Magelang dan image ketenangan sulit dipisahkan. Daerah ini bahkan jadi salah satu tujuan slow living orang-orang kota yang sudah lelah hidup terburu-buru. Tidak sedikit pula pensiunan yang menjadikan Magelang untuk menghabiskan masa tua.
Magelang memang nyaman. Daerahnya tidak begitu luas, tapi fasilitasnya lengkap. Ada rumah sakit, tempat makan, pendidikan dari SD hingga perguruan tinggi, hingga mal pun ada.
Akan tetapi, image tenang itu tengah tercoreng oleh tawuran yang marak terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Menurut berbagai sumber, tawuran sudah terjadi di beberapa titik. Pertama, jalur alternatif Secang-Magelang yang melewati kawasan Candiretno dan Tegalrejo. Kedua, perbatasan Ngluwar-Salam. Ketiga, rute segitiga Muntilan yang melewati area Palbapang hingga Terminal Muntilan.
Padahal, titik-titik itu adalah akses yang penting bagi warga. Akses yang seharusnya aman supaya mobilitas dan aktivitas warga Magelang sehari-hari tidak dihantui ketakutan.
Kemunculan tawuran di Magelang
Sebagai salah satu mahasiswa perantauan yang kini menetap di Kota Sejuta Bunga, saya jadi penasaran dan menelusuri akar penyebab tawuran kembali marak terjadi.
Berdasar website Divisi Humas Polri dan akun Instagram resmi @divisihumaspolri, tawuran terjadi karena berawal dari gesekan antar geng di media sosial. Mereka saling tantang dan melempar ejekan lewat DM di Instagram maupun TikTok. Tidak hanya itu, beberapa kelompok juga sengaja melakukan siaran langsung di akun media sosial masing-masing. Tujuannya adalah untuk membuat panas suasana.
Gengsi yang tinggi antar membuat masing-masing dari mereka meladeni tantangan yang dilemparkan. Kemudian, kedua kelompok sepakat bertemu di lokasi yang sudah ditentukan untuk meluncurkan aksinya.
Dorongan membuat konten keributan dengan tujuan viral di media sosial juga menjadi salah satu faktornya. Dikutip dari media Magelang Ekspres, aksi tawuran belakangan ini justru didominasi oleh kelompok dari luar daerah. Mereka sengaja datang dan masuk ke Magelang. Hanya untuk memprovokasi warga lokal demi konten viral.
Sementara itu, dikutip dari website Divisi Humas Polri dan akun Instagram resmi @polrestamagelang, mereka mengamati terjadi pergeseran pelaku tawuran dari aksi-aksi yang pernah terjadi sebelumnya. Aksi tawuran Magelang umumnya terjadi antar sekolah. Seperti antara SMK 45 Magelang, SMK Yudha Karya Magelang, dan SMK Adipura Kota Magelang. Namun, pelaku kejadian kali ini bercampur dan acak. Mulai dari gabungan anak-anak beda sekolah alumni, hingga pemuda desa yang berasal dari lingkungan yang sama.
Hal ini ditandai dengan munculnya nama-nama kelompok atau geng berbasis wilayah. Seperti Geng Narror 18 yang berasal dari Desa Wonokerto, Geng Pethakilan yang berasal dari pemuda area Kota Magelang, dan Geng Team Ngaji dari wilayah Windusari.
Warga jadi resah
Tawuran Magelang yang terjadi beberapa waktu terakhir jelas berdampak bagi mereka mereka yang tinggal di Magelang, baik warlok maupun pendatang. Mereka takut menjadi korban salah sasaran saat pulang malam. Keresahan ini dirasakan langsung oleh dua orang perantau yang telah saya wawancarai, Adrin (21) dan Yusuf (22).
“Niat saya kan di Magelang kan kuliah, jadi resah kalau pulang nugas atau nongkrong malam di coffee shop. Takut kena sabetan celurit tawuran nggak jelas itu,” ungkap Adrin.
Keresahan itu bukan tanpa alasan. Sebab, Yusuf sendiri pernah mengalami situasi mencekam pada saat berpapasan langsung dengan keributan itu.
“Saya pernah dihadapkan langsung dengan situasi tawuran tersebut pada saat pulang rapat. Saya pilih mematikan motor dan menunggu ada kendaraan besar yang melintas, dan berkendara sembunyi di belakangnya, soalnya takut jadi korban bacok salah sasaran,” ungkap Yusuf.
Warga pun berharap agar pihak-pihak yang bertanggung jawab segera mengatasi tawuran Magelang agar tidak semakin meresahkan. Titik-titik rawan diharapkan ada pengamanan yang lebih ketat. Selain itu, semoga pelaku segera bisa ditelusuri, ditangkap, dan ditindak serius.
Tidak ketinggalan, Pemerintah Kabupaten dan Kota Magelang diharapkan mengadakan program sosialisasi positif ke desa-desa yang wajib dihadiri oleh para remaja. Dengan adanya pembinaan yang terarah, energi generasi muda Magelang tersalurkan ke hal yang lebih baik.
Penulis: Arsya Listya Eka Pramudita
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Magelang daerahnya nyaman, tapi nggak cocok untuk mahasiswa.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.