Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

“Super 30” Film India Soal Pendidikan yang Nggak Kalah Menarik dari “3 Idiots”

Utamy Ningsih oleh Utamy Ningsih
4 April 2020
A A
super 30

"Super 30" Film India Soal Pendidikan yang Nggak Kalah Menarik dari "3 Idiots"

Share on FacebookShare on Twitter

Sejak menonton film 3 Idiots, jujur saya akui, saya benar-benar jadi dibuat penasaran dengan film-film India bertema pendidikan. Saya yakin, pasti banyak di antara teman-teman yang membaca tulisan ini yang sudah pernah menonton film tersebut. Film yang dibintangi oleh Aamir Khan tersebut memang sangat mengesankan. Selain temanya yang menarik, motto all is well adalah satu hal yang membekas di ingatan saya ketika membahas film 3 Idiots.

Berangkat dari rasa terkesan akan film tersebut, pada akhirnya saya pun dibawa untuk menjelajahi beberapa film India (bertema pendidikan) lainnya. Belum banyak sih memang, tapi lumayanlah untuk membuat saya semakin jatuh cinta pada film India.

Selain 3 Idiots, Super 30 adalah salah satu film India bertema pendidikan yang menurut saya juga sangat menarik untuk ditonton. Super 30 bercerita tentang perjalanan hidup seorang Anand Kumar (seseorang yang sangat jago di bidang ilmu matematika) yang harus berjuang keras demi cita-citanya karena terhalang tembok tinggi bernama kemiskinan.

Film yang dibintangi oleh Hritik Roshan ini berlatar di sebuah desa di India bernama Patna. Meski begitu, ada beberapa hal yang saya rasa keadaannya tidak jauh berbeda dengan di negara kita tercinta, Indonesia.

Film ini adalah sebuah film yang diangkat dari kisah nyata Anand Kumar saat menginisiasi program belajar Super 30. Anand ingin membuktikan kepada dunia bahwa orang miskin pun bisa menjadi orang yang jenius. Anand ingin mematahkan stigma bahwa yang bisa menjadi raja hanyalah keturunan raja, rakyat miskin akan selalu hidup dalam kemiskinan.

Dibanding 3 Idiots, film ini memang lebih serius atau katakanlah kurang menampilkan sisi humoris. Film ini terasa lebih menyentuh dengan adegan-adegan dramatis yang bertebaran sepanjang durasi film. Kita akan melihat bagaimana potret kemiskinan yang mungkin saja juga begitu dekat dengan keadaan sekitar. Anak-anak yang putus sekolah karena terpaksa membantu mencari nafkah. Anak-anak yang tempat tinggalnya belum tersentuh listrik sama sekali.

Ketika menyorot perjuangan tiga puluh anak untuk bisa sampai ke tempat bimbingan belajar Anand, kita akan disajikan pemandangan yang miris dan menggetarkan. Mereka sungguh anak-anak yang luar biasa.

Namun perjuangan mereka masih harus ditambah dengan masalah lain. Lallan Sing, atasan (CEO) sebuah lembaga bimbingan belajar tempat Anand pernah mengajar dulu, ternyata tidak bisa menerima pengunduruan diri Anand. Lallan merasa bimbingan belajar yang dibangun oleh Anand sebagai sesuatu yang harus dilenyapkan. Berbagai cara licik pun ditempuh. Anand bahkan sempat hampir kehilangan nyawa karena perjuangannya mempertahankan Super 30. Adegan ini cukup menegangkan sekaligus mengharukan.

Baca Juga:

4 Rekomendasi Film India Penuh Plot Twist Sambil Nunggu 3 Idiots 2 Tayang

8 Hal Klise yang Sering Muncul di Film Bollywood

Adegan ketika para siswa Super 30 menjalani kompetisi bersama siswa dari bimbingan belajar milik Lallan Sing, adalah salah satu bagian yang paling menarik dari film ini. Kita diajak untuk melihat bagaimana potret ketimpangan dalam dunia pendidikan. Betapa jauhnya jarak antara siswa miskin dan kaya. Penampilan, perlengkapan sekolah, bahkan sampai gaya bahasa. Saya suka sekali ketika para siswa Super 30 pentas dalam merayakan hari Holi. Melalui pertunjukan teater yang kemudian diiringi tari dan lagu, mereka mengungkapkan bahwa bahasa asing itu penting, tapi bukan berarti lantas harus lupa pada bahasa sendiri. Duh, sampai merinding nontonnya.

Kisah-kisah mengharukan datang ketika menyorot perjuangan Anand. Ada perang batin dalam diri Anand. Di satu sisi dia butuh uang, di sisi lain dia punya cita-cita dan mimpi untuk tiga puluh anak, bahkan untuk dirinya sendiri. Anand bukan hanya memberi bimbingan belajar gratis, tapi juga menampung dan memberi makan. Tiga puluh orang jelas bukan jumlah yang sedikit. Anand sering dihadapkan pada situasi serbasulit. Bagaimana makanan yang sangat terbatas harus dibagi rata.

Dari segi cara mengajar, Anand mengajar dengan cara menyenangkan. Memadukan teori dengan praktik secara langsung. Anand tidak sekadar memberi tapi juga mengajak para siswanya untuk berbuat. Moment ketika Anand masuk rumah sakit akibat luka tembak, adalah moment yang menggambarkan bagaimana teori yang selama ini diberikan oleh Anand dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Pada bagian ini, bersiaplah untuk kembali mengingat pelajaran-pelajaran di bangku sekolah yang mungkin sudah cukup samar dalam ingatan.

