Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Sudah Saatnya Jogja Bangun Lebih Banyak Jembatan Penyeberangan, Jalanan Jogja Makin Nggak Aman!

Rizqian Syah Ultsani oleh Rizqian Syah Ultsani
13 Agustus 2024
A A
Sudah Saatnya Jogja Bangun Lebih Banyak Jembatan Penyeberangan, Jalanan Jogja Makin Nggak Aman!

Sudah Saatnya Jogja Bangun Lebih Banyak Jembatan Penyeberangan, Jalanan Jogja Makin Nggak Aman!

Share on FacebookShare on Twitter

Semakin banyak penduduk suatu kota, semakin rumit dan ruwet lalu lintasnya. Ini konsekuensi yang pasti terjadi. Jogja pun tak luput dari hal ini. Warga asli Jogja pasti sangat merasakan kalau kotanya semakin hari semakin padat dan macet. Kemacetan paling kerasa di jalan-jalan utama kayak Jalan Kaliurang, Jalan Godean, Jalan Gejayan, terlebih di saat jam-jam berangkat sama pulang kerja, macetnya selalu bikin ngelus dada.

Gimana nggak tambah penuh jalannya, setiap tahun saja ada penambahan sekitar 100.000 kendaraan bermotor baru di Jogja. Nggak usah dibayangkan sebanyak apa kendaraan 100.000 itu, pokoknya bikin jalan macet. Jumlah kendaraannya bertambah, tapi di satu sisi kuantitas jalannya nggak bertambah. Jangan tanya soal kualitas jalannya, sudah pasti juga tambah bobrok. Kalau jalanan sudah penuh sama kendaraan, siapa yang kemudian jadi korban? Sudah pasti pejalan kaki.

ADVERTISEMENT

Kalau jalan sudah macet, pasti nggak hanya satu atau dua tapi banyak oknum pengendara sepeda motor yang lewat di trotoar. Belum lagi para pengguna mobil tapi nggak punya parkiran, pakai trotoar jadi tempat parkir pribadi mereka. Kalau gini, gimana pejalan kaki mau lewat. Masa ya terbang. Untungnya sekarang pada beberapa ruas jalan di Jogja, pemerintah kabupaten/kota atau provinsi sudah membenahi trotoar jadi lebih baik dan nyaman untuk pejalan kaki.

Jembatan penyeberangan di Jogja wajib ditambah

Tapi masalah memberi hak untuk pejalan kaki ini nggak berhenti sampai situ saja. Pejalan kaki di Jogja masih terancam ketika menyeberang jalan. Kayaknya nggak bisa kalau hanya berharap sama zebra cross saja. Trotoar aja dilibas sama kendaraan, apalagi cuma zebra cross. Tombol menyeberang jalan seperti yang ada di Jalan Malioboro juga nggak berdampak signifikan. Oknum pengendara kendaraan tetap tancap gas alias golongan ‘mak kluwer’ yang kalau bawa kendaraan suka nyelonong ngawur. Mau nyeberang jalan saja sulit harus bertaruh nyawa, agak seram ya.

Kalau sudah begitu, jembatan penyeberangan jadi infrastruktur yang dibutuhkan. Ya mau gimana lagi, keadaan jalan sudah begini. Masak ya mau gacha nyawa?

Masalahnya, Jogja masih minim sama jembatan penyeberangan orang. Masa kota seruwet Jogja, jembatan penyeberangan orang untuk umum yang saya tahu cuma ada 3. Di Pasar Beringharjo ada 2 dan satunya ada di depan Ambarukmo Plaza. Sebenarnya ada lagi di UGM antara gedung fakultas kedokteran sama RS Sardjito, dan di UIN Sunan Kalijaga, tapi itu kan bukan untuk umum. Kalau yang untuk umum ya cuma tiga itu saja sekarang.

Padahal melihat kemacetan yang ada, banyak tempat yang harusnya punya jembatan penyeberangan. Tempat seperti Ring Road, Jalan Solo, Jalan Magelang, Jalan Wates, dan jalan nasional lainnya di Jogja butuh banget jembatan penyeberangan. Jalannya lebar, kendaraannya banyak dan kencang-kencang, serta kebutuhan pejalan kaki untuk menyeberang jalan juga tinggi. Nggak kebayang sulitnya pejalan kaki menyeberang di jalanan tersebut. Bener-bener bertaruh nyawa.

