Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Setelah Merasakan Tinggal di Jogja, Ternyata Jogja Tidak Semurah yang Digembar-gemborkan

Intan Permata Putri oleh Intan Permata Putri
22 Januari 2026
A A
Jogja Nggak Berubah Itu Bullshit! Cuma Omong Kosong Belaka! (Unsplash)

Jogja Nggak Berubah Itu Bullshit! Cuma Omong Kosong Belaka! (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Jogja selama ini dikenal sebagai kota pelajar yang murah, ramah, dan bersahaja. Julukan itu seolah diwariskan dari generasi ke generasi, diceritakan dari mulut ke mulut, dan diperkuat oleh pengalaman orang-orang yang pernah tinggal di sana bertahun-tahun lalu.

Bagi banyak orang termasuk saya, Jogja adalah simbol kota impian, tempat belajar, hidup sederhana, dan bertahan dengan biaya pas-pasan. Tapi, pengalaman singkat saya tinggal di sana justru membuat saya mempertanyakan kembali mitos “Jogja kota murah” yang selama ini dipercaya.

Perjalanan ini bermula ketika sepupu saya yang kuliah di Universitas Gadjah Mada akan melaksanakan wisuda. Saya diajak oleh bude untuk ikut ke Jogja. Selain ingin menghadiri momen wisuda, saya juga sangat antusias karena akhirnya bisa melihat langsung kampus yang dulu pernah menjadi impian saya.

Sekalian, tentu saja, saya ingin merasakan bagaimana rasanya tinggal meski hanya sebentar di kota yang sering disebut sebagai rumah kedua bagi mahasiswa dari berbagai daerah.

Kosan biasa aja harganya 800 ribu per bulan? 800 ribu?

Sesampainya di Jogja, saya menginap di kosan sepupu. Kosannya tergolong standar, seperti kos mahasiswa pada umumnya. Ukurannya sekitar 3×4 meter, cukup untuk satu orang tidur, belajar, dan menyimpan barang-barang seadanya. Tidak ada AC, tidak ada fasilitas mewah, dan suasananya pun sederhana.

Namun, keterkejutan saya datang saat mengetahui harga kos tersebut mencapai Rp800.000 per bulan. Bagi saya, ini bukan angka yang kecil. Di daerah asal saya, Lampung, dengan Rp600.000 per bulan, seseorang sudah bisa mendapatkan kosan dengan ukuran dan fasilitas yang relatif lebih baik. Dari sini, saya mulai merasa bahwa gambaran Jogja sebagai kota dengan biaya hunian murah tidak sepenuhnya sesuai dengan kenyataan yang saya temui.

Ekspektasi saya kembali diuji ketika berbicara soal makanan. Selama ini, Jogja identik dengan makanan murah angkringan, nasi kucing, dan berbagai menu kaki lima yang sering disebut ramah kantong. Saya datang dengan bayangan bahwa makan Rp10.000–Rp15.000 per porsi masih sangat mungkin. Tapi, kenyataan berkata lain.

Saat saya membeli pecel lele di dekat kosan sepupu, harganya mencapai Rp25.000, itu pun tanpa minum. Untuk ukuran makanan kaki lima, harga tersebut terasa cukup mahal bagi saya. Mungkin ini bukan sesuatu yang luar biasa bagi warga lokal atau pendatang yang sudah lama tinggal, tetapi bagi saya yang datang dengan ekspektasi tertentu, angka itu cukup mengagetkan.

Baca Juga:

Kulon Progo, Tempat Terbaik untuk Slow Living di Jogja

KA Prameks, Juru Selamat Warga Purworejo dari Rutinitas Motoran ke Jogja yang Melelahkan

Saya mulai bertanya-tanya. Apakah mahalnya biaya hidup ini karena lokasi kosan yang berada di tengah kota? Bisa jadi. Kawasan sekitar kampus besar tentu memiliki permintaan tinggi, sehingga harga kos dan makanan ikut terkerek naik.

