Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Taman Budaya Cepu Bukti Pemkab Blora Terlalu Gegabah

Dimas Junian Fadillah oleh Dimas Junian Fadillah
16 Oktober 2025
A A
Taman Budaya Cepu Bukti Pemkab Blora Terlalu Gegabah

Taman Budaya Cepu Bukti Pemkab Blora Terlalu Gegabah (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Setiap kali temu kangen dengan keluarga di Blora, saya selalu melintasi jalan bypass Cepu. Jalan ini memang cukup strategis dan realistis karena dekat stasiun dan terminal Cepu. Saya pribadi sebenarnya sudah sering bolak-balik lewat jalan ini, khususnya saat masih duduk di bangku SMA dulu. Namun beberapa tahun terakhir saya kerap dibuat penasaran dengan penampakan Taman Budaya Cepu yang letaknya persis di sisi jalan ini.

Awalnya saya kira lahan tersebut bukan milik Pemkab karena dulu hanya ditumbuhi ilalang dan semak belukar lebat. Baru pada tahun tahun 2023 area tersebut mulai dibangun taman yang digadang-gadang akan jadi penunjang kawasan Cepu Raya sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru bagi Kabupaten Blora.

Proyek ini memiliki masterplan menjadi kawasan multifungsi dengan berbagai fasilitas, termasuk pusat kesenian, pendapa bupati, dan masjid agung. Kedengaran spektakuler. Tapi terakhir saya pulang, bahkan hingga artikel ini saya tulis, keadaannya malah semakin memprihatinkan. Nuansa nggak terawat kembali hadir setelah pembangunan taman selesai sejak dua tahun lalu.

Kesalahan menyusun skala prioritas sejak awal

Dalam urusan pembangunan, menyusun skala prioritas seharusnya menjadi langkah paling mendasar. Sama seperti mengatur keuangan rumah tangga: kalau atap bocor, tentu yang dibenahi atapnya dulu, bukan malah beli karpet mahal biar ruang tamu kelihatan estetik. Tapi nampaknya, logika sesederhana ini masih belum benar-benar dicerna oleh para pemangku kebijakan di Blora.

Alih-alih menangani masalah krusial seperti jalan rusak yang sudah jadi keluhan tahunan warga, Pemkab Blora kala itu justru memilih membangun Taman Budaya Cepu. Proyek ini bahkan menghabiskan anggaran Rp2,5 miliar dari APBD, lengkap dengan narasi ndakik-ndakik dan janji fasilitas yang—sayangnya—hingga kini malah tidak kelihatan wujudnya.

Taman Budaya Cepu dibiarkan mangkrak wagu, dilanjutkan juga butuh banyak sangu

Proyek ini membuat saya makin merasa miris tatkala membayangkan nasibnya. Terlebih posisi Taman Budaya Cepu saat ini memang serba tanggung. Dibiarkan mangkrak wagu, namun kalau dipaksa dilanjutkan pembangunannya jelas Pemkab akan makin mengkis-mengkis. Lantaran proses pengerjaannya sudah pasti tidak ringan dan membutuhkan biaya tambahan yang sangat besar.

Menurut pernyataan resmi dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Blora, pembangunan kawasan Taman Budaya Cepu secara keseluruhan diperkirakan memerlukan anggaran sebesar Rp133,69 miliar. Angka ini bukan sekadar perkiraan kasar, melainkan berasal dari dokumen Detail Engineering Design (DED) yang menjadi acuan teknis perencanaan proyek. Kepala Bidang Bangunan DPU PR Blora, Muhamad Arif Hidayat, pun menjelaskan bahwa nilai tersebut adalah hasil kalkulasi rinci berdasarkan masterplan kawasan yang sudah disusun sebelumnya.

Jika melihat realisasi saat ini, anggaran yang telah dikeluarkan sebesar Rp2,5 miliar hanya mencakup sekitar 1,87% dari total kebutuhan dana. Artinya, hampir 98% rencana untuk menyelesaikan proyek ambisius ini masih terlalu utopis untuk segera direalisasikan. Apalagi sumber pendanaan lanjutan juga masih menjadi tanda tanya besar bagi Pemkab. Entah untuk menambal kekurangan dana dengan menggunakan APBD, melalui utang daerah, atau cukup dengan berdoa kolektif saat warga Blora menghadiri acara berselawat. Sebuah ironi pahit di mana impian besar pembangunan harus bersaing dengan keterbatasan anggaran dan ketidakjelasan arah kebijakan.

Baca Juga:

Rujak Teplak Khas Tegal Adalah Anomali bagi Warga Blora, Rujak kok Jadi Menu Sarapan, Aneh!

