Informasi
ADVERTISEMENT

Membedah HAARP, “senjata pemusnah massal” yang ternyata loyo, hanya terdengar mengerikan dari mulut orang aneh yang percaya

Membedah HAARP, "senjata pemusnah massal" yang ternyata loyo, hanya terdengar mengerikan dari mulut orang aneh yang percaya

HAARP itu nyata, tapi bisa menciptakan bencana, nah, itu yang perlu kita bahas. Singkatnya sih, bisa. Bisa gila kalau kalian percaya

Langit di Alaska tiba-tiba bergerak dan memusar. Belum cukup aneh, muncul pilar cahaya bagai tombak yang menusuk angkasa. Tidak ada yang bisa menjelaskan selain suara sirine dan peringatan pendek, “Warning: Cataclysm unleashed.” Di belahan bumi ekuator, di barisan kepulauan Nusantara, muncul kebakaran hebat dan letusan gunung berapi beruntun.

Tenang, itu bukan fakta. Aku hanya membayangkan ketika HAARP bekerja seperti kata Ulta Levenia Nababan. Fantasi yang membuatku teringat Weather Control Device dalam gim Red Alert 2.

Staff KSP ini tidak bilang kalau bencana gunung meletus dan Karhutla di Indonesia benar-benar disebabkan HAARP. Atau setidaknya, tidak menyatakan secara langsung dan spesifik. Namun dalam sebuah podcast, Ulta jelas menyinggung ada potensi penggunaan senjata luar biasa ini pada rentetan bencana di Indonesia.

Apa sebenarnya HAARP? Seberapa berbahaya senjata pemusnah massal ini? Dan lebih penting, seberapa konyol teori konspirasi pencipta bencana ini? Kemarilah, tuan dan puan. Duduk di depanku, dan sesap kopimu. Karena bagi generasi milenial yang culun saat SMA, membahas HAARP seperti nostalgia kawula muda.

HAARP, proyek riset di era ketakutan global

High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP) tidak pernah terlihat megah dan mengerikan sampai berkelindan dengan konspirasi. Dimulai tahun 90-an, HAARP dibangun sebagai tempat riset ionosfer di Galona, Alaska, Amerika Serikat. Tujuan alat riset ini adalah mempelajari lapisan ionosfer dengan gelombang radio frekuensi tinggi.

Tujuan HAARP adalah membedah lapisan atmosfer yang punya pengaruh besar terhadap komunikasi nirkabel. Ionospheric Research Instrument (IRI), yang terdiri dari 180 antena. Menembakkan gelombang HF sekuat 3,6 Megawatt (MW) dan memunculkan distorsi plasma dalam waktu singkat. Peneliti akan mengamati itu, dan meriset bagaimana lapisan ionosfer memengaruhi gelombang radio komunikasi.

Proyek ratusan juta dolar ini tidak dirahasiakan secara langsung. Toh struktur seluas beberapa ratus acre tentu tidak bisa disembunyikan. Masalahnya adalah pengelola utama program ini adalah Angkatan Udara dan Laut Amerika Serikat. Juga mendapat dukungan Departemen Pertahanan.

Sialnya, HAARP dibangun di tahun 90-an. Nuansa perang dingin masih terasa. Ketakutan pada ide senjata pemusnah massal serta perang bintang masih kuat. HAARP yang anteng di sisi utara Bumi itu kena batunya.

Meskipun hari ini HAARP dikelola University of Alaska Fairbanks (UAF), tuduhan HAARP adalah senjata masih santer terjadi. Termasuk yang diungkapkan Ulta Levenia Nababan. Padahal sudah sejak lama teori senjata pemusnah massal itu dibantah.

Berkali-kali dibantah, berkali-kali viral

Sebenarnya para penganut teori konspirasi punya alasan kuat untuk menuduh HAARP sebagai senjata. Dikelola militer, didukung Departemen Pertahanan, dan mendapat kucuran dana tinggi tanpa penolakan masif dari Senator Amerika Serikat. Tapi kalau bicara kemampuan HAARP sebagai senjata, itu masalah lain.

Semua dimulai dari buku Angels Don’t Play This HAARP: Advances in Tesla Technology karya Nick Begich Jr. dan Jeane Manning. Buku ini menghubungkan HAARP, teknologi misterius rujukan Nikola Tesla, hingga dugaan kekuatan militer dan manipulasi geofisika. Dan dari isi buku ini saja, terlihat cocoklogi dan tambal sulam sana-sini. Tanpa sekalipun membedah cara kerja HAARP sendiri.

Buku rilisan 1995 ini menemukan puncak popularitas di era milenium. Teori konspirasi jadi bahasan seru di internet, dan HAARP merajai diskusi karena dia nyata dan terlihat. Aku sendiri mengenal HAARP saat SMP, dan mendalami teorinya hingga awal kuliah. Termasuk menemukan celah fatal teori konspirasi.

HAARP memang menembakkan gelombang tinggi yang ‘memanipulasi’ dan ‘mengontrol’ atmosfer pada lapisan ionosfer. Bahkan kata ini muncul dalam dokumen resmi. Masalahnya, kata kontrol dan manipulasi bukan berarti mengerikan. HAARP hanya seperti microwave, memanaskan sejenak dengan gelombang tinggi. Perubahan atmosfer beberapa menit dalam lingkup sempit tanpa memberi dampak signifikan sudah termasuk kontrol dan manipulasi.

