Begini Rasanya Jadi Murid yang Selalu Juara Kelas kayak Dekisugi – Terminal Mojok

Begini Rasanya Jadi Murid yang Selalu Juara Kelas kayak Dekisugi

Artikel

Kira-kira, bagaimana, ya, rasanya jadi murid yang selalu juara kelas?

Ada satu tokoh dalam Doraemon, anime terbaik versi saya, yang kurang mendapat sorotan. Dia adalah Dekisugi, si pintar yang ganteng dan jago olahraga. Namun, ia justru paling jarang hadir dalam anime ini, baik versi biasa yang diputar tiap minggu di salah satu stasiun televisi swasta, maupun versi Doraemon petualangan. Mungkin dia memiliki banyak kegiatan lain yang lebih menarik ketimbang bermain-main dengan Nobita dan yang lainnya setiap harinya.

Saya merasa cukup related dengan Dekisugi, terutama waktu duduk di bangku SMP. Dengan selalu jadi juara kelas dan juara umum saat kenaikan, bahkan menjadi pemilik NEM kedua terbaik sekota saat kelulusan (duh, ketahuan deh saya angkatan tua). Maka, sudah tepat kiranya kalau saya mengklaim bahwa saya sepintar Dekisugi. By the way, NEM SMP saya dulu 49,06 dari 6 mata pelajaran. Saya juga jago olahraga seperti Dekisugi. Bedanya adalah saya nggak ganteng seperti Dekisugi, tapi cantik. Wkwkwk.

Bagaimana rasanya menjadi murid yang pintar seperti Dekisugi? Sini saya bisikin. Tapi, maaf ya kalau artikel ini sedikit megalomania.

#1 Disayang guru

Hal pertama yang pasti dirasakan oleh murid yang pintar seperti Dekisugi adalah disayang guru. Bagaimana tidak? Diterangkan sedikit sudah ngerti, diberi ulangan dapat nilai baik, dan diminta ikut lomba mewakili sekolah selalu dapat juara. Sungguh membanggakan. Para guru pun tidak ragu untuk menunjukkan rasa sayang dan bangganya pada murid-murid yang pintar seperti Dekisugi.

Baca Juga:  Kiat Mendapatkan Nilai A dengan Mengadopsi Gaya Belajar Anak-anak ‘Law School’

Guru Matematika SMP saya bahkan sampai “menitipkan” saya pada guru Fisika SMA saya yang adalah kakak kandungnya. Mungkin percakapan mereka begini, “Titip muridku yang satu itu ya, Mas, nilainya jangan mbok bikin jelek, lho. Dia anak pintar.” Soalnya nilai Fisika kelas 1 SMA saya (sekarang kelas 10) tetap tinggi meskipun saya nggak terlalu ngerti pelajarannya. Trust me, istilah murid emas itu benar adanya.

#2 Nggak ada waktu untuk cinta-cintaan

Sama seperti Dekisugi yang sepertinya tidak tertarik untuk memulai hubungan cinta-cintaan, saya pun demikian saat SMP. Jika Dekisugi masih terlalu kecil untuk cinta monyet, saya terlalu tinggi hati untuk naksir pacaran dengan cowok yang nilainya di bawah saya.

Lha gimana? Dengan status sebagai juara kelas dan juara umum, tentu saja nilai semua murid lain di bawah saya, bukan? Padahal, salah satu syarat ideal saya dalam mencari pacar adalah: lebih pintar dari saya. Maka kehidupan sekolah saya jauh dari kisah cinta-cintaan seperti yang saya baca di majalah remaja. Menyedihkan.

#3 Sering disuruh ikut lomba

Maksudnya lomba mewakili sekolah di kejuaraan antar sekolah. Sejak saya kelas dua SMP, saya selalu ditunjuk untuk ikut lomba terkait bidang akademik mewakili sekolah. Mulai dari lomba cerdas cermat tingkat kota, sampai olimpiade matematika (meskipun yang ini saya gagal sih, teman saya yang lolos). Mungkin ini juga yang terjadi pada Dekisugi sehingga ia jarang terlihat dalam kisah-kisah Doraemon petualangan. Ia sedang ikut lomba antar SD di Tokyo.

Baca Juga:  INTAKO Bukan Sekadar Romantisasi Ikon Kabupaten Sidoarjo, tapi Simbol Kemakmuran Masyarakat

#4 Tidak pernah di-bully

Baik di-bully secara fisik maupun sekadar gencet-gencetan dari kakak kelas terhadap murid baru. Coba perhatikan, apakah Giant pernah mem-bully Dekisugi? Nggak pernah. Padahal Giant hampir selalu terlihat mem-bully Nobita, meskipun terkadang ia juga membela Nobita saat dijahili anak-anak yang lebih tua.

Apa alasan Giant tidak pernah mem-bully Dekisugi? Kemungkinan karena Dekisugi pintar. Nggak enak rasanya mem-bully teman yang lebih pintar dari kita. Daripada jadi lawan, lebih baik jadi kawan. Siapa tahu dapat sontekan waktu ulangan, ya, kan?

Ya, kira-kira begitu rasanya menjadi murid yang pintar seperti Dekisugi. Saya bisa melanjutkan daftar ini menjadi lebih panjang lagi, tapi saya khawatir kalian jadi kesal pada saya. Hehehe. Namun percayalah, di atas langit masih ada langit. Sebab setelah masuk SMA di kota besar yang konon merupakan SMA Negeri terbaik se-Jawa Barat, nilai-nilai saya terjun bebas. Ambyar.

BACA JUGA Selamat Kamu Tidak Juara Kelas, Dik! dan tulisan Maria Kristi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.