Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Tinggal di desa itu sulit, salah pakai baju sedikit saja langsung dicap nakal

Putri Ardila oleh Putri Ardila
15 Agustus 2026
A A
Tinggal di desa itu sulit, salah pakai baju langsung dicap nakal (Unsplash)

Tinggal di desa itu sulit, salah pakai baju langsung dicap nakal (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Tinggal di desa memang punya banyak keuntungan. Udara masih cukup segar, tetangga masih suka berbagi makanan, dan kalau ada hajatan kita bisa ikut makan tanpa perlu merasa sedang menghadiri acara kenegaraan. 

Namun, tinggal di desa juga membuat saya belajar satu hal penting. Ternyata, panjang rok bisa menentukan seberapa baik nilai seseorang.

Salah pakai baju sedikit saja, cap “nakal” bisa datang lebih cepat daripada tukang sayur keliling. Pakai celana pendek, artinya kurang sopan. Rok sedikit di atas lutut, mulai muncul pandangan aneh. Baju agak ketat, bahan pembicaraan sudah tersedia. 

Kalau sampai memakai pakaian terlalu terbuka, rasanya tinggal menunggu seseorang menyampaikan hasil pengamatan kepada ibu-ibu lain.

Tinggal di desa nggak seenak itu

Saya kadang heran bagaimana pakaian bisa mendapatkan perhatian sebesar itu ketika tinggal di desa. Kita mungkin cuma keluar rumah untuk membeli sesuatu di warung, tetapi orang lain sudah sempat memperhatikan panjang celana, model baju, rambut, bahkan mungkin sandal yang kita pakai. 

Saya tidak tahu apakah mereka memang sengaja memperhatikan atau mata mereka sudah mempunyai fitur pemindai otomatis. Yang jelas, saya belum pernah melihat orang memeriksa pakaian seseorang sedetail itu di ruang sidang.

Lucunya, ukuran “nakal” di desa kadang terasa sangat fleksibel. Kalau tinggal di desa, seorang perempuan bisa dapat cap nakal hanya karena memakai celana pendek ketika keluar rumah. Baju yang sebenarnya biasa saja bisa berubah menjadi “ketat” setelah sampai di mulut tetangga. 

Rok, yang menurut pemakainya masih normal, bisa menjadi “pendek banget” setelah melewati tiga orang ibu-ibu yang sedang duduk di teras. Dan, jangan berharap perkara selesai setelah kita pulang. Justru bisa jadi pembahasannya baru dimulai.

Baca Juga:

Motor Honda ADV 160 Paling Cocok untuk Membungkam Mulut Tetangga yang Suka Nyinyir

Seandainya Conan Edogawa dalam Detective Conan Tinggal di Indonesia dan Jadi Tetangga Saya, Ini 4 Kemungkinan yang Terjadi

“Siapa tadi yang pakai baju merah?”

“Anaknya si anu.”

“Oh, sekarang pakaiannya begitu, ya?”

Percakapan sederhana yang bisa panjang urusannya

Percakapan sederhana seperti itu mungkin terdengar tidak berbahaya. Tetapi, kalau tinggal di desa, saya tahu betul bagaimana sebuah kalimat pendek bisa berkembang menjadi rapat evaluasi karakter seseorang. 

Awalnya cuma membicarakan baju. Lima menit kemudian sudah membicarakan pergaulan. Sepuluh menit kemudian membicarakan orang tuanya. Entah bagaimana, pakaian yang saya kenakan pagi tadi akhirnya bisa menjadi bahan analisis keluarga sampai malam.

Kalau tinggal di desa, pakaian memang kadang lebih cepat diadili daripada perilaku.

Yang membuat saya bingung, hanya perempuan yang sering mendapat cap ini. Perempuan harus menjaga cara berpakaian, cara berjalan, berbicara, bahkan duduk. 

Kalau tinggal di desa, sedikit saja berbeda dari kebiasaan masyarakat, cap “nakal” bisa muncul dengan mudah. Seolah-olah karakter seseorang terlihat dari panjang rok dan ukuran baju.

Padahal, kalau pakaian memang bisa menunjukkan akhlak seseorang, seharusnya toko pakaian menyediakan label baru. Bukan lagi ukuran S, M, L, atau XL, tetapi “baik”, “sopan”, “nakal”, dan “perlu dibicarakan di grup ibu-ibu”.

