Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Tips Plesiran ke Dieng Wonosobo agar Terhindar dari Pungli dan Tidak Pulang Bergelar Almarhum

Atikah Syahar Banu oleh Atikah Syahar Banu
17 November 2025
A A
Tips Plesiran ke Dieng Wonosobo agar Terhindar dari Pungli dan Tidak Pulang Bergelar Almarhum

Tips Plesiran ke Dieng Wonosobo agar Terhindar dari Pungli dan Tidak Pulang Bergelar Almarhum (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Masalah wisata alam di Indonesia umumnya berkutat pada dua hal, yaitu pungli dan aksesnya yang sulit. Tak terkecuali Dieng Wonosobo. Meski pemandangan alam di Dieng luar biasa indah, tapi terkena pungli cukup membuat saya ingin misuh-misuh. Ibarat sedang enak-enaknya menikmati rendang, malah tidak sengaja makan lengkuas yang nyelip. Selain itu, akses menuju beberapa lokasi wisata membuat saya merasa berada di ambang kematian.

Supaya terhindar dari dua hal tersebut, ada baiknya Anda belajar dari pengalaman saya saat plesiran ke Dieng.

Hindari ke Bukit Sikunir lewat jalur Sikarim

Tadinya, saya sudah menyimpan lokasi Gmaps Bukit Sikunir saat ke Dieng Wonosobo. Tapi saat ngobrol dengan warga lokal, dia mewanti-wanti supaya jangan pernah ke Bukit Sikunir mengikuti Gmaps.

Dia menjelaskan, kalau mengikuti Gmaps, akan diarahkan melewati jalur Sikarim dengan tanjakan ekstrim. Dia menyarankan saya untuk memilih rute titik 0 Dieng, karena jalurnya landai dan aspalnya bagus.

Saat mengecek di TikTok dengan memasukkan keyword Bukit Sikunir via Sikarim, ternyata memang benar yang dikatakan warga lokal tersebut. Tanjakan itu bahkan dijuluki sebagai tanjakan anakonda, karena sangat meliuk dan terjal. Belum lagi jalannya rusak dan berbatu. Tanjakan ini kerap menyebabkan mobil terperosok.

Saya langsung merasa nyawa saya diselamatkan oleh warga lokal itu. Coba kalau dia nggak bilang, entah bagaimana akhirnya nasib saya.

Waspadai pungli di Kawah Sikidang Dieng Wonosobo

Setelah menyaksikan sunrise di Bukit Sikunir, saya lanjut ke Kawah Sikidang. Lokasinya memang tidak jauh dari Bukit Sikunir.

Beres memarkirkan motor, saya masih harus berjalan agak jauh menuju Kawah Sikidang. Belum sampai gerbang, saya melihat banyak pengunjung sedang antre di posko yang bentuknya mirip pos satpam. Di dindingnya, terdapat tanda “TIKET” yang ditulis ala kadarnya menggunakan cat.

Baca Juga:

Wonosobo, Kota Asri yang Jalanannya Ngeri, kalau Nggak Berlubang, ya Remuk!

Nasi Megono Wonosobo, Olahan Nasi Terbaik yang Pernah Saya Cicipi dan Layak Dikenal Lebih Banyak Orang

Saya pun ikut mengantre di sana. Harga tiketnya hanya Rp10.000, tidak seperti informasi yang saya lihat di review Gmaps, Rp30.000 per orang. Wah, saya langsung girang dan merasa cuan. Anehnya, tidak seperti lokasi wisata lain di Dieng Wonosobo, kali ini saya tidak mendapat karcis.

Namun saya mengabaikan keanehan itu dan berjalan menuju gerbang Kawah Sikidang. Begitu sampai, ternyata di samping gerbang ada tempat penjualan tiket resmi dengan bangunan yang lebih proper. Berbeda jauh dengan posko tempat saya membeli tiket.