Apalagi Jogja merupakan kota yang sangat terkenal dan selalu ramai. Saat saya datang, kebetulan sedang musim wisuda dan liburan. Jalanan padat, penginapan penuh, dan tempat makan ramai oleh pendatang, wisatawan, serta keluarga wisudawan. Dalam kondisi seperti ini, kenaikan harga seolah menjadi hal yang “wajar”, meskipun tetap memberatkan.

BACA JUGA: Jogja Memang Benar-benar Istimewa, Tanpa Syarat, Tanpa Ketentuan

UMR Jogja ternyata… segitu?

Kebingungan saya semakin memuncak ketika saya sempat menanyakan besaran UMR Jogja. Jawabannya membuat saya benar-benar terdiam. UMR Jogja hanya berada di kisaran Rp2 jutaan. Mendengar angka itu, saya langsung terbelalak.

Dengan harga kos Rp800.000, makan yang tidak lagi murah, dan kebutuhan harian lainnya, rasanya sangat tidak mungkin hidup dengan layak jika hanya mengandalkan upah minimum. Di sini, saya mulai melihat adanya ketimpangan yang cukup serius antara pendapatan dan biaya hidup.

Jogja mungkin murah bagi mereka yang datang dengan sokongan keluarga, beasiswa, atau penghasilan di atas rata-rata, tetapi bagi pekerja dengan upah minimum, hidup di kota ini tampaknya penuh kompromi.

Pengalaman saya semakin diperkuat saat berjalan-jalan ke Malioboro. Kawasan yang selama ini menjadi ikon wisata Jogja itu ternyata menyimpan cerita lain. Di sana, saya merasa seperti “diketok harga” secara tidak masuk akal. Harga barang dan makanan terasa jauh lebih mahal dibandingkan tempat lain. Padahal, saya sudah mencoba menggunakan bahasa Jawa saat berinteraksi.

Mungkin karena logat saya tidak terlalu seJogja itu, saya tetap dianggap pendatang. Dari sini saya belajar bahwa di kawasan wisata, harga sering kali tidak lagi berbicara soal nilai barang, melainkan tentang siapa pembelinya.

BACA JUGA: Jogja Itu Nggak Istimewa dan Tidak Lagi Sama karena yang Istimewa Itu Orang-orangnya

Mungkin sudah berubah, mungkin?

Pengalaman-pengalaman ini membuat saya menyadari bahwa Jogja hari ini mungkin sudah sangat berbeda dengan Jogja yang diceritakan orang-orang dahulu. Kota ini tumbuh, berkembang, dan menjadi magnet bagi mahasiswa, wisatawan, serta pendatang dari berbagai daerah. Pertumbuhan itu membawa dampak ekonomi, tetapi juga menghadirkan persoalan baru, biaya hidup yang semakin sulit dijangkau, terutama bagi mereka yang berada di lapisan bawah.

Saya rasa pengalaman singkat saya di Jogja menunjukkan bahwa label “kota murah” tidak lagi bisa digunakan secara umum. Jogja mungkin masih ramah secara budaya dan hangat secara sosial, tetapi dari sisi ekonomi, kota ini menuntut lebih dari sekadar mimpi dan harapan. Bagi pendatang seperti saya, realitas Jogja terasa jauh berbeda dari cerita manis yang selama ini digembar-gemborkan.

Penulis: Intan Permata Putri
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Jogja Itu Aslinya Murah, tapi Jadi Mahal Gara-gara (Gaya Hidup) Pendatang

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 22 Januari 2026 oleh

Tags: harga kos di Jogjaharga makanan di jogjaJogjaumr jogja
Intan Permata Putri

Intan Permata Putri

Mahasiswa semester akhir Institut Teknologi Sumatera yang sedang tertarik dengan isu-isu sosial dan lingkungan. Pernah nulis di Wattpad.

