Tinggal di desa itu sulit, salah pakai baju sedikit saja langsung dicap nakal

Tinggal di desa itu sulit, salah pakai baju langsung dicap nakal (Unsplash)

Tinggal di desa itu sulit, salah pakai baju langsung dicap nakal (Unsplash)

Tinggal di desa memang punya banyak keuntungan. Udara masih cukup segar, tetangga masih suka berbagi makanan, dan kalau ada hajatan kita bisa ikut makan tanpa perlu merasa sedang menghadiri acara kenegaraan. 

Namun, tinggal di desa juga membuat saya belajar satu hal penting. Ternyata, panjang rok bisa menentukan seberapa baik nilai seseorang.

Salah pakai baju sedikit saja, cap “nakal” bisa datang lebih cepat daripada tukang sayur keliling. Pakai celana pendek, artinya kurang sopan. Rok sedikit di atas lutut, mulai muncul pandangan aneh. Baju agak ketat, bahan pembicaraan sudah tersedia. 

Kalau sampai memakai pakaian terlalu terbuka, rasanya tinggal menunggu seseorang menyampaikan hasil pengamatan kepada ibu-ibu lain.

Tinggal di desa nggak seenak itu

Saya kadang heran bagaimana pakaian bisa mendapatkan perhatian sebesar itu ketika tinggal di desa. Kita mungkin cuma keluar rumah untuk membeli sesuatu di warung, tetapi orang lain sudah sempat memperhatikan panjang celana, model baju, rambut, bahkan mungkin sandal yang kita pakai. 

Saya tidak tahu apakah mereka memang sengaja memperhatikan atau mata mereka sudah mempunyai fitur pemindai otomatis. Yang jelas, saya belum pernah melihat orang memeriksa pakaian seseorang sedetail itu di ruang sidang.

Lucunya, ukuran “nakal” di desa kadang terasa sangat fleksibel. Kalau tinggal di desa, seorang perempuan bisa dapat cap nakal hanya karena memakai celana pendek ketika keluar rumah. Baju yang sebenarnya biasa saja bisa berubah menjadi “ketat” setelah sampai di mulut tetangga. 

Rok, yang menurut pemakainya masih normal, bisa menjadi “pendek banget” setelah melewati tiga orang ibu-ibu yang sedang duduk di teras. Dan, jangan berharap perkara selesai setelah kita pulang. Justru bisa jadi pembahasannya baru dimulai.

“Siapa tadi yang pakai baju merah?”

“Anaknya si anu.”

“Oh, sekarang pakaiannya begitu, ya?”

Percakapan sederhana yang bisa panjang urusannya

Percakapan sederhana seperti itu mungkin terdengar tidak berbahaya. Tetapi, kalau tinggal di desa, saya tahu betul bagaimana sebuah kalimat pendek bisa berkembang menjadi rapat evaluasi karakter seseorang. 

Awalnya cuma membicarakan baju. Lima menit kemudian sudah membicarakan pergaulan. Sepuluh menit kemudian membicarakan orang tuanya. Entah bagaimana, pakaian yang saya kenakan pagi tadi akhirnya bisa menjadi bahan analisis keluarga sampai malam.

Kalau tinggal di desa, pakaian memang kadang lebih cepat diadili daripada perilaku.

Yang membuat saya bingung, hanya perempuan yang sering mendapat cap ini. Perempuan harus menjaga cara berpakaian, cara berjalan, berbicara, bahkan duduk. 

Kalau tinggal di desa, sedikit saja berbeda dari kebiasaan masyarakat, cap “nakal” bisa muncul dengan mudah. Seolah-olah karakter seseorang terlihat dari panjang rok dan ukuran baju.

Padahal, kalau pakaian memang bisa menunjukkan akhlak seseorang, seharusnya toko pakaian menyediakan label baru. Bukan lagi ukuran S, M, L, atau XL, tetapi “baik”, “sopan”, “nakal”, dan “perlu dibicarakan di grup ibu-ibu”.

Tinggal di desa artinya siap dengan pengadilan moral

Saya bukan mengatakan kalau tinggal di desa pasti semuanya kayak gitu. Tentu saja tidak. 

Banyak keluarga dan lingkungan desa yang santai soal pakaian dan tidak merasa perlu mengatur tubuh orang lain. Saya juga paham bahwa setiap daerah punya norma kesopanan masing-masing. Tinggal di desa memang berarti kita perlu menghargai aturan dan kebiasaan tempat kita hidup.

