Tentang Sunat dan Melahirkan: Mana yang Lebih Sakit? – Terminal Mojok

Tentang Sunat dan Melahirkan: Mana yang Lebih Sakit?

Saya tidak mau karena saya sendiri yang belum sunat saya jadi terasing di dalam pergaulan teman-teman saya, dan jadi bahan bully-an.

Artikel

Avatar

Ada seorang teman perempuan—hmm, karena gagal jadi gebetan, jadinya kita hanya sebatas teman—tanpa tedheng aling-aling bertanya pada saya via WhatsApp, “sunat rasanya kayak gimana si? Kayak digigit semut ya? Lebih sakit orang melahirkan apa sunat?”

Saya tidak bisa membalasnya atau menjawab pertanyaannya tersebut dengan hahahaha atau emoticon ketawa sampai nangis, atau cengar-cengir keparat. Bagi saya ini pertanyaan serius dan sangat krusial. Dia ingin membuat frame, membandingkan rasa sakit saat disunat dan rasa sakit saat melahirkan. Ini sangat tidak apple to apple.

Berangkat dari dua pertanyaan ini, saya kemudian berpikir sejenak, untuk menjawabnya. Tapi sebelumnya saya ingin meluruskan dan menjelaskan bagaimana prosesi saya sunat terlebih dahulu. Ini penting agar latar belakang masalah terjawab dan jawaban yang akan saya berikan juga ada benang merahnya.

Waktu itu saya masih kelas 5 SD entah triwulan atau caturwulan ke berapa. Sebagai seorang anak yang mulai remaja, dan alhamdulillah juga mengaji. Saya kepikiran untuk sunat. Apalagi setelah melihat teman-teman sepantaran sudah pada sunat semua.

Karena kebetulan pada waktu itu, di desa saya sedang diselenggarakan sunatan massal. Saya lupa siapa yang mengadakan acara tersebut. Hadiahnya pun cukup menggiurkan, mulai dari mendapatkan uang saku, sarung, baju koko, buku-buku dan alat tulis, serta snack dan roti untuk dibawa pulang.

Anak-anak di desa saya pun beramai-ramai mengikutinya dengan antusias sunatan massal itu, kecuali saya. Ya saya mungkin masih seorang anak penakut dan pengecut. Tetapi peristiwa tersebutlah yang pada tahun berikutnya memacu saya untuk melaksanakan ibadah sunat.

Kata Pak Ustaz saya, ketika seseorang itu sudah baligh, sudah mengerti benar dan salah, lalu disunat, maka segala amal dan dosanya ditanggung oleh dirinya sendiri. Jadi sunat bukan perkara gampang, ini perkara tanggung jawab. Khususnya dalam agama yang saya anut. Subhanallah~

Sejarah sunat sendiri sebenarnya sudah terjadi berabad-abad yang lampau, tepatnya pada masa Nabi Ibrahim as. Bahkan menurut riwayat, beliau sunat menggunakan kapak. Pada masa itu belum ada laser, pisau bedah, gunting, atau obat peredam rasa nyeri—bayangkan!

Lalu kembali ke perihal sunat yang saya alami, sebelum lebaran Iduladha tahun itu, saya meminta sunat. Tentu saja orangtua saya kaget. Anak sekecil ini udah berani minta sunat, “belum tahu dia,” pikir orangtua saya. Soalnya kalau dalam adat di keluarga, kakak-kakak saya sunat ketika sudah menginjak kelas tiga SMP atau masa awal SMA dan tentu saja itu katirnya sudah alot. Maka semasih muda saya harus segera sunat, apalagi teman-teman saya sudah pada sunat semua, gara-gara sunatan massal tadi.

Baca Juga:  Dilema Liburan dan Keinginan Tetap Produktif

Saya tidak mau karena saya sendiri yang belum sunat saya jadi terasing di dalam pergaulan teman-teman saya, dan jadi bahan bullyan. Maka saya minta disunat. Betapa menjadi pemberaninya saya.
Akhirnya singkat cerita acara sunatan pun dimulai.

Waktu itu mantri sunatnya yang datang ke rumah. Nah di cerita ini saya akan menjawab pertanyaan pertama dari teman cewek saya tadi.

Seingat saya waktu itu, saya mendapatkan 3 suntikan, pertama sebelah kanan-kiri telur, lalu pucuk. Itu seingat saya, saya tak melihatnya dengan pasti, tapi saya merasakan.

