Informasi
ADVERTISEMENT

6 kuliner Semarang yang dulu saya anggap aneh, tapi sekarang malah bikin kangen

6 kuliner Semarang yang dulu saya anggap aneh, tapi sekarang malah bikin kangen Mojok.co

Saya yakin setiap perantau pasti pernah mengalami fase ini: menghakimi makanan dari daerah lain, tapi ujung-ujungnya doyan juga. Salah satunya, saya. Saya pernah merantau ke Semarang dan menghakimi kulinernya.  

Akan tetapi, begitu saya pindah kota lagi, makanan-makanan itu justru yang paling sering muncul di kepala saat perut lapar jam sepuluh malam dan cuma ada mi instan di kos. Berikut enam makanan Semarang yang dahulu saya anggap aneh, tapi sekarang bikin saya kangen setengah mati.

#1 Lumpia Semarang isi rebung yang awalnya terasa aneh di lidah

Waktu pertama dengar kuliner Semarang lumpia isinya rebung, jujur saya skeptis. Rebung itu kan bau khasnya lumayan menusuk, dan buat lidah saya yang dulu terbiasa sama isian lumpia manis-manis biasa. Rasanya aneh membayangkan rebung dibungkus kulit tipis lalu digoreng.

Akan tetapi, ternyata rebung Semarang diolah sedemikian rupa sampai bau menusuknya hilang, berubah jadi gurih dengan tekstur renyah yang nagih, apalagi kalau dicocol saus coklat kental khasnya yang manis asam.

Sekarang, tiap kali lewat toko oleh-oleh yang jual lumpia, saya suka berhenti sejenak, bukan buat beli, tapi cuma buat menghirup aromanya sambil nostalgia diam-diam.

#2 Tahu gimbal kombinasi yang awalnya bikin saya curiga

Tahu gimbal adalah makanan Semarang yang terbuat dari tahu digoreng, dicampur lontong, kol mentah, telur, lalu disiram bumbu kacang. Tidak lupa ditambah  gimbal alias rempeyek udang yang direndam sampai agak melempem. 

Waktu pertama kali melihat makanan ini, saya curiga tahu gimbal Semarang awalnya muncul karena iseng, eh malah keterusan sampai sekarang. Rempeyek yang harusnya renyah malah sengaja dibikin lembek kena kuah. Untuk saya yang dibesarkan dengan prinsip “kerupuk harus tetap kriuk” ini semacam pelanggaran berat berat. 

Akan tetapi, begitu melupakan tampilan tahu gimbal dan fokus pada rasanya, kuliner Semarang satu ini wajib dicoba. Kombinasi gurih kacang, segar kol mentah, dan gimbal lembek yang menyerap bumbu itu ternyata masuk akal di lidah, meskipun nggak masuk akal di logika.

Sekarang, ketika saya sudah nggak merantau di Semarang, saya malah kangen dengan bagian gimbal melempemnya itu yang dulu paling saya curigai.

#3 Mie kopyok, kuliner mi Semarang yang tidak seperti lainnya

Mi kopyok itu makanan yang bikin saya bertanya-tanya soal filosofi memasak orang Semarang. Bagaimana tidak kalau mi kuning direbus, dicampur tahu, lontong, taoge, terus disiram kuah bening berbumbu bawang putih, dan yang bikin unik, ditaburi kerupuk gendar yang teksturnya lembek begitu kena kuah. 

Dulu saya mikir, kenapa harus repot-repot bikin kerupuk kalau ujung-ujungnya sengaja dibikin melempem lagi.

Rasanya seperti kerupuk yang menyerah pada nasibnya sendiri. Tapi, ternyata justru tekstur lembek berpadu kenyal itu yang bikin mie kopyok punya karakter, beda dari mi kuah kebanyakan.

Sekarang, kalau nemu penjual mie kopyok di kota lain, rasanya seperti ketemu kabar baik yang datang tiba-tiba.