Pengunjung lain yang membeli tiket di tempat resmi, juga mendapatkan karcis. Saya menepok jidat. Ternyata saya sudah kena pungli.

Saya menghampiri petugas bagian nyobek karcis, dan mengatakan kalau sudah membeli tiket di posko depan. Tak disangka, petugas itu langsung mempersilakan saya masuk, meski saya tidak membawa karcis.

Akan tetapi, masalahnya belum selesai di situ. Saat hendak ke Candi Arjuna yang juga terletak di dataran tinggi Dieng Wonosobo, hanya ada tiket terusan Candi Arjuna dan Kawah Sikidang seharga Rp30.000. Tidak boleh beli terpisah. Jadi dari yang semestinya hanya perlu mengeluarkan Rp30.000 untuk ke Kawah Sikidang dan Candi Arjuna, malah menghabiskan Rp40.000 akibat kegocek penjual tiket abal-abal.

Pilah-pilih rute ke Telaga Menjer

Masih di dataran tinggi Dieng Wonosobo, tadinya saya tidak tahu kalau Telaga Menjer memiliki beberapa pintu masuk. Jadi saya asal saja memasukkan Telaga Menjer di Gmaps tanpa mengeceknya lagi.

Lha kok saya diarahkan ke pintu masuk yang anti-mainstream. Aksesnya menyeramkan. Hanya jalan setapak kecil dengan tanah berbatu. Sebelah kiri tebing, dan sebelah kanan langsung jurang. Meleng dikit, bisa-bisa saya pulang dengan tambahan gelar almarhumah. Benar-benar perjalanan yang mendebarkan dan memacu adrenalin, seperti berboncengan motor dengan Malaikat Izrail.

Poin positifnya, pemandangan di sini luar biasa indah. Saya bisa melihat keseluruhan Telaga Menjer dari atas. Selain itu, terdapat hamparan rumput yang sangat luas. Cocok jika ingin membuat video lari-larian ala Bollywood.

Area ini juga sangat sepi. Selain saya, hanya ada satu rombongan lain. Sisanya warga lokal yang sedang memancing dan ngarit.

Saat mau pulang, satu kali lagi saya harus melewati jalan yang sama, karena memang tidak ada jalan lain. Setelah berhasil melewati jalanan laknat itu, ternyata ngglethek, pintu masuk yang sangat mudah diakses berada tak jauh dari situ. Jalanannya lebar, aspalnya mulus. Ada banyak rombongan bus dan mobil yang masuk dari pintu yang ini.

Jadi kalau memang ingin ke Telaga Menjer yang tidak ramai pengunjung, bisa lewat jalan yang ekstrim tadi. Tapi kalau skill mengendarai motor kalian biasa-biasa saja seperti saya, sebaiknya jangan coba-coba. Lebih baik ke area Telaga Menjer yang ramai, ketimbang pulang-pulang hanya tinggal nama.

Semoga bisa menikmati keindahan Dieng Wonosobo tanpa terganggu pungli dan akses sulit

Itu tadi tips plesiran ke Dieng Wonosobo berdasarkan pengalaman saya. Saya berharap wisatawan dapat betul-betul menikmati pemandangan alam Dieng yang luar biasa indah, tanpa harus terganggu pungli dan akses yang sulit.

Semoga tips ini bisa bermanfaat buat kalian, yaa!

Penulis: Atikah Syahar Banu
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Jika Tidak Ada Dieng, Mungkin Wonosobo Jadi Lebih Maju.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 16 November 2025 oleh

Tags: dataran tinggi diengdiengdieng wonosobowisata diengwisata wonosobowonosobo
Atikah Syahar Banu

Atikah Syahar Banu

Baker sekaligus guru fotografi yang gemar menulis. Penggemar kecap manis dan anti makanan pedas.

ArtikelTerkait

Waduk Wadaslintang, Waduk dengan Segudang Potensi tapi Diabaikan Wonosobo, Sampai-sampai Diklaim Kebumen!