Masalahnya muncul ketika menghargai norma berubah menjadi merasa punya hak untuk menentukan karakter seseorang hanya berdasarkan pakaian.

Sebab ada perbedaan besar antara mengatakan, “Di sini masyarakatnya terbiasa berpakaian lebih tertutup,” dengan mengatakan, “Kalau pakai baju begitu berarti anaknya nakal.” Yang pertama adalah informasi tentang kebiasaan. Yang kedua sudah menjadi vonis.

Dan lucunya, kalau tinggal di desa, vonis semacam itu jatuh tanpa pernah benar-benar mengenal orangnya.

Bisa saja seseorang memakai celana pendek karena hendak menyapu halaman. Bisa saja seseorang memakai baju tanpa lengan karena sedang berada di rumah sendiri. Atau, ada juga perempuan memakai pakaian yang menurut orang lain terlalu ketat karena memang itu pakaian yang dia punya dan nyaman. 

Tetapi, bagi sebagian orang, alasan tersebut tampaknya kalah penting daripada kesempatan untuk memberikan komentar.

Pekerjaan bagi mereka yang tinggal di desa

Saya pernah berpikir, mungkin bagi yang tinggal di desa sebenarnya memiliki satu pekerjaan tambahan yang tidak pernah masuk daftar mata pencaharian. Yaitu, menjadi pengawas pakaian tetangga.

Jam kerjanya fleksibel. Tidak perlu seragam. Tidak perlu digaji. Tugasnya sederhana: mengamati siapa yang keluar rumah, memakai apa, pergi dengan siapa, lalu menyampaikan hasil observasi kepada orang yang dianggap perlu tahu.

Dan yang paling menarik, pekerjaan ini tidak mengenal usia. Anak muda bisa dikomentari oleh orang tua. Orang tua bisa dikomentari tetangga. Bahkan orang yang sedang tidak ada di tempat pun tetap bisa menjadi bahan pembicaraan. 

Desa memang kecil, tetapi sistem distribusi informasinya luar biasa cepat. Kadang saya merasa WhatsApp sebenarnya kalah cepat dengan teras rumah.

Sebetulnya saya lelah

Namun, di balik kelucuan itu, ada sesuatu yang menurut saya cukup melelahkan. Ketika seseorang terus-menerus mendengar bahwa pakaian tertentu membuatnya terlihat nakal, lama-lama dia bukan hanya takut pada komentar orang lain, tetapi juga mulai mempertanyakan dirinya sendiri. 

Kalau tinggal di desa, mau memakai ini takut dibicarakan. Memakai itu takut dianggap tidak sopan. Akhirnya sebelum keluar rumah, yang dipikirkan bukan lagi “Saya nyaman atau tidak?” melainkan “Nanti tetangga ngomong apa?”

Padahal hidup sudah cukup rumit tanpa harus menambahkan satu ujian lagi berupa penilaian tetangga terhadap panjang celana.

Saya juga tidak ingin mengatakan bahwa semua aturan berpakaian harus dihapus. Tinggal di desa itu kesopanan tetap penting, apalagi ketika kita berada di ruang publik dan hidup berdampingan dengan orang lain. Tetapi mungkin kita perlu belajar membedakan antara menghargai kesopanan dan menghakimi seseorang.

Karena orang yang memakai pakaian terbuka belum tentu nakal. Orang yang berpakaian tertutup juga belum tentu baik. Pakaian hanya pakaian. Ia tidak bisa menjelaskan seluruh isi kepala, hati, dan perilaku seseorang.

Kalau mau menilai orang, mungkin lebih baik menunggu sampai kita benar-benar mengenalnya. Jangan baru melihat panjang roknya, kita sudah merasa tahu panjang akhlaknya.

Sebab tinggal di desa memang membuat kita dekat dengan tetangga. Tetapi dekat bukan berarti semua orang harus punya akses penuh untuk mengomentari tubuh dan pakaian kita.

Kalau setiap pakaian sedikit berbeda langsung mendapat cap “nakal”, saya jadi berpikir mungkin masalah sebenarnya bukan pada bajunya.

Mungkin standar penilaiannya saja yang terlalu sempit.

Penulis: Putri Ardila

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA 4 Tipe Orang yang Tak Cocok Slow Living di Desa: Kalau Kamu Introvert apalagi Usia Produktif, Pikirkan Lagi Sebelum Menyesal

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version