernah Hadir untuk Keluarga
  • Danau UNESA, Tempat Pelarian Pekerja Surabaya Gaji Pas-pasan dan Gila Kerja. Kuat Bertahan Hanya dengan Melamun

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.