Mungkin pertanyaan teman saya yang dimaksud dengan digigit semut itu adalah awal suntikan itu. Tapi penderitaan tidak berhenti hanya di jarum suntik saja Maemunah.

Yang paling penting adalah hal setelah itu , tytyd kita diobrak-abrik, kulitnya digunting, dimainin sana-sini, darah merembes keluar, terus dijahit, dan diperban. Nah ini di sini neraka kecil dimulai, rasa sakit setelah biusnya habis, astaghfirullah, belum selesai sampai disitu penderitaan cowok teman-teman.

Setelah dibiarkan selama satu Minggu dan nggak boleh berdiri ngaceng sembarangan, perbannya akhirnya dicabut, dan dicabutnya pun ora baen-baen.

Pak Mantri menggunakan trik. Pertama kita dialihkan untuk ngobrol apa saja, tiba-tiba “breett” pak mantri menarik perban di tytyd kita yang belum sembuh benar itu dengan cepat, lugas, dan tanpa ba bi bu. Gimana rasanya? Masih mau bilang, sakitnya sunat seperti digigit semut?

Setelah sunat pun kita masih tidak boleh memakan makanan tertentu dan melakukan hal-hal tertentu. Kebetulan desa saya memang kaya akan mitos seputar persunatan, seperti tidak boleh lari-lari H-1 sebelum sunat , pasca sunat pun tidak boleh memakan makanan yang berminyak, seperti gorengan dan sebagainya.

Baca Juga:  Pertanyaan yang Nggak Penting-penting Amat Buat Dijawab Saat Barang Hilang: Emang Ilangnya Di Mana?

Hanya boleh makan tempe bakar, ubi kukus atau bakar, pisang, dan tahu rebus. Tidak boleh melangkahi kotoran ayam atau bebek atau yang sejenisnya. Karena dipercaya tytyd akan membengkak. Dan saya ikuti aturan main tak tertulis itu.

Lalu saya nggak habis pikir, setelah cowok mendapatkan penderitaan demi penderitaan seperti itu, kok masih ada yang tega-teganya nyakitin hati si cowok ini, mengkhianatinya, dan lebih memilih bersanding dengan yang lain. Mampus.

Lalu pertanyaan yang kedua adalah lebih sakit orang sunat apa orang melahirkan? Ini bagi saya tidak adil, dan tidak apple to apple. Dari segi pengalaman, ilmu pengetahuan, dan ilmu apapun saya berani jamin yang paling sakit adalah orang yang melahirkan. Mungkin ini adalah rasa sakit level dasar dari apa yang dinamakan sakaratul maut. Betapa tidak, prosesi melahirkan ini adalah proses kesakitan antara hidup dan mati.

Tapi membandingkan kedua hal tersebut tentu saja tidak elok, tidak adil semenjak dalam pikiran. Ini bagi saya pribadi. Soalnya yang namanya rasa sakit, sedikit atau banyak tetap esensinya adalah rasa sakit.

Kalau membandingkan antara kesakitan ditinggal pas lagi sayang-sayangnya dengan ditolak karena kamu terlalu baik, mungkin masih bisa diperbandingkanlah. Tapi kalau membandingkan kesakitan sunat dan melahirkan, sepertinya nggak adil.

Nah saya juga heran sama cewek yang sudah tahu nanti suatu saat yang dinanti akan merasakan kesakitan yang luar biasa. Tapi sebelum kesakitan itu datang, mereka rela disakiti terlebih dahulu oleh cowok-cowok bangsat yang mempermainkan perasaanya. Dilamar sama cowok baik-baik bilangnya, “kamu terlalu baik buat aku”, giliran diputusin sama cowok brengsek dia bilang semua cowok sama aja.

Lah si cowok juga, jelas-jelas si cewek ini kelak jika diberi amanah oleh Tuhan akan mengandung dan melahirkan. Tapi masih tega-teganya nyakitin hati cewek. Herman deh.

Maka kita sebagai kaum lelaki seyogyanya mengindahkan tiga pasal tak tertulis ini. Pasal 1 cewek selalu benar. Pasal 2 cowok selalu salah. Pasal 3 jika cewek salah, dan cowok benar, maka baca kembali kedua pasal sebelumnya.

Sunat dan melahirkan ternyata tak sebercanda itu, saudara.

---
975 kali dilihat

27

Komentar

Comments are closed.