Bagi warga Semarang, menyebut nama Gombel sering kali memicu ingatan otomatis tentang sosok perempuan berambut gimbal yang hobi menggondol anak kecil. Akibatnya, selama puluhan tahun, jalur menanjak Gombel sukses ditahbiskan sebagai titik horor yang sama tersohornya dengan Lawang Sewu di Kota Atlas. Narasi tentang penunggu gaib penyebab kecelakaan kendaraan seolah sudah jadi kisah yang dibakukan.
Saking kuatnya branding angker yang melekat, banyak orang lupa bahwa Gombel Semarang punya sisi lain yang jauh lebih substansial ketimbang sekadar cerita hantu ngalor-ngidul. Di balik desas-desus tersebut, ada sisi lain tanjakan Gombel yang lebih layak untuk dibedah. Mereka harusnya mulai melihat Gombel dengan kacamata yang lebih jernih untuk memahami apa yang sebenarnya sedang dijaga oleh kisah wingit lintasan itu.
Sejarah makam Tionghoa di Bukit Gombel, bentuk perlawanan terhadap penjajahan
Konon, jauh sebelum bising knalpot mendominasi, perbukitan Gombel adalah hunian abadi bagi warga Tionghoa di Semarang. Dalam kacamata Fengsui, kontur bukit ini adalah lokasi premium untuk peristirahatan terakhir. Sebabnya, karakteristik perbukitan itu menyandar ke gunung dan menatap langsung ke arah laut.
Itulah sebabnya, ketika pemerintah kolonial Belanda berniat membelah bukit ini demi pembangunan jalan, perlawanan sengit meledak. Bagi warga Tionghoa saat itu, mencongkel Gombel bukan sekadar mengejar proyek infrastruktur. Namun, bentuk penistaan paling hina terhadap area yang dianggap sakral.
Keyakinan bahwa masih banyak jasad yang belum sempat dipindahkan dan kini terkubur abadi tepat di bawah aspal tanjakan Gombel Semarang pun terus terpelihara. Keberadaan ribuan makam selama ratusan tahun inilah yang sebenarnya menjadi tumpuan memori kolektif soal keangkeran bukit tersebut.
Namun, kalau mau sedikit menggunakan perspektif sejarah dan budaya, narasi horor di sini sebenarnya salah sasaran. Jika memang area ini adalah bekas pemakaman Tionghoa, seharusnya hantu Jiangshi yang melompat-lompatlah yang lebih berhak menempati takhta di sana. Bukan sosok Wewe Gombel yang secara kultural sama sekali tidak nyambung dengan latar belakang penghuni asli bawah tanah kawasan tersebut.
Kontradiktif perjalanan spiritual tokoh pendiri Semarang dengan sosok astral
Gombel bukan sekadar tanjakan yang membuat mesin mobil mengerang kepayahan. Tapi, saksi bisu perjalanan spiritual Ki Ageng Pandan Arang. Konon, setelah menerima mandat dari Sunan Kalijaga untuk menyebarkan Islam, pendiri sekaligus bupati pertama Semarang ini memulai pengembaraan ke arah barat daya.
Di perbukitan inilah, sang bupati melihat fenomena alam yang unik. Itu adalah pohon asam yang tumbuh jarang-jarang. Dari momen itulah nama Semarang, yang merupakan gabungan dari kata asem dan arang, lahir dan abadi hingga hari ini. Bukit Gombel Semarang pun menjadi bagian tak terpisahkan dari jalur perlintasan beliau saat bertransisi dari panasnya dataran rendah menuju dinginnya pedalaman.
Makam utama sang tokoh memang kini bersemayam tenang di Jalan Mugas, Bergota. Namun, jejak langkahnya di perbukitan Gombel dipercaya masyarakat sebagai pagar gaib yang menjaga keselamatan Kota Lumpia.
Rasanya sungguh kontradiktif. Bahkan cenderung tidak adil jika narasi penuh nilai sejarah dan spiritual sedalam ini justru kalah populer oleh urban legend Wewe Gombel yang cuma hobi menyembunyikan anak kecil.
BACA JUGA: Semarang Kota Hantu: Potensi Aura Mistis dan Sisi Misterius Kota Semarang
Bukit Gombel adalah salah satu nafas utama lalu lintas kendaraan di Semarang
Dalam praktiknya, Gombel adalah gerbang pemisah sosiologis di Semarang. Di bawah Gombel adalah pusat niaga, pelabuhan, dan teriknya pesisir. Sementara, Gombel ke atas dikenal sebagai pusat pendidikan, udara sejuk, dan wilayah yang dulu dianggap sebagai tempat pemukiman orang kaya yang melarikan diri dari pengapnya Semarang Bawah.
Sekarang, Gombel ibarat leher bagi anatomi Kota Semarang. Kalau jalur ini tersumbat, denyut nadi mobilitas dari Semarang Bawah ke Semarang Atas, dan sebaliknya, bisa berhenti total. Mau memutar lewat kawasan Sigar Bencah pun bukan pilihan waras karena akan memakan banyak waktu.
Mengaitkan Bukit Gombel Semarang dengan isu mistis saat ini sudah tidak lagi relevan. Malah, banyak orang berbondong-bondong ke kawasan Gombel untuk menikmati city light Kota Semarang dari ketinggian.
Ditambah lagi, sekarang ini orang lebih takut lewat Gombel pada pukul empat sore ketimbang tengah malam lantaran kemacetan yang makin edan. Maka, sudah saatnya masyarakat berhenti dari obsesi mencari penampakan di balik pohon beringin.
Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
