Informasi
ADVERTISEMENT

Magelang naik kelas, kini bukan sekadar tempat singgah wisatawan sebelum plesir ke Jogja

Magelang naik kelas, kini bukan sekadar tempat singgah wisatawan sebelum plesir ke Jogja Mojok.co

“Aku pengen ke Magelang, Bal,” celetuk teman saya dalam keheningan makan siang kami.

“Emangnya mau ngapain ke sana? Liburan? Ada tempat di sana yang jadi wishlist?” Tanya balik saya.

Teman saya menjawab bahwa dia ingin ke Magelang karena memang ingin ke sana aja. Tidak ada destinasi spesifik. Menurutnya, Magelang punya sesuatu yang membuat seseorang nyaman untuk menetap barang sehari, dua hari, bahkan seminggu.

Apa yang diucapkannya membuat saya menyadari, beberapa tahun terakhir, Magelang tidak hanya jadi daerah singgah, bukan juga sekadar daerah untuk mampir sebelum atau setelah dari Jogja. Magelang perlahan sudah berubah jadi destinasi tujuan utama banyak orang.

Tentu saya tidak bermaksud menyebutkan bahwa Magelang baru terkenal akhir-akhir ini. Keberadaan Borobudur yang jadi monumen Buddha terbesar di dunia tentu membuat Magelang terdengar familiar bagi banyak orang.

Akan tetapi, sadar atau tidak, sebelum eksis jadi tujuan utama seperti sekarang, Magelang ya hanya dikenal sebagai tempatnya Borobudur. Tidak ada daya tarik lain yang membuatnya terkenal. Itu membuat orang yang datang hanya sekadar melihat candi, berfoto, membeli oleh-oleh, lalu kembali ke Jogja atau melanjutkan perjalanan ke tempat lain.

Nah, sekarang, muncul alasan lain mengapa orang ingin ke Magelang. Alasan yang kadang susah dijelaskan. Seperti orang yang tiba-tiba ingin ke Bali tanpa destinasi spesifik.

Magelang kian diperhitungkan

Jadi, dulu logika orang liburan atau bepergian itu simple. Ketika ada waktu luang, pilihannya ya kota atau daerah yang sudah punya nama seperti Jogja, Bandung, Bali, atau Malang. Kota atau daerah kecil di sekitarnya hanya jadi persinggahan.

Akan tetapi, semakin ke sini, kalau diperhatikan, cara orang menikmati liburan mulai berubah. Era media sosial membuat sebuah tempat sederhana mudah sekali terekspos dengan cepat. Warung dengan pemandangan sawah yang dulunya hanya diketahui oleh orang sekitar, kini menjadi incaran orang dari luar daerah. Kafe tidak selalu harus di kota, di pedesaan dengan cangkir tempo dulu memberikan sensasi ketenangan.

Penginapan murah dengan konsep sederhana juga menjadi incaran. Kemudian yang paling penting, lingkungan perkampungan, desa, dan interaksi warga sekitar yang masih tenang dan asri menawarkan pengalaman berbeda bagi seseorang. Bahkan, duduk memandangi sawah atau gunung sambil minum wedang teh, susu, atau kopi jadi alasan orang begitu effort mengunjungi sebuah daerah.

Seseorang datang ke sebuah daerah tidak hanya untuk mengunjungi banyak objek wisata. Sebab, bisa jadi yang dicari adalah kedamaian mengambil jeda dengan sarapan pagi hari dengan piring beralaskan daun pisang atau jati.

Dan, Magelang perlahan sudah mempu menawarkan semua fasilitas dan kebutuhan itu. Kehidupan perkotaan yang menuntut serba cepat membuat orang butuh satu fase untuk berjalan pelan. Dan, mereka memandang Magelang sebagai ruang yang tidak membuat seseorang terburu-buru.

Ada banyak destinasi di sana

Magelang punya banyak tempat untuk menikmati semuanya dengan tenang. Ada desa-desa seperti Candirejo, Karangrejo, Wanurejo, Tanjungsari, Giritengah, sampai Majaksingi. Seseorang tidak lagi ditarik paksa hanya untuk menikmati sebuah bangunan monumental bernama Borobudur. Seseorang punya opsi lain untuk menikmati aktivitas pertanian, kesenian, kuliner, sampai kehidupan masyarakat setempat.

Dari aspek pemenuhan kebutuhan soal pemandangan, Magelang juga punya tempat seperti Punthuk Setumbu, Ketep Pass, Bukit Rhema, kawasan Menoreh, wisata menggunakan VW, homestay, restoran, sampai kafe-kafe.

Saya menyebutnya sebagai ekonomi duduk. Sebuah aktivitas ekonomi yang digerakan oleh orang-orang yang rela menempuh puluhan kilometer untuk membeli minuman dan makanan, lalu menikmati pengalaman untuk tidak melakukan apa-apa selain duduk dan menikmati pemandangan.

Slow tourism yang tengah digemari

Selain itu, ada alasan lain mengapa Magelang atau bahkan daerah kecil lain punya momentum untuk jadi ruang yang dituju banyak orang. Ada istilah yang namanya overtourism, yaitu ketika keramaian wisatawan justru melahirkan sebuah paradoks yaitu hilangnya kenyamanan. Dan, itu biasanya terjadi di kawasan popular seperti Bali atau Surabaya.

Bersamaan dengan itu, muncul konsep yang namanya slow tourism yang mendorong seseorang bepergian ke tempat atau destinasi yang menawarkan ritme yang lebih santai dan ruang yang lebih lega. Itu membuat seseorang jadi mencari tempat seperti Magelang untuk tinggal lebih lama dan menikmati lingkungan sekitarnya.

Akan tetapi, balik lagi, Magelang yang saat ini jadi destinasi utama lama-kelamaan bisa berpotensi berubah jadi bising ketika semua orang ingin mendatanginya dalam satu momentum. Kafe muncul, penduduk semakin padat, tanah makin mahal, lalu lintas makin amburadul, dan penginapan makin bertambah. Semuanya bisa jadi membuat Magelang akan bernasib sama seperti Jogja. Kota yang terlihat ramah kepada pendatang tapi dengan cara menyingkirkan penduduk asli di dalamnya.

Penulis: Muhammad Iqbal Haqiqi
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Magelang daerahnya nyaman, tapi nggak cocok untuk mahasiswa.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 9 September 2026 oleh .

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.