Jika mencari unsur percintaan, film ini memang tetap punya hal itu, tapi tidak banyak. Anand adalah satu dari sekian banyak pemuda yang harus rela melepas wanita yang dia cintai jatuh ke pelukan ornag lain. Bukan karena Anand tidak ingin berjuang. Tapi karena Anand punya mimpi dan cita-cita yang memang mengharuskannya putus cinta. Anand bukan tidak peduli, Anand justru tahu wanita yang dia cintai akan jauh lebih bahagia bersama orang lain. Huhuhu.

Saya menonton film ini dengan tujuan ingin mendapat hiburan, dan memang itulah yang saya dapatkan. Film bertema pendidikan yang menggambarkan bagaimana seorang guru mengajar di luar ruangan memang sudah cukup banyak, tapi bagi saya setiap film tentu punya sudut pandang atau hal berbeda yang diangkat dalam tema seperti itu. Alih-alih merasa bosan, saya justru merasa ingatan saya tentang pelajaran semasa sekolah dipancing untuk muncul kembali.

Dalam kehidupan nyata, bimbingan belajar Super 30 yang diinisiasi oleh Anand Kumar terlah mendapat berbagai macam penghargaan dua di antaranya:
– Sekolah terbaik di ASIA pada tahun 2010 oleh Majalah Time.
– Salah satu dari empat sekolah paling inovatif di dunia oleh Newsweek.

Sesuai dengan tujuannya, bimbingan belajar (sekolah nonformal) Super 30 ini pun sudah mengantarkan banyak muridnya untuk lulus di Indian Institute of Technology (IIT).

Jika teman-teman mencari film hiburan yang tetap mengesankan, saya rasa film ini bisa menjadi salah satu pilihan.

BACA JUGA Mempertanyakan Polisi di Film India yang Hobi Telat Saat Tangkap Penjahat atau tulisan Utamy Ningsih lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 4 April 2020 oleh

Tags: 3 idiotsfilm indiafilm tentang pendidikansuper 30
Utamy Ningsih

Utamy Ningsih

Suka Membaca, Belajar Menulis.

ArtikelTerkait

4 Film India Jadul yang Wajib Ditonton Mahfud MD selain 'Dilwale' terminal mojok.co

Film India Jadul yang Wajib Ditonton Mahfud MD selain ‘Dilwale’

17 Juli 2021
4 Rekomendasi Film Bollywood Underrated yang Nggak Ada Salahnya Ditonton Terminal Mojok.co

4 Rekomendasi Film Bollywood Underrated yang Nggak Ada Salahnya Ditonton

14 April 2022
Jangan-jangan Negara yang Sering Disindir Film India Itu Indonesia? terminal mojok.co

Jangan-jangan Negara yang Sering Disindir Film India Itu Indonesia?

25 Januari 2021
Mencari Satyameva Jayate yang Hilang di Perguruan Tinggi

Mencari Satyameva Jayate yang Hilang di Perguruan Tinggi

29 Desember 2019

Saya Bersyukur Tidak Terlahir di Negara India

2 Mei 2021
Mimi: Film India tentang Keputusan Calon Bintang untuk Jadi Ibu Pengganti terminal mojok.co

Mimi: Film India tentang Keputusan Calon Bintang untuk Jadi Ibu Pengganti

8 Agustus 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bakmi Krinjing, Kuliner Kulon Progo yang Kalah Pamor dari Bakmi Jawa tapi Sayang Dilewatkan Begitu Saja

Bakmi Krinjing, Kuliner Kulon Progo yang Kalah Pamor dari Bakmi Jawa tapi Sayang Dilewatkan Begitu Saja

14 Januari 2026
Alasan Orang Luar Jogja Lebih Cocok Kulineran Bakmi Jawa daripada Gudeg Mojok.co

Alasan Orang Luar Jogja Lebih Cocok Kulineran Bakmi Jawa daripada Gudeg

17 Januari 2026
Sisi Gelap Nama Purwokerto dan Purwakarta yang Bikin Pusing (Unsplash)

Sisi Gelap dari Kemiripan Nama Purwokerto dan Purwakarta yang Bikin Pusing

19 Januari 2026
Tugas Presentasi di Kampus: Yang Presentasi Nggak Paham, yang Dengerin Lebih Nggak Paham

Tugas Presentasi di Kampus: Yang Presentasi Nggak Paham, yang Dengerin Lebih Nggak Paham

17 Januari 2026
3 Alasan Mitsubishi Outlander Sport Tidak Pantas Disuntik Mati dan Harus Diproduksi Kembali Mojok.co

3 Alasan Mitsubishi Outlander Sport Tidak Pantas Disuntik Mati dan Harus Diproduksi Kembali

19 Januari 2026
4 Aturan Tidak Tertulis ketika Naik Transjakarta (Unsplash)

Hal-hal yang Perlu Pemula Ketahui Sebelum Menaiki Transjakarta Supaya Selamat dan Cepat Sampai Tujuan

16 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Berkah di Luar Arena: Ojol Jakarta Terciprat Bahagia dari “Pesta Rakyat” Indonesia Masters 2026 di Istora
  • Sebaiknya Memang Jangan Beli Rumah Subsidi, sebab Kamu Akan Rugi Berkali-kali
  • Warga Madiun Dipaksa Elus Dada: Kotanya Makin Cantik, tapi Integritas Pejabatnya Ternyata Bejat
  • Indonesia Masters 2026: Cerita Penonton Layar Kaca Rela Menembus 3 Jam Macet Jakarta demi Merasakan Atmosfer Tribun Istora
  • Sumbangan Pernikahan di Desa Tak Meringankan tapi Mencekik: Dituntut Mengembalikan karena Tradisi, Sampai Nangis-nangis Utang Tetangga demi Tak Dihina
  • Menurut Keyakinan Saya, Sate Taichan di Senayan adalah Makanan Paling Nanggung: Tidak Begitu Buruk, tapi Juga Jauh dari Kesan Enak

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.