Surat dari Dekisugi untuk Pernikahan Nobita dan Shizuka – Terminal Mojok

Surat dari Dekisugi untuk Pernikahan Nobita dan Shizuka

Artikel

Gusti Aditya

Dekisugi hilang dalam satu frame dan membuat satu Indonesia geger. Sebagai kompetitor utama Nobita dalam merayakan perebutan hati Shizuka, barang tentu hadirnya amat dinanti di Stand By Me 2. Apalagi satu gambar menunjukkan pesta pernikahan antara Nobita dan Shizuka. Purna sudah “tugas” Dekisugi sebagai siswa cerdas yang menemani hari-hari Nobita kecil yang penuh anxiety.

Penulis kawakan Terminal, Seto Wicaksono, telah menelurkan beberapa teori yang membuat saya mangguk-mangguk dengan ritmis. Tulisan tersebut berjudul Menerka Alasan Dekisugi Nggak Ada di Foto Pernikahan Nobita Shizuka. Salah satunya adalah Dekisugi patah hati. Ini adalah teori yang mendekati gejolak kawula enom ketika ditinggal rabi “mantan kekasih”.

Nggak berangkat, bukan berarti Dekisugi abai. Itu bayangan saya. Lha sepatah-patahnya hati Dekisugi, blio adalah manusia terdidik. Barangkali meninggalkan amplop beserta uang seratus ribu untuk iuran. Bagaimanapun Nobita juga pasti ngirim ayam bakakak atau bolu lapis untuk Dekisugi.

Nah mari kita tebak, bagaimana isi surat tersebut. Surat yang paling patah yang pernah ia buat. Begini jadinya:

Untuk Nobita, kawanku. Pun untuk Shizuka yang—ah, anggap saja kawanku.

Perjumpaan memang menyenangkan, bukan? Dua orang akan saling sapa, menyentuh tangan, dan kemudian kata demi kata terlepas menjadi kalimat yang tak terputus. Begitu pula dengan apa yang terjadi denganku dan Shizuka, yang ketika kamu membaca surat ini, Nobita, perempuan cerdas itu telah menjadi istrimu.

Aku dan Shizuka bertemu dengan cara yang salah. Ketika kami sama-sama masih belum paham apa itu tumbuh dan berkembang. Olahan perasaan hanya hubungan antar pelajar, bukan antar insan. Kami bertemu di Primagama, ketika kamu, Nobita, sedang main kasti di lapangan desa bersama Giant dan Suneo.

Ini bukan perkara siapa yang lebih dulu bertemu, Nobita. Mau bagaimanapun, kamu adalah pemenang hati Shizuka. Aku hanyalah serpihan masa lalu Shizuka. Tak kurang pun tak mungkin lebih. Seperti kerja sebuah perangkat, aku dan Shizuka berjalan amat stagnan.

Sedang kamu, Nobita, adalah manusia pilih tanding yang dibantu kucing robot pesugihan bernama Doraemon. Tak apa, Nobita, tak apa. Aku sadar apa kapasitasku. Bagaimana peranku. Pun beginilah nasib menjadi tokoh yang bukan memiliki peran utama. Aku hanyalah figuran di kehidupan kalian. Sekali lagi, tak apa, bukan masalah.

Aku dan Shizuka hanya berlangsung menjadi “kita” manakala matematika masuk dalam campur tangan kami berdua. Ketika tugas hinggap dan berkelindan, Shizuka datang kepadaku. Ketika sin, cos, dan tangen masuk, Shizuka hadir di depan pintu rumahku.

Aku menyiapkan kue, teh dengan aroma terbaik, dan juga perasaan yang baik dan benar. Lantas apa yang Shizuka bawa? Ia hanya membalasku dengan sejumput soal yang tak bisa ia kerjakan. Kejamkah Shizuka? Ah, tidak juga. Akan tetapi, kamu harus tahu satu hal, Nobita, betapa sulitnya menjadi orang yang bergelut dengan perasaan.

Tatap mata Shizuka kala itu, aku terka merupakan sebuah ketertarikan. Padahal tidak sama sekali, Nobita. Ia hanya mengkhawatirkan akademiknya, bukan perasaanku yang berjalan dengan nisbi. Ia melulu berpikir tentang bilangan, sedang aku bergemuruh tentang perasaan yang mengulang.

Pertemuan kita bak kutukan yang tak terelakan. Perempuan itu hadir di bangku belakang, kami mengobrol banyak. Aku kira, semua berlangsung dengan membahagiakan. Ternyata, itu adalah nestapa yang terus dipupuk dengan menyedihkan. Aku dan Shizuka berbicara tentang paus sperma yang bisa menyentuh angka 57 ribu kilogram beratnya.

Sedangkan kala denganmu, Nobita, Shizuka banyak bercerita tentang kehidupannya. Ia menjadi dirinya sendiri tanpa kudu mengeluarkan intelektualitasnya. Shizuka mengejar kebahagiaannya sendiri tanpa kudu aku wanti-wanti dengan pintu ke mana saja dan senter pembesar.

Nobita, sadarkah dirimu aku bak orang bodoh yang bersembunyi dalam nilai-nilai akademik yang baik? Kau bisa tahu masa depan di abad ke-22, sedang aku bisa menghitung atom. Kau bisa masuk ke masa depan dan melihat cucumu dalam hubunganmu dengan Shizuka, sedang aku di kamar menyimpan senyum ketika mengingat momen habis makan bareng dengan Shizuka di kafetaria.

Kamu bisa melihat kelak anak cucu menjadi apa, sedang aku belajar setengah mati demi mereka yang aku tak tahu bakal jadi apa anak cucuku itu. Bahkan Nobita, ketika dirimu kedatangan Doraemon agar hidupmu baik dan lurus, aku melihatmu dari jauh dan berdoa yang terbaik untukmu. Sampai pada satu titik, apakah aku harus jadi bodoh agar menjadi tokoh utama?

Aku telah mendapatkan pesan darimu, Nobita dan Shizuka. Altar agung akan menjemput kalian. Maaf seribu maaf, aku tak bisa datang. Di hari itu aku memang berada di rumah, jauh dari Tokyo, pun tak ada kegiatan. Aku tak mau beralasan seperti anak kecil yang melulu dibantu oleh robot canggih. Aku tak seperti itu. Aku tak selemah itu.

Di hari pernikahan kalian, aku hanya ingin duduk di sofa rumah kayu yang baru saja aku beli. Di sana aku akan melihat perapian bekerja—ketika kayu digerus dan binasa oleh api—seperti sebuah analogi baik ketika membicarakan perasaanku terhadap pernikahan kalian.

Tak apa, Nobita dan Shizuka. Aku bukan soal. Aku hanyalah cameo dalam pertunjukan akbar kalian. Aku akan menjaga kebahagiaan kalian. Dengan sebaik-baiknya, pula sehormat-hormatnya.

Dari aku, Dekisugi.

Sapporo, 2K21.

BACA JUGA Menerka Alasan Dekisugi Nggak Ada di Foto Pernikahan Nobita Shizuka dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
21


Komentar

Comments are closed.