3 Fakta Menarik tentang Blora yang Jarang Orang Bicarakan

Sebuah kebijakan memang tidak ada yang sempurna, cuma kasus ini terlalu gegabah

Saya mengerti dan mafhum jika suatu kebijakan memang tidak ada yang sempurna. Setiap keputusan pasti punya risiko, ada keterbatasan, dan tentu saja tidak bisa memuaskan semua pihak. Tapi dalam kasus Taman Budaya Cepu ini, saya pikir yang terjadi bukan sekadar ketidaksempurnaan, melainkan tanda-tanda kecerobohan yang terlalu kentara untuk diabaikan. Bahkan terlampau gegabah sejak tahap perencanaan, lemah dalam penganggaran, dan nyaris tanpa rencana jangka panjang yang realistis.

Alih-alih menjadi simbol kemajuan untuk Kabupaten Blora, taman ini justru sekadar menjadi pengingat bahwa niat baik saja tidak cukup. Perlu nalar sehat, skala prioritas yang masuk akal, dan keberanian untuk berkata “belum waktunya” pada proyek-proyek yang hanya tampak indah dijadikan bahan konten ketimbang berdampak nyata pada kehidupan warga sekitar.

Penulis: Dimas Junian Fadillah
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA 3 Alasan Blora Kalah Pamor Dibanding Kabupaten Tetangga.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 16 Oktober 2025 oleh

Tags: bloracepu blorakabupaten blorapariwisata blorapotensi kabupaten blorataman budaya ceputempat wisata blora
Dimas Junian Fadillah

Dimas Junian Fadillah

Magister Administrasi Publik, tertarik menulis isu lokal, politik dan kebijakan publik.

ArtikelTerkait

Blora Memang Banyak Kekurangan, tapi Jangan Diprotes Terus, dong! Mojok.co

Kabupaten Blora Bukan Sebatas Horor Hutan Jati, Ini 3 Sisi Positif Blora, Kabupaten Indah yang Pesonanya Begitu Indah

26 Agustus 2024
Jalan Raya Purwodadi-Blora Bikin Resah Pejalan Kaki dan Pengendara

Jalan Raya Purwodadi-Blora Bikin Resah Pejalan Kaki dan Pengendara

12 September 2023
7 Dosa Bupati Blora yang Sulit Dimaafkan Warga

7 Dosa Bupati Blora yang Sulit Dimaafkan Warga

9 September 2024
Membayangkan Pramoedya Ananta Toer Menjadi Menteri Kebudayaan, Pasti Banyak Terobosannya Mojok.co

Membayangkan Pramoedya Ananta Toer Menjadi Menteri Kebudayaan, Pasti Banyak Terobosannya

6 Februari 2025
Blora Dibakar Keserakahan: Julukan Kota Minyak Nggak Membuat Sejahtera, Justru Bikin Sekampung Menderita

Blora Dibakar Keserakahan: Julukan Kota Minyak Nggak Membuat Sejahtera, Justru Bikin Sekampung Menderita

21 Agustus 2025
Hutan Blora Sudah Tak Mistis, Kini Malah Kritis Akibat Alih Fungsi Lahan

Hutan Blora Sudah Tak Mistis, Kini Malah Kritis Akibat Alih Fungsi Lahan

23 Mei 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Datsun GO Bekas Kondisinya Masih Oke dan Murah, tapi Sepi Peminat Mojok.co

Datsun GO Bekas Kondisinya Masih Oke dan Murah, tapi Sepi Peminat

27 Januari 2026
MU Menang, Dunia Penuh Setan dan Suram bagi Fans Liverpool (Unsplash)

Sejak MU Menang Terus, Dunia Jadi Penuh Setan, Lebih Kejam, dan Sangat Suram bagi Fans Liverpool

1 Februari 2026
Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali Mojok.co

Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali

1 Februari 2026
Bagi Orang Bengkel, Honda Beat Adalah Motor Paling Masuk Akal yang Pernah Mengaspal MOJOK.CO

Bagi Orang Bengkel, Honda Beat Adalah Motor Paling Masuk Akal yang Pernah Mengaspal

28 Januari 2026
Bayu Skak dan Film Ngapak Banyumas: Mengangkat Martabat atau Mengulang Stereotipe Buruk?

Bayu Skak dan Film Ngapak Banyumas: Mengangkat Martabat atau Mengulang Stereotipe Buruk?

26 Januari 2026
6 Waktu dan Cara yang Tepat Membunyikan Klakson di Jogja, Sebuah Panduan untuk Pengendara Luar Mojok.co

6 Waktu dan Cara yang Tepat Membunyikan Klakson di Jogja, Sebuah Panduan untuk Pengendara Luar

26 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Misi Mulia Rumah Sakit Visindo di Jakarta: Tingkatkan Derajat Kesehatan Mata dengan Operasi Katarak Gratis
  • DLH Jakarta Khilaf usai Warga Rorotan Keluhkan Bau Sampah dan Bising Truk dari Proyek Strategis Sampah RDF
  • Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh”
  • Indonesia Hadapi Darurat Kualitas Guru dan “Krisis Talenta” STEM
  • Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi
  • Ironi Jogja yang “Katanya” Murah: Ekonomi Tumbuh, tapi Masyarakatnya Malah Makin Susah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.