Tinggal di desa artinya siap dengan pengadilan moral

Saya bukan mengatakan kalau tinggal di desa pasti semuanya kayak gitu. Tentu saja tidak. 

Banyak keluarga dan lingkungan desa yang santai soal pakaian dan tidak merasa perlu mengatur tubuh orang lain. Saya juga paham bahwa setiap daerah punya norma kesopanan masing-masing. Tinggal di desa memang berarti kita perlu menghargai aturan dan kebiasaan tempat kita hidup.

Masalahnya muncul ketika menghargai norma berubah menjadi merasa punya hak untuk menentukan karakter seseorang hanya berdasarkan pakaian.

Sebab ada perbedaan besar antara mengatakan, “Di sini masyarakatnya terbiasa berpakaian lebih tertutup,” dengan mengatakan, “Kalau pakai baju begitu berarti anaknya nakal.” Yang pertama adalah informasi tentang kebiasaan. Yang kedua sudah menjadi vonis.

Dan lucunya, kalau tinggal di desa, vonis semacam itu jatuh tanpa pernah benar-benar mengenal orangnya.

Bisa saja seseorang memakai celana pendek karena hendak menyapu halaman. Bisa saja seseorang memakai baju tanpa lengan karena sedang berada di rumah sendiri. Atau, ada juga perempuan memakai pakaian yang menurut orang lain terlalu ketat karena memang itu pakaian yang dia punya dan nyaman. 

Tetapi, bagi sebagian orang, alasan tersebut tampaknya kalah penting daripada kesempatan untuk memberikan komentar.

Pekerjaan bagi mereka yang tinggal di desa

Saya pernah berpikir, mungkin bagi yang tinggal di desa sebenarnya memiliki satu pekerjaan tambahan yang tidak pernah masuk daftar mata pencaharian. Yaitu, menjadi pengawas pakaian tetangga.

Jam kerjanya fleksibel. Tidak perlu seragam. Tidak perlu digaji. Tugasnya sederhana: mengamati siapa yang keluar rumah, memakai apa, pergi dengan siapa, lalu menyampaikan hasil observasi kepada orang yang dianggap perlu tahu.

Dan yang paling menarik, pekerjaan ini tidak mengenal usia. Anak muda bisa dikomentari oleh orang tua. Orang tua bisa dikomentari tetangga. Bahkan orang yang sedang tidak ada di tempat pun tetap bisa menjadi bahan pembicaraan. 

Desa memang kecil, tetapi sistem distribusi informasinya luar biasa cepat. Kadang saya merasa WhatsApp sebenarnya kalah cepat dengan teras rumah.

Sebetulnya saya lelah

Namun, di balik kelucuan itu, ada sesuatu yang menurut saya cukup melelahkan. Ketika seseorang terus-menerus mendengar bahwa pakaian tertentu membuatnya terlihat nakal, lama-lama dia bukan hanya takut pada komentar orang lain, tetapi juga mulai mempertanyakan dirinya sendiri. 

Kalau tinggal di desa, mau memakai ini takut dibicarakan. Memakai itu takut dianggap tidak sopan. Akhirnya sebelum keluar rumah, yang dipikirkan bukan lagi “Saya nyaman atau tidak?” melainkan “Nanti tetangga ngomong apa?”

Padahal hidup sudah cukup rumit tanpa harus menambahkan satu ujian lagi berupa penilaian tetangga terhadap panjang celana.

Saya juga tidak ingin mengatakan bahwa semua aturan berpakaian harus dihapus. Tinggal di desa itu kesopanan tetap penting, apalagi ketika kita berada di ruang publik dan hidup berdampingan dengan orang lain. Tetapi mungkin kita perlu belajar membedakan antara menghargai kesopanan dan menghakimi seseorang.

Karena orang yang memakai pakaian terbuka belum tentu nakal. Orang yang berpakaian tertutup juga belum tentu baik. Pakaian hanya pakaian. Ia tidak bisa menjelaskan seluruh isi kepala, hati, dan perilaku seseorang.

