Wonogiri begitu ramai malam ini. Jalanan begitu penuh dengan plat-plat asing yang bahkan tak saya temui sewaktu di Jogja. Ini pertanda bahwa libur lebaran telah tiba, dan perantau berbalut rindu akhirnya berlabuh di Kota Gaplek.
Kabupaten ini, memang tak pernah benar-benar ramai selain hari-hari lebaran. Libur panjang pun tak bikin lalu lintas kota ini kacau. Bahkan saya sudah lupa kapan terakhir kali ada kekacauan lalu lintas di Wonogiri kota.
Fakta itu bikin orang-orang menganggap, bahwa kota ini tempat terbaik untuk menghabiskan masa tua. Atau orang-orang masa kini menyebutnya dengan slow living. Saya amat setuju, sebab, memang kota ini punya semua.
Asalkan kamu ada di tempat yang lumayan tinggi—dan memang hampir semua daerah di kota ini tinggi, kamu bisa melihat betapa hijaunya Gunung Gandul. Hutan-hutan di sini masih lumayan lebat, udara tak begitu tercemar di sini. Meski pemandangan Merapi di kala pagi masih jauh lebih indah, tapi saya yakin tak semua orang bisa mengaksesnya.
Sedangkan di Wonogiri, pemandangan indah itu pasti.
Cuma, dalam hati, entah kenapa, saya ingin orang-orang salah menganggap kota ini terbaik dalam urusan tempat tinggal. Mungkin saya gatekeeping, atau memang saya bias karena menghabiskan satu setengah dekade di Jogja, yang bikin saya makin yakin, andai punya 15 miliar, saat ini juga saya membeli rumah di Jogja dan tak berpikir pulang dalam waktu yang lama.
BACA JUGA: 4 Pertanyaan yang Bikin Warga Wonogiri Naik Darah
Wonogiri kelewat lambat
Saya punya rumah di Wonogiri, tepatnya, sudah mencicilnya selama 5 tahun dan akan terus mencicilnya 10 tahun ke depan. Tapi, kebanyakan hari dalam seminggu saya habiskan di Jogja. Praktis, saya menjalani dua hidup yang berbeda. Saya menikmati Wonogiri yang begitu lambat, dan ikut berlari meski terengah-engah di Jogja.
Betul, saya menikmati hidup-hidup tanpa perasaan dikejar tuntutan. Saya menikmati betul udara bersih dan hamparan hijau yang saya selalu lihat saat menuju rumah ibu saya. Dan demi Tuhan, saya tak ingin menukarnya dengan apa pun.
Tapi keinginan, tak selalu berbanding dengan kenyataan. Wonogiri adalah salah satu kabupaten dengan UMR terendah. Lupakan omong kosong biaya hidup murah, karena tak pernah ada daerah yang benar-benar murah, kecuali Anda kelewat kaya.
Katakanlah saya jadi gila dan memilih resign dari Mojok, lalu memulai semuanya dari awal di Wonogiri, saya tak bisa membayangkan seberapa susah nantinya. Sebab, cari pekerjaan dengan gaji yang saya rasakan sekarang di Wonogiri itu susah, kalau tak mau dibilang mustahil.
Ada alasan kenapa orang-orang Wonogiri kebanyakan merantau, karena kans untuk hidup lebih baik nyatanya memang agak-agak susah.
Jogja, bedanya, meski UMR-nya sama-sama tiarap, hanya saja, kans cari uang di Kota Istimewa ini masih bisa diusahakan. Memang tak apple to apple, karena Kota Gaplek hanyalah kabupaten yang-orang-bilang-tak-ada-di-peta, sedangkan Jogja adalah, well, Jogja.
Saya bahkan berani jamin, andai saya boyong keluarga ke Jogja dan mulai dari 0, tidak sampai setahun, akan dapat pemasukan sama besarnya yang saya dapat sekarang. Beda cerita kalau yang saya buang adalah pekerjaan di Jogja dan memulainya di sini, itu bunuh diri karier.
Kebosanan yang mengerikan
Segala hal buruk di dunia ini, saya kira, awalnya dimulai dari kebosanan.
Di Wonogiri, menjadi bosan itu amat mudah. Bahwa kota ini mulai terpapar kemajuan, saya setuju. Tapi jika kau hidup di kota lain yang mungkin satu, dua, tiga langkah lebih maju, kembali ke sini sama saja memupuk kebosanan.
Saya tak perlu sebutkan apa-apa yang tak ada di Wonogiri, tapi ada di Jogja. Poinnya bukan itu.
Poinnya adalah, ketika kau pergi merantau, kilau-kilau yang kau temui itu akhirnya jadi norma buatmu. Hal-hal yang sebelumnya kamu anggap kemewahan, berubah jadi bare minimum. Masalahnya, itu semua terjadi karena kota tempatmu merantau memang besar dan maju. Sedangkan tempat asalmu, ia mungkin baru belajar tengkurap (mainly karena pemerintahnya korup dan bejat).
Ketika kenyataan mulai menghantammu, kamu baru sadar bahwa kamu ternyata tak pernah benar-benar ingin hidup di kampungmu. Kamu baru sadar kalau kamu hanya muak dengan rutinitas menjemukan yang—sayangnya—menghidupimu dan membiayaimu.
Maka dari itu, saya bilang bahwa saya ingin orang-orang ini salah. Wonogiri tidak seindah yang kamu pikir. Kamu hanyalah mangkel dengan Jakarta yang memuakkan, Semarang yang panas, Surabaya yang jauh lebih panas, atau tiket pesawat antarpulau di Indonesia yang mahalnya benar-benar goblok.
Tapi, jika kemuakan tersebut membuatmu memilih untuk lebih baik hancur di tanah sendiri, ketimbang mati berdiri di kampung orang, silakan kembali. Kota ini tak buruk, bahkan akan selalu membuatmu terpukau. Tapi, ya, nantinya, kamu akan tahu kenapa kamu pergi dari kota ini.
Penulis: Rizky Prasetya
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Menikmati Slow Living di Wonogiri: Hidup Nyaman di Kabupaten yang Dipandang Sebelah Mata
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