Celah fatalnya ada pada asumsi manipulasi ekstrem yang bisa memicu bencana. Baik tornado, badai laut, hingga gempa bumi. Dan kalau kamu masih percaya, baca penjelasan di bawah.

HAARP mustahil menciptakan bencana

Kamu tahu seberapa besar energi dari sebuah badai? Bisa setara 1000 bom nuklir Little Boy. Dari sini saja kita bisa membayangkan mustahil bagi antena kurus pemancar gelombang 3,6 MW bisa mendatangkan badai. Bahkan baru membayangkan saja, saya merasa bodoh.

Tapi demi meluruskan narasi ledakan gunung dan HAARP, mari kita bayangkan simulasinya. Kita gunakan HAARP untuk memicu badai. Kecil-kecilan dulu, badai tropis skala 1. HAARP harus mampu menembakkan gelombang sekuat 500 Gigawatt selama 24 jam nonstop. Ini didasarkan dari besarnya energi kinetik angin ketika bergerak sekuat badai.

Energi yang dibutuhkan untuk menembak tadi harus dua kali lipat lebih besar. Karena efisiensi antena HAARP sekitar 50%, maka energi yang ‘dimakan’ senjata ini adalah 1000 Gigawatt. Dari mana sumber energinya? Paling tidak kamu butuh 1000 reaktor nuklir yang terus menerus menyuplai energi. Atau 2000-5000 menara Wardenclyffe untuk memanen energi dari semesta menurut teori konspirasi Tesla. Opsi kedua ini ada masalah: biaya mahal, dan tidak nyata.

Yang saya bahas tadi baru menciptakan badai tropis kecil. Cukup untuk memporakporandakan rumah pantai, tapi tidak membuat sebuah negara kencing di celana.

Menciptakan gempa bumi dan gunung meletus malah lebih rumit. Secara teori, HAARP cukup menembakkan gelombang 4,5 Gigawatt. Masalahnya, lapisan bumi akan meredam dan memantulkan gelombang radio HAARP. Untuk menembus mantel bumi dan menggelitik lempeng bumi, HAARP harus mampu menembakkan gelombang sekuat 4,5 juta Gigawatt! Tidak usah mencoba menghitungnya, kalian keliatan goblok nanti.

Dari semua fantasi ini, HAARP tidak akan tahan dengan lonjakan energi sebesar itu. Antena baja ini akan hancur berantakan di detik gelombang pemusnah ditembakkan. Dan kalaupun kita memakai material aneh, biaya sekali mendatangkan bencana tidak masuk di akal.

Indonesia tidak sepenting itu

Baiklah, kita anggap semua kemungkinan bisa terjadi. Katakan HAARP diciptakan dari logam adamantium. Lalu mereka punya ribuan reaktor nuklir yang disembunyikan entah di mana. Berapa biaya eksekusi HAARP fantasi ini?

Dengan hanya menghitung biaya listrik tanpa biaya pembangunan dan pengelolaan, HAARP fantasi butuh $2,4 Miliar agar bisa menghasilkan badai siklon bermodal gelombang 500 Terawatt selama 10 detik. Enam kali lebih besar daripada konsumsi listrik Indonesia, dan senilai listrik 1 benua Eropa. Satu Eropa akan mati listrik saat HAARP menyala untuk menembak Indonesia.

Kalau ingin mendatangkan gempa 3,9 SR, mereka butuh energi 560 kali lipat dari seluruh energi listrik bumi! Dan biayanya makin tidak masuk akal. Membakar $ 2,5 Miliar HANYA untuk membuat gempa kecil selama 10 detik itu tidak masuk akal. Bahkan kamu belum tentu merasakan jika sedang sibuk main gim.

Apakah itu worth it? TENTU SAJA TIDAK! Badai siklon kelas 1 tidak memberi dampak kerusakan apa pun! Bahkan jika HAARP bisa menjadi senjata pemusnah massal, biayanya bisa lebih mahal daripada invasi langsung atau membiayai Metode Jakarta.

Anggaran besar untuk mendongeng

Mari kita lupakan fantasi HAARP sebagai penyebab bencana gempa, gunung meletus, hingga karhutla beruntun. Karena fantasi itu tidak lebih masuk akal ketimbang Indonesia Emas 2045. Yang harus kita pertanyakan adalah anggaran Kantor Staf Kepresidenan yang sebesar Rp 114 miliar. Tapi pendapat yang keluar di masa berduka ini adalah teori konspirasi ala Kaskus.

Mungkin sang tenaga ahli KSP sedang bingung untuk menenangkan rakyat Indonesia yang mulai marah. Karhutla tidak teratasi dengan taktis, bencana alam beruntun, tapi anggaran penanggulangan bencana dipangkas 75%! Jadi sekenanya, seingatnya saat dulu membaca teori konspirasi sebelum tidur, blio mengungkapkan teori ngawur yang tidak menjawab apa pun.

Atau jangan-jangan konspirasi ini benar adanya? Jangan-jangan ledakan gunung berapi, gempa bumi, hingga karhutla adalah akibat serangan HAARP! Jangan-jangan antek asing sedang ingin menghancurkan wacana Indonesia Emas 2045! Dan jangan-jangan, saya ini antek mereka untuk memanipulasi kalian!

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kenapa Masih Ada yang Percaya Teori Konspirasi meski Zaman Sudah Begitu Maju?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 September 2026 oleh .

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!