Saya orang asli Jawa yang kini tinggal di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Setelah beberapa saat tinggal di tempat ini, ternyata ada perbedaan soal tahlilan di Sumatera dengan di Jawa.
Tulisan ini tidak bermaksud membanding-bandingkan atau praktik tahlilan mana yang lebih baik. Tulisan ini hanya ingin memberi informasi ke kalian orang Jawa yang hendak pindah ke Sumatera Selatan, khususnya Lahat, supaya tidak kaget.
Secara garis besar, konsep tahlilan di Jawa dan Lahat Sumatera Selatan sebenarnya sama saja. Ada pembukaan, pembacaan Surat Yasin hingga doa-doanya tidak jauh berbeda. Perbedaan hanya terletak pada waktu pelaksanaan dan cara menyajikan makanan.
Tahlilan di Lahat Sumatera Selatan tidak 7 hari penuh, tapi 3 hari
Bagi masyarakat Jawa, sangat lumrah melakukan tahlilan selama 7 hari penuh. Sementara di Lahat, Sumatera Selatan, tahlilan awal itu 3 hari saja.
Pada hari ketiga, masyarakat menyebutnya sebagai “tiga sekaligus nujuh hari” atau tiga sekaligus tujuh hari. Jadi tahlilan hari ketiga sampai ketujuh semua digabung pada hari ketiga.
Selain itu, setiap hari Kamis atau malam Jumat, keluarga yang berduka mengadakan tahlilan. Misalnya, seseorang meninggal dunia pada Sabtu, 11 Juli 2026, maka akan digelar tahlilan setiap Kamis di tanggal 16 Juli 2026, 23 Juli 2026, 30 Juli 2026, 6 Agustus 2026, dan 13 Agustus 2026. Pada Tanggal 20 Agustus 2026 tidak ada lagi tahlilan karena malam ke-40 jatuh pada tanggal 19 Agustus 2026.
Akan tetapi, apabila malam ke-40 hanya berjarak 1-2 hari saja dari hari Kamis biasanya tidak ada tahlilan lagi pada Kamis itu supaya keluarga duka tidak repot menyiapkan dua acara yang saling berdekatan.
Makannya prasmanan
Dalam kebiasaan tahlilan masyarakat Jawa, pemilik rumah atau keluarga duka langsung membagikan masing masing undangan 1 piring yang berisi nasi beserta lauk pauknya untuk dikonsumsi.
Berbeda dengan Lahat Sumatera Selatan yang menggunakan prasmanan. Jadi pemilik rumah akan memasak beberapa menu dalam jumlah besar. Lalu orang yang tahlilan mengambil sendiri makanannya menggunakan piring dan sendok yang sudah disiapkan.
Jujur, awalnya saya sempat kaget ada prasmanan di acara tahlilan, karena sebelumnya prasmanan ini hanya saya temukan ketika acara pernikahan atau acara yang berkonsep perayaan. Akan tetapi, lambat laun akhirnya saya bisa menyesuaikan diri.
Dihadiri laki-laki dan perempuan
Berbeda dengan tahlilan di Jawa yang hanya dihadiri oleh laki-laki saja, di Lahat dan sebagian daerah Sumatera tahlilan dihadiri oleh laki-laki dan perempuan (biasanya suami dan istri) atau perwakilan laki-laki dan perempuan yang ada di keluarga tersebut, misal kakak (laki-laki) dan adik (perempuan).
Itu mengapa, jumlah orang yang hadir jauh lebih banyak. Bahkan terkadang sampai 1 ruangan di dalam rumah tidak cukup. Bagi pihak keluarga duka yang tempat tinggalnya tidak terlalu besar, biasanya akan menyediakan kursi di bagian luar rumah atau menumpang di rumah tetangga agar semua orang bisa duduk.
Nah, itulah dia perbedaan tradisi tahlilan di Lahat Sumatra Selatan dan di Jawa. Semoga pengetahuan ini bisa membantu siapa saja agar lebih siap menyesuaikan diri dengan tradisi baru di tempat yang baru. Sebab, seperti kata pepatah, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.
Penulis: Firdaus Deni Febriansyah
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 5 Kelakuan Menyebalkan Saat Tahlilan, Saya Tulis Ini Supaya Orang-orang Bisa Refleksi.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
