Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Surat Protes dari Perwakilan Kampret untuk Sandiaga Uno

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
1 Januari 2021
A A
sandiaga uno prabowo-sandi cebong kampret jokowi mojok

prabowo-sandi cebong kampret jokowi mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Selamat pagi, siang, malam, Bro Sandiaga Uno. Tergantung mas bro bacanya kapan. Pun ijinkan saya belaga sok asik pakai sapaan “ bro” seperti yang biasa Bro Sandi gunakan di kanal YouTube Bro Sandi. Santai saja, Bro, saya paham, politikus jaman sekarang kan pada penginnya merangkul kaum milenial. Yah, walau caranya kebanyakan norak, sih.

Lha Bro Sandiaga Uno manggil “Mas Bro” gitu biar kelihatan milenial, kalau saya yang pakai kok ya malah kelihatan seperti memaklumi boomer ya, bro? Wagu gitu. Ah, nggak masalah. Bukan itu inti yang mau saya luapkan kemarahan ini kepada Bro Sandi.

Oh iya, perkenalkan, nama saya Gusti. Biasa disapa “Gus” walau bukan lulusan pesantren, bukan juga saudaranya Agus Mulyadi. Bukan keturunan Keraton, darah saya seutuhnya berwarna merah, bukan biru. Bebas Bro Sandiaga Uno nyapa saya dengan sebutan apa. Mau manggil mas, bro, dab, coy, nyuk, su, ngan, apa pun itu, boleh.

Saya adalah fans fanatik Bro Sandi. Buktinya saya punya kaos pas Bro Sandi nyalon bakal wapres. Nggak percaya, bro? Itu lho kaosnya masih ada, di samping kompor rumah saya, jadi penahan jatuhnya minyak ke lantai.

Bahkan saya selalu memaknai atribut dari Bro Sandi, kan? Biar nggak mubazir. Walau gagal jadi cawapres, atribut Bro Sandiaga Uno tetap saya gunakan sampai kapanpun juga. Jadi gombal nggak masalah kan, bro? Yang penting berguna. Biar janji-janji selama kontestasi saja yang nggak berguna, atribut berupa kaos saringan tahu jangan.

Apalagi sisi milenial Bro Sandi yang selalu memikat perhatian. Dari mulai nabrak jembatan, sampai bikin konten di Instagram jadi superhero, wes to pokoknya sepak terjang Bro Sandi saya suka. Kapan lagi to ada politisi cum pengusaha sukses yang selo dan kurang gawean kayak Bro Sandi ini. Sungguh, saya kagum.

Kenapa kok saya bisa suka? Begini lho bro, soalnya selera saya itu suka sama yang wagu, maksa, dan norak gitu, Bro. Yah, bisalah kita bersepakat untuk yang satu ini. Kita bersepakat bahwa norak dan cenderung pekok bisa jadi poin plus—semisal—menang kontestasi.

Pokoknya makin norak, saya makin suka, bro. Apalagi politisi atau mantan pejabat publik seperti Bro Sandi. Ketika kebanyakan menjual gagasan dan harapan, Bro Sandi menjajakan sesuatu yang lebih realistis; hal norak dan maksa jadi milenial.

Baca Juga:

Derita dan Kejadian Konyol Pengalaman Saya Saat KKN di Jember: Salah Satunya Dikira Timses Prabowo Hanya karena Berpakaian Necis

Menangisi Menteri yang Kena Reshuffle Itu Konyol!

Dan Bro Sandi memenuhi asupan konsumsi hal-hal wagu itu. Gimana nggak ngefans coba, Bro? Sampai sini, jelas lah ya alasan mengapa saya suka dengan gelagat Bro Sandi? Sejak jaman tandem sama Anies, sampai duet maut dengan Prabowo, Sandiaga Uno selalu menjadi sesuatu di mata saya.

Sejak saat itu saya membaptis diri menjadi kampret yang kaffah, Bro. Wes pokoknya yang berhubungan dengan kecebong, apalagi kodok, saya bakal lawan mati-matian. Saya jadi buzzer tanpa bayaran, saya masuk grup pendukung Bro Sandi dan siap war dengan para cebong.

Kalau hal-hal ndlogok bisa dimasukin ke CV dan LinkedIn, wah kebak sudah laman bagian profesionalitas di CV saya, bro. Lha gimana, di desa saya ada yang cebong saja saya datengin sama kawan-kawan kampret. Poster Jokowi saya kleteki, tak ganti dengan wajah Bro Sandi yang berdikari indah mewangi.

Bro Sandi denger kabar nggak ada dua desa berseteru gara-gara kontestasi Pilpres 2019 lalu? Ya itu dia desa saya, Bro. Dua desa gontok-gontokan, nggak mau calon idamannya dinyek dan diplekotho. Segala dedikasi saya di muka bumi, saya limpahkan demi Bro Sandi. Saya sekolah bertahun-tahun, jadi pekok hanya dalam hitungan hari.

Saya juga jadi lebih Tuhan ketimbang Tuhan itu sendiri. Isu kebangkitan komunis saya dengarkan. Isu bahwa Jokowi keturunan Njoto pun saya manggut-manggut menyetujui. Saya jauh lebih pekok daripada ayam yang nglilir pukul tiga pagi, berkokok nggak tepat waktu.

Saya jadi lebih cerewet dan pandai politik dalam sekejap. Saya adalah kampret yang luar biasa. Buku puisi Chairil Anwar di rumah, saya ganti dengan puisi mengancam Neno Warisman. Sisi kemanusiaan sebatas mengasihani Ratna Sarumpaet. Slavoj Žižek saya tinggalkan lantaran Rocky Gerung adalah sohib Bro Sandi.