Waduk Wadaslintang, Waduk dengan Segudang Potensi tapi Diabaikan Wonosobo, Sampai-sampai Diklaim Kebumen!

21 Juli 2024
Jalan Raya Dieng-Kejajar, Jalur yang Membuat Pengendara Mengeluh hingga Misuh Mojok.co

Jalan Raya Dieng-Kejajar, Jalur yang Membuat Pengendara Mengeluh hingga Misuh

14 Mei 2024
Saya Hidup Cukup Lama hingga Bisa Melihat Wonosobo yang Daerah Pegunungan Itu Kebanjiran Mojok.co

Saya Hidup Cukup Lama hingga Bisa Melihat Wonosobo yang Daerah Pegunungan Itu Kebanjiran

12 Desember 2025
Jakarta Banjir Itu Biasa, tapi Kalau Wonosobo Banjir itu Baru Luar Biasa (Lucu)

Jakarta Banjir Itu Biasa, tapi Kalau Wonosobo Banjir itu Baru Luar Biasa (Lucu)

12 Desember 2024
Tempe Kemul, Bukan Mendoan dan Tempe Tepung. Ini Tempe Aliran 'Keras' terminal mojok.co

Tempe Kemul, Bukan Mendoan dan Tempe Tepung. Ini Tempe Aliran ‘Keras’

1 Maret 2021
Pertigaan Wadaslintang bak Pusat Kota bagi Warga Perbatasan Wonosobo-Kebumen Mojok.co

Pertigaan Wadaslintang bak Pusat Kota bagi Warga Perbatasan Wonosobo-Kebumen

15 Agustus 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dilema Lulusan D4: Gelar Sarjana Terapan, tapi Dianggap D3 yang “Magang” Kepanjangan dan Otomatis Ditolak HRD karena Bukan S1

Dilema Lulusan D4: Gelar Sarjana Terapan, tapi Dianggap D3 yang “Magang” Kepanjangan dan Otomatis Ditolak HRD karena Bukan S1

8 April 2026
Bus Jaya Utama Indo: Bus Patas Termahal di Jalur Pantura, Nyamannya Tak Seistimewa Harganya, tapi Tetap Layak Disyukuri

Bus Jaya Utama Indo: Bus Patas Termahal di Jalur Pantura, Nyamannya Tak Seistimewa Harganya, tapi Tetap Layak Disyukuri

8 April 2026
UMK Cikarang Memang Tinggi, tapi Biaya Hidup di Cikarang Tetap Murah, Jogja Can't Relate! scbd

Jika Harus Menjalani Sepuluh Ribu Kehidupan, Saya Tetap Memilih Jadi Pekerja Cikarang ketimbang Kakak-kakak SCBD

5 April 2026
Pilih Hyundai Avega Bekas Dibanding Mobil Jepang Entry-Level Baru Adalah Keputusan Finansial yang Cerdas Mojok.co

Pilih Hyundai Avega Bekas Dibanding Mobil Jepang Entry-Level Baru Adalah Keputusan Finansial Paling Cerdas

7 April 2026
Jangan Bilang Kudus Kota Sempurna kalau Tiap Lampu Merah Masih Dikuasai Badut dan Manusia Silver

Jangan Bilang Kudus Kota Sempurna kalau Tiap Lampu Merah Masih Dikuasai Badut dan Manusia Silver

8 April 2026
4 Ciri Nasi Padang Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan (Unsplash)

4 Ciri Nasi Padang Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan

8 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”
  • Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu untuk Impact Tak Sejelas kalau Magang
  • Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi
  • Umur 30 Cuma Punya Honda Supra X 125 Kepala Geter: Dihina tapi Jadi Motor Tangguh buat Bahagiakan Ortu, Ketimbang Bermotor Mahal Hasil Jadi Beban
  • Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living
  • Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.