ArtikelTerkait

Wacana Parkir Bus di Giwangan Jogja Nggak Masuk Akal (Unsplash)

Wacana Bus Parkir Abu Bakar Ali Pindah ke Terminal Giwangan itu Cuma Nyusahin Wisatawan di Jogja dan Bikin Malioboro Nggak Eksis Lagi

13 September 2025
Beat Deluxe, Saksi Kejayaan Bos Warung Madura dari Pamekasan (Shutterstock)

Beat Deluxe Merah-Hitam, Motor Honda yang Menjadi Saksi Kejayaan Warga Pamekasan yang Sekarang Menjadi Bos Warung Madura

20 Januari 2026
Sumber Kencono yang Berbahaya Menyelamatkan Hidup Saya (Unsplash)

Kenangan Masa Kecil dengan Bus Sumber Kencono, Bus Berbahaya tapi Malah Pernah Menyelamatkan Hidup Saya

6 Januari 2024
KRL Jogja Magelang Moda Transportasi yang Dibutuhkan Warga (Unsplash)

KRL Jogja Magelang Semakin Dibutuhkan Warga, Pemerintah Sebaiknya Segera Mewujudkannya

7 Januari 2025
Pengalaman Mengajarkan Saya untuk Tidak Berharap Banyak Pada Ban Tubeless mojok.co/terminal

Jangan Coba-coba Nanya Alamat ke Orang Jogja Sebelum Buka Helm, Risikonya Fatal 

11 Juli 2020
Jogja Kombinasi Bunuh Diri Upah Rendah dan Kesepian

Beratnya Merantau di Jogja karena Harus Berjuang Melawan Gaji Rendah dan Rasa Kesepian

11 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Weleri Kendal Baik-baik Saja Tanpa Mie Gacoan, Waralaba Ini Lebih Baik Incar Daerah Lain Mojok.co

Membayangkan Kendal Maju dan Punya Mall Itu Sulit, sebab Mie Gacoan Aja Baru Ada Setahun

31 Maret 2026
Merantau ke Malang Menyadarkan Saya Betapa Payah Hidup di Bojonegoro Mojok.co

Merantau ke Malang Menyadarkan Saya Betapa Payah Hidup di Bojonegoro

28 Maret 2026
3 Alasan Stasiun Jombang adalah Tujuan Paling Rasional Menuju Malang Barat dibanding Stasiun Malang Kota

3 Alasan Stasiun Jombang Adalah Tujuan Paling Rasional Menuju Malang Barat dibanding Stasiun Malang Kota

29 Maret 2026
Kembaran Bukan Purwokerto, Jangan Disamakan

Iya Saya Tahu Purwokerto Itu Kecamatan Bukan Kota, tapi Boleh Nggak Kita Santai Saja?

28 Maret 2026
ASN Rajin Adalah Tempat Sampah Buat Atasan (Shutterstock)

Kalau Kalian Masih Ingin Jadi ASN di Era Ini, Sebaiknya Pikir 2 Kali. Tidak, 3, 4, bahkan 100 Kali kalau Perlu

28 Maret 2026
Tragedi Nasi Rames Sancaka Utara- Beli Mahal, dapatnya Bangkai (Wikimedia Commons)

Tragedi Nasi Rames Sancaka Utara: Membayar Tiket Eksekutif demi Uji Nyali Makan Nasi yang Sudah Almarhum

29 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”
  • Gagal Lolos SNBP UGM Bukan Berarti Bodoh, Seleksi Nilai Rapor Hanya “Hoki-hokian” dan Kuliah di PTN Tidak Menjamin Masa Depan
  • Siswa Terpintar 2 Kali Gagal UTBK SNBT ke UB, Terdampar di UIN Jadi Mahasiswa Goblok dan Nyaris DO
  • “Side Hustle” Bisa Hasilkan hingga Rp500 Juta per Bulan Melebihi Gaji Kerja Kantoran, tapi Bikin Tersiksa karena Tidak Pernah Berhenti Bekerja
  • Penyesalan Kaum Mendang-mending yang Dilema Pakai Kereta Eksekutif hingga Memutuskan Tobat dari Kondisi “Neraka” Kereta Ekonomi
  • Derita Jadi PNS atau ASN di Desa: Awalnya Bisa Sombong Status Sosial, Tapi Berujung Ribet karena “Diporoti” dan Dikira Bisa Jadi Ordal

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.