Pokoknya demi Bro Sandi, saya bertingkah begitu ngawu-awu baik di kehidupan nyata sampai di dunia maya. Semua saya sikat dengan urat. Jemari saya lebih jahat daripada siluman. Gimana, bro, betapa militannya saya, bukan?

Ndilalahnya, bagai hati seorang perempuan yang terluka, Bro Sandi telah menghianati kebodohan saya. Pertama dimulai ketika Bro Sandi jadi mesin tempur utama dalam memenangkan Gibran Rakabuming Raka di Solo. Saya masih biasa saja kalau ini, yah namanya juga politik, selicin belut dan sebau tahi.

Yang bikin saya nggak habis pikir, kok ya bisa-bisanya Bro Sandi ini masuk kabinetnya Jokowi. Prabowo nggak masalah, deh. Saya tahu tabiat blio sejak jaman tandem sama Megawati. Jadi ya lumrah ketika jadi menhan. Ini lho, mosok Bro Sandi junjunganku masuk kubu Jokowi. Hyung alaaah.

Melihat kondisi seperti ini, 2024 jadi nggak menarik, bro. Lha gimana, oposisi yang bakal saingan sama istana ya palingan hanya dua: Anies Baswedan dan kotak kosong. Yang terakhir paling realistis untuk melawan kekuatan besar istana.

Kalau sekadar melawan kotak kosong, Bro Sandi tahu lah kiat-kiatnya. Lha wong Gibran menang lawan kotak kosong saja berkat Bro Sandi. Eh, di Solo itu Gibran menang lawan kotak kosong kan, ya?

Eh nggak ding, nggak lawan kotak kosong. Tapi, rasanya kek kotak kosong sih.

Coba Bro Sandi mikir sebentar, diumpamakan Bro Sandi jadi saya. Saya lho, Bro, sudah melakukan banyak hal pekok, bentrok sama desa sebelah, muter-muter Ring Road buat kampanye, jadi buzzer tanpa bayaran, kok ya Bro Sandi malah masuk sarang “musuh lama”.

Bagi kampret senior seperti saya, ini namanya sudah jatuh malah njlungup! Saya nggak berani ke cakruk lho, Bro. Edan po, aku isin banget, Bro. Apalagi ketemu Mas Zainal cah lor ndesa yang merupakan cebong hooligan. Bisa-bisa saja dionek-onekke sampai kejer, Bro.

Entah karena Bro Sandi memenangkan Gibran atau apa pun itu, saya meminta pertanggungjawaban atas mencla-mencle-nya Bro Sandi. Nggak urusan. Ada rasa malu yang kudu Bro Sandi tanggung di tubuh kampret-kampret seperti saya ini.

Udah segini dulu, Bro. Saya mau menggulung poster-poster Bro Sandi di rumah saya. Mau saya masukan ke dalam lemari, bersama dengan rasa malu yang terus menumpuk dari waktu ke waktu.

Dari saya,

Kampret Palugada.

BACA JUGA Perbedaan Mendasar Nahan Berak di Bis dan Kapal dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

 

Terakhir diperbarui pada 31 Desember 2020 oleh

Tags: CebongJokowiKampretPrabowosandiaga uno
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

Memang Kenapa Kalau Tempo Sering Mengkritik Jokowi?

Memang Kenapa kalau Tempo Sering Mengkritik Jokowi?

3 Desember 2019
Saya Curiga Pakde Jokowi Hidup di Universe yang Lain terminal mojok.co

Membela Jokowi dari Pengeroyokan Boleh, Tapi Jangan Dengan Cara Bodoh!

18 September 2019
pilpres 2024

Kapan Waktu yang Tepat untuk Bicara tentang Pilpres 2024?

10 Desember 2021
Efek Positif Timnas Indonesia yang Luput dari Perhatian, Kafe-kafe Sepi Jadi Hidup Lagi erick thohir prabowo shin tae-yong pssi

Jangan Salahkan Pak Prabowo Nonton Laga Timnas Pakai Link Bajakan, Salahkan Orang-orang Terdekatnya yang Nggak Sayang sama Beliau!

24 November 2024

Hikmah dan Pesan di Balik Jokowi Salah Sebut Provinsi Padang

22 Mei 2021
Pak Jokowi, Tolong Bikin Kunjungan ke Magelang pada Malam Hari!

Pak Jokowi, Tolong Bikin Kunjungan ke Magelang pada Malam Hari!

5 Mei 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

8 Kasta Saus Indomaret dari yang Pedas hingga yang Biasa Aja Mojok.co

8 Kasta Saus Indomaret dari yang Pedas hingga yang Biasa Aja

4 Februari 2026
Jakarta Selatan Isinya Nggak Cuma Blok M, Ada Pasar Minggu yang Asyik Nggak Kalah Asyik Dikulik Mojok.co

Pasar Minggu Harus Ikuti Langkah Pasar Santa dan Blok M Square kalau Tidak Mau Mati!

4 Februari 2026
Jurusan Ekonomi Menyelamatkan Saya dari Jurusan Kedokteran yang seperti Robot Mojok.co

Jurusan Ekonomi Menyelamatkan Saya dari Jurusan Kedokteran yang seperti Robot

30 Januari 2026
Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali Mojok.co

Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali

1 Februari 2026
Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental Mojok.co

Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental

2 Februari 2026
Tinggal di Rumah Dekat Gunung Itu Tak Semenyenangkan Narasi Orang Kota, Harus Siap Berhadapan dengan Ular, Monyet, dan Hewan Liar Lainnya

Tinggal di Rumah Dekat Gunung Itu Tak Semenyenangkan Narasi Orang Kota, Harus Siap Berhadapan dengan Ular, Monyet, dan Hewan Liar Lainnya

31 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers
  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign
  • Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia
  • Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi
  • Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.