Kalau mau menilai orang, mungkin lebih baik menunggu sampai kita benar-benar mengenalnya. Jangan baru melihat panjang roknya, kita sudah merasa tahu panjang akhlaknya.

Sebab tinggal di desa memang membuat kita dekat dengan tetangga. Tetapi dekat bukan berarti semua orang harus punya akses penuh untuk mengomentari tubuh dan pakaian kita.

Kalau setiap pakaian sedikit berbeda langsung mendapat cap “nakal”, saya jadi berpikir mungkin masalah sebenarnya bukan pada bajunya.

Mungkin standar penilaiannya saja yang terlalu sempit.

Penulis: Putri Ardila

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA 4 Tipe Orang yang Tak Cocok Slow Living di Desa: Kalau Kamu Introvert apalagi Usia Produktif, Pikirkan Lagi Sebelum Menyesal

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 15 Agustus 2026 oleh

Tags: cara berpakaiannorma kesopanan di desanyinyiromongan tetanggarok pendektinggal di desa
Putri Ardila

Putri Ardila

Mbak-mbak bermata minus yang nulis buat bertahan hidup dan berharap suatu hari bisa keliling dunia tanpa harus berhenti menulis.

ArtikelTerkait

Seandainya Taeko dalam Film Only Yesterday Ghibli Hidup di Indonesia, Dia Pasti Jadi Omongan Tetangga

Seandainya Taeko dalam Film Only Yesterday Ghibli Hidup di Indonesia, Dia Pasti Jadi Omongan Tetangga

25 November 2023
Seandainya Conan Edogawa dalam Detective Conan Tinggal di Indonesia dan Jadi Tetangga Saya, Ini 4 Kemungkinan yang Terjadi

Seandainya Conan Edogawa dalam Detective Conan Tinggal di Indonesia dan Jadi Tetangga Saya, Ini 4 Kemungkinan yang Terjadi

22 Januari 2024
asn

Aparatur Sipil Negara (ASN) Bukan Profesi yang Cocok Untuk Orang Nyinyir

15 Oktober 2019
awkarin

Awkarin Aja Udah Berubah Jadi “The New Karin”, Kalian Apa Tidak Bosan Jadi Tukang Hujat Terus?

17 Oktober 2019
Motor Honda ADV 160 Paling Cocok untuk Membungkam Mulut Tetangga yang Suka Nyinyir

Motor Honda ADV 160 Paling Cocok untuk Membungkam Mulut Tetangga yang Suka Nyinyir

20 April 2024
Rumah di Desa dan Jauh dari Tetangga Memang Menyiksa. (Unsplash.com)

Rumah di Desa, Terpencil, dan Jauh dari Tetangga Memang Menyiksa

21 Juli 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kawasan Surabaya Utara: Dijuluki Mexico-nya Surabaya dan Identik dengan Hal Negatif

Jangan ke Surabaya Utara saat siang hari, jalannya bikin emosi, panasnya nggak masuk akal!

10 Agustus 2026
4 alasan saya lebih memilih salat di musala SPBU daripada masjid saat bepergian Mojok.co

4 alasan saya lebih memilih salat di musala SPBU daripada masjid saat bepergian

12 Agustus 2026
5 jurusan kuliah S2 yang sebaiknya diambil di Indonesia saja Mojok.co

5 jurusan kuliah S2 yang sebaiknya diambil di Indonesia aja, nggak usah jauh-jauh ke luar negeri

10 Agustus 2026
Cerita orang Muhammadiyah di tengah kultur NU Tegal yang kental: awalnya syok, lama-lama bisa ambil hikmahnya Mojok.co

Cerita orang Muhammadiyah di tengah kultur NU Tegal yang kental: awalnya syok, lama-lama bisa ambil hikmahnya

12 Agustus 2026
Di kala ekonomi yang sulit ini, bisnis nasi bungkus 7 ribu malah cuan selangit

Di kala ekonomi yang sulit ini, bisnis nasi bungkus 7 ribu malah cuan selangit

10 Agustus 2026
Membayangkan tiap kantor punya fasilitas daycare, hati orang tua pekerja pasti lebih tenang Mojok.co

Membayangkan tiap kantor punya fasilitas daycare, hati orang tua pekerja pasti lebih tenang

9 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.