Hampir setiap hari kos saya dikunjungi sama teman-teman. Menunggu jeda matkul, pulang ngampus sampai malam hari pun kos saya tidak pernah sepi. Mungkin untuk sebagian orang yang mengaku introvert, akan sangat kesal sekaligus jengkel ketika ruang kebebasannya dirampas oleh sekumpulan manusia yang entah kenapa menganggap kos orang seperti tempat milik bersama.
Memang demikian, awal-awal ngekos, saya merasa sesak di kos sendiri. Kebulan asap yang memenuhi kamar. Sampah berserakan. Suara tawa yang bikin panas telinga. Bahkan terkadang saya rela tidur di lantai sedang teman sendiri menguasai kasur. Kok itu, sampai pada suatu titik, saya pernah serasa seperti babu di kos sendiri: membersihkan kos, membuatkan kopi, menyiapkan piring, sampai pada akhirnya mencuci barang yang kotor itu sendiri.
Memang memuakkan, jujur saja. Ngebatin dan mengumpat seakan sudah hal wajib untuk saya lakukan. Tapi semakin ke sini, saya sadar bahwa mungkin karena saya belum terbiasa saja. Sebab semakin lama, saya mulai menyadari satu hal yang cukup mengganggu: ternyata saya juga membutuhkan mereka.
Selamat di tanggal tua, kebahagiaan anak kos
Semakin lama saya menyadari kedatangan mereka itu sedikit banyaknya membantu saya di perantauan. Bukan hanya dalam urusan tugas kuliah, tapi juga dalam hal yang jauh lebih mendasar:memberikan logistik untuk menunjang kehidupan saya di tanggal tua. Mulai dari mensuplai rokok, membelikan makanan/minuman, bahkan sampai memberikan beras, mie, telur.
Saya terkadang heran sama mereka. Saya tidak pernah sekalipun cerita masalah kebutuhan saya di kos. Mengeluh di depan mereka saja saya tidak pernah. Tapi ketika saya sedang kere atau mendekati tanggal tua, mereka bisa secara insting memberikan bantuan itu secara tiba-tiba.
Bahkan saya pernah sengaja meninggalkan mereka tidur, bangun-bangun sudah ada sekantong beras, beberapa biji telur dan mie yang sudah di belakang pintu. Jelas saya terkaget. Dan ketika saya menanyakan mereka siapa yang memberi, jawab mereka “bantuan seko pemerintah!”.
Mungkin bagi kebanyakan orang itu suatu hal yang kecil. Tapi bagi saya yang hidup serba irit, pemberian mereka sudah sangat membantu saya hidup di tanah rantau.
Tersadar
Dari sinilah saya mulai memahami bahwa ngekos dekat kampus itu tidak selamanya buruk. Memang tidak semua orang yang ngekos dekat kampus itu bisa seberuntung saya. Tapi apa salahnya belajar ikhlas dan bersabar sedikit lebih lama.
Memang, mereka masih tetap membuat saya kos berantakan. Memenuhi ruangan dengan asap, menghabiskan stok kopi dan membuat suasana kos jauh dari kata tenang. Tetapi di balik semua kegaduhan itu, merekalah yang seakan-akan diam memperhatikan saya. Dan mungkin itulah alasan saya tidak pernah benar-benar mengusir mereka.
Sebab kalau dipikir-pikir lagi, saya mungkin bukan cuma membutuhkan kamar yang tenang. Saya juga membutuhkan teman-teman yang datang tanpa diundang, membuat berantakan kamar saya, menghabiskan stok kopi, tetapi diam-diam membantu saya bertahan sampai transferan masuk dari orang tua.
Jadi kalau sekarang ada yang bertanya apakah tinggal di kos dekat kampus itu menyebalkan? Jawaban saya: iya. Tapi kalau ditanya apakah saya menyesal punya teman-teman, terlebih akamsi yang hampir setiap hari datang? Tidak juga. Toh, siapa lagi yang mau saya minta tolong di sini selain teman-teman yang selalu buat kos saya berantakan itu?
Pada akhirnya saya sadar, mungkin saya memang tidak mendapatkan kos yang tenang. Tapi saya mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga: orang-orang yang peduli ketika saya jauh dari keluarga.
Penulis: Alden Ferdiyan
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Kos Dekat Kampus: Akal-akalan Mahasiswa “Malas” agar Tak Perlu Bangun Pagi dan Bisa Berangkat Mepet
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.