#4 Roti anjel rel yang aneh sejak dari namanya 

Ini kuliner Semarang paling berkesan dan berujung kangen. Roti ganjel rel itu roti khas Semarang yang teksturnya padat, agak keras, berwarna cokelat karena pakai kayu manis dan gula jawa, dan namanya sendiri diambil dari bentuknya yang mirip bantalan rel kereta.

Dulu saya mikir, roti apa yang namanya saja mengaku sekeras balok penyangga rel, siapa juga yang mau makan benda yang deskripsinya bikin gigi ngilu duluan sebelum digigit.

Akan tetapi, begitu dicoba, teksturnya memang padat, tapi nggak keras menyiksa, rasa rempahnya hangat, cocok banget ditemani teh atau kopi di sore hari yang mendung.

Sekarang saya kangen justru sama kepadatannya itu, yang bikin roti ini terasa jujur, nggak pura-pura lembut kayak roti kebanyakan.

#5 Soto bangkong, kuliner Semarang yang namanya bikin salah fokus

Bagi mereka yang asing dengan kuliner Seamrang, nama soto Bangkong terdengar aneh. Bangkong? Bukankah itu katak? Jadi, ketika pertama kali mendengar nama tersebut, saya sempat membayangkan semangkuk soto berisi sesuatu yang seharusnya hidup di sawah.

Untungnya, saya tidak langsung kabur. Soto Bangkong ternyata bukan soto katak. Nama tersebut berasal dari kawasan atau perempatan Bangkong di Semarang.

Sotonya sendiri justru terasa sangat familiar: kuah kaldu yang gurih, suwiran ayam, bihun, tomat, dan berbagai pelengkap. Setelah tahu kenyataannya, saya merasa sedikit malu pada pikiran sendiri.

Ternyata yang aneh bukan makanannya. Saya saja yang kebanyakan berimajinasi.

Akan tetapi, mungkin justru nama itulah yang membuat makanan ini mudah diingat. Di antara banyaknya nama makanan yang terdengar biasa, Soto Bangkong punya nama yang membuat orang otomatis bertanya.

Dan sekarang, setiap mendengar kata Bangkong, saya tidak lagi memikirkan katak. Saya malah membayangkan semangkuk soto hangat. Begitulah cara makanan bekerja. Diam-diam mengubah asosiasi di kepala kita.

#6 Mangut kepala manyung, makanan yang dulu saya pikir terlalu ekstrem

Kalau ada kuliner Semarang yang paling berhasil membuat saya ragu sebelum makan, mungkin mangut kepala manyung. Sebab, ya, kepala ikan. Utuh.

Bukan fillet cantik yang sudah dipotong rapi sehingga kita tidak perlu memikirkan bahwa yang sedang kita makan dulunya adalah ikan. Kepala manyung disajikan dalam kuah mangut yang gurih, pedas, dan kaya rempah. Aromanya kuat. Rasanya juga tidak main-main.

Awalnya saya merasa ini makanan yang terlalu ekstrem. Tapi, ternyata justru di situ kenikmatannya. Daging yang menempel di sekitar kepala ikan ternyata banyak. Bahkan bagian-bagian yang sebelumnya saya kira tidak mungkin dimakan justru menjadi bagian yang paling seru untuk dikorek.

Makan mangut kepala manyung membutuhkan kesabaran. Tidak bisa terburu-buru. Harus teliti. Harus mau mengorek, sedikit demi sedikit.

Itulah beberapa kuliner Semarang yang awalnya saya anggap aneh sebagai perantau, tapi akhirnya saya “jatuh cinta” juga. Bahkan, makanan-makanan itulah yang saya rindukan sampai sekarang.

Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA 10 Tahun Merantau Bikin Sadar Kalau Kuliner Semarang Super Enak, Sedangkan Jogja Overrated.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 September 2026 oleh .

Alifia Putri Nur Rochmah

Penulis kelahiran Kebumen. Anak Ekonomi Pembangunan UNS yang lebih tertarik pada cerita di balik data. Berpengalaman sebagai content writer dan content creator, gemar berkelana ke tempat-tempat baru, dan menulis tentang apa saja dari yang serius sampai yang receh.