Tinggal di Rumah Hook Itu Enak sih, tapi Ada Sisi Negatifnya – Terminal Mojok

Tinggal di Rumah Hook Itu Enak sih, tapi Ada Sisi Negatifnya

Artikel

Rahadian

Saya tinggal di Kota Bandung. Rumah saya berada di pojok jalan alias hook. Alhamdulilah, rumah saya cukup luas dan punya dua lantai, jadi saya dan keluarga nyaman tinggal di sini. Ditambah lokasinya pun jauh dari ingar bingar kendaraan bermotor. Akan tetapi, tinggal di rumah hook begini ada sisi negatifnya juga. Kalau begitu, apa sih nggak enaknya?

#1 Tembok samping rumah sering jadi ajang vandalisme

Lantaran rumah saya berada di pojok jalan, tembok samping rumah langsung menghadap jalan raya. Tembok ini sering kali jadi media aksi vandalisme atau corat-coret pylox yang dilakukan oknum tak bertanggung jawab. Tembok yang dicoret biasanya diisi dengan aneka nama hewan yang biasa digunakan untuk mengumpat hingga nama alat kelamin manusia. Coretannya pun berwarna-warni.

Pertengahan tahun lalu, karena tembok samping sudah penuh dengan coretan, kami memutuskan untuk mengecat tembok tersebut. Sebagai penghuni rumah, kami nggak nyaman melihat coretan-coretan tersebut. Cat tembok rumah pun sudah kusam karena sudah hampir sepuluh tahun nggak dicat. Eh, tiga bulan kemudian, coretan-coretan pylox muncul lagi. Weleh, weleh…

Seperti biasa, ada beraneka nama hewan dan nama alat kelamin manusia. Ini menjadi ciri khas coretan pada dinding. Mau nggak mau temboknya harus dicat lagi. Saya jadi harus menyiapkan anggaran dana lagi untuk membeli cat dan juga waktu luang.

Jelas saja saya merasa kesal dengan kelakuan orang-orang yang suka corat-coret tembok rumah orang sembarangan. Kalau mereka mencoreti tembok dengan seni grafiti atau kalimat-kalimat motivasi ala Mario Teguh yang diukir dengan indah sih, saya nggak akan marah. Saya malah merasa senang.

#2 Jadi tempat nongkrong strategis

Karena tembok samping rumah menghadap jalan raya, area samping rumah sering kali jadi tempat nongkrong strategis. Mulai dari ABG hingga tukang dagang, semua suka nongkrong di samping rumah. Suatu malam, ada sekumpulan ABG main gitar sambil nyanyi-nyanyi hingga pukul 10 malam. Saya pengin tidur, tapi nggak bisa gara-gara dengerin suara mereka. Kalau suara mereka seperti Ari Lasso atau Ed Sheeran mah saya nyaman-nyaman saja. Saya malah nyaman tidur lalu mimpi indah. Lha ini?

Baca Juga:  4 Tips Buat Kalian yang Berencana Bikin Rumah di Masa Pandemi

Saya pengin mengusir mereka, tapi nggak bisa. Lagi pula, area jalan raya di samping rumah sudah di luar kekuasaan saya. Jalan raya di samping rumah saya adalah area milik masyarakat luas. Saya juga nggak mau malah terjadi konflik kalau saya mengusir mereka. Mau nggak mau saya harus mengalah.

Tukang mie tek-tek pun biasanya mangkal di area samping rumah saya. Makanya hampir setiap malam, kami mendengar suara klinting-klinting abang mie tek-tek lagi bikin nasi goreng. Suasana tambah meriah kalau si abang mie tek-tek ngobrol akrab dengan pembeli. Abang mie tek-tek pun biasanya memutar lagu dengan suara yang cukup keras melalui smartphone mereka saat mangkal menunggu pembeli.

#3 Menjadi penanggung jawab perawatan pagar selokan

Di belakang rumah saya, ada selokan. Selokan ini membatasi rumah saya dengan rumah yang ada belakangnya. Supaya selokan ini nggak dimasuki pencuri, maka dipasang pagar. Nah, karena rumah saya ada di pojok, maka kami yang harus bertanggung jawab merawat pagar tersebut. Padahal, seharusnya pagar ini dirawat oleh penghuni rumah yang ada di sebelah rumah saya. Para penghuni rumah di samping rumah saya punya tanggung jawab juga untuk merawat pagar itu.

Beberapa bulan lalu, saya ditegur salah seorang penghuni di samping agar segera memperbaiki pagar tersebut. Pasalnya, pagar ini sudah mulai berkarat. Kalau dibiarkan, lama-lama jeruji-jeruji pagar ini bisa putus. Kalau jeruji-jeruji pagar putus, bisa saja ada pencuri masuk ke selokan lalu memanjat dinding belakang rumah kemudian mencuri seisi rumah.

Nah, daripada saya disalahkan karena ada rumah yang kecurian, saya akhirnya mengalah. Saya sendiri yang mengeluarkan dana untuk membeli besi, membayar jasa tukang las pagar, dan mengecatnya supaya nggak berkarat.

Itulah “penderitaan” saya dan keluarga sebagai orang yang tinggal di rumah yang lokasinya di pojok jalan. Kalau kamu tinggal di rumah hook juga, apakah kamu turut merasakan salah satunya?

BACA JUGA Kata Halus Bahasa Sunda dan Artinya yang Bisa buat Mencela dan tulisan Rahadian lainnya.

Baca Juga:  Mencari Penyebab Orang Baru Rajin Beres-beres kalau Lagi Sendirian
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
6


Komentar

Comments are closed.