Kalau nunggu jalannya sepi, terus kapan menyeberangnya? Wong jalan tersebut ramai terus.

Baca Juga:

Krisis Identitas wingko babat: jajanan asli Lamongan, dijajah Semarang, dicaplok Jogja

Kenapa orang Jogja malas wisata naik gunung ke Gunung Merapi?

Tempat wisata juga butuh

Selain itu, ruas jalan dalam kota juga perlu dilengkapi sama jembatan penyeberangan orang. Melihat banyaknya wisatawan yang memilih untuk berjalan kaki menikmati Jogja, jembatan penyeberangan jadi krusial. Rasanya agak ngeri juga melihat anak kecil harus menyeberangi Jalan Senopati untuk menuju Taman Pintar.

Selain di tempat-tempat wisata atau area ramai lainnya di dalam kota, penggunaan jembatan penyeberangan orang juga diperlukan di depan sekolah yang dilewati jalan besar. Zebra cross dengan latar warna merah dan diseberangkan sama satpam sekolah tampaknya juga masih bisa dilanggar sama oknum-oknum pengendara yang mak kluwer tadi. Kan kasihan anak-anak yang mau berangkat sekolah.

Buat pemerintah kabupaten/kota dan maupun provinsi monggo untuk dipertimbangkan pengadaan jembatan penyeberangan orang di Jogja. Bagaimanapun juga, ini bagian dari memajukan transportasi umum di Jogja. Trotoar nyaman, menyeberang juga aman, pasti nanti banyak yang lebih tertarik sama kendaraan umum. Dengan begitu, Jogja bisa mengurai kemacetannya. Yah, biar Jogja berhati nyaman bukan hanya sekedar slogan, tapi betulan nyaman.

Penulis: Rizqian Syah Ultsani
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Jogja Istimewa: Ketika Trotoar Lebih Penting dari Rumah Rakyat

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 Agustus 2024 oleh

Tags: jembatan penyeberanganJogjalalu lintas jogja
Rizqian Syah Ultsani

Rizqian Syah Ultsani

Lulusan Sosiologi UGM yang tinggal di Jogja. Suka mengulas tentang Jogja dan segala isinya. Memiliki hobi lari.

ArtikelTerkait

Lamongan Destinasi Liburan yang Logis ketimbang Jogja (Unsplash)

Ketimbang Jogja, Lamongan Adalah Destinasi Paling Logis untuk Liburan Tahun Baru

30 Desember 2024
3 Alasan yang Membuat Saya Malas Lewat Ringroad Jogja Mojok.co

3 Alasan yang Membuat Saya Malas Lewat Ringroad Jogja

11 Juni 2024
Malioboro Jogja Bau Pesing, Kuda Andong Bakal Pakai Popok (Unsplash)

Panduan Berwisata di Jogja agar Terhindar dari Pengalaman Buruk dan Kapok Kembali

29 April 2025
Batas Usia Kerja Bunuh Masa Depan Pencari Kerja Usia 30 Tahun! (Unsplash)

Batas Usia Kerja Nyata Menyiksa Pencari Kerja dengan Usia di Atas 30 Tahun Seperti yang Saya Rasakan

19 Agustus 2024
bahasa di wakatobi pelestarian lingkungan sepak bola bajo club wakatobi poasa-asa pohamba-hamba mojok

Wakatobi, Surabaya, dan Jogja: Mana yang Lebih Layak untuk Ditinggali?

29 November 2020
Nasib Mall Lippo Plaza Jogja yang Hidup Segan Mati Tak Mau Mojok.co

Nasib Mall Lippo Plaza Jogja yang Hidup Segan Mati Tak Mau

25 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kecewa pada teman yang tidak mengucapkan selamat ulang tahun, saya jadi belajar tidak berekspektasi pada manusia Mojok.co

Kecewa pada teman yang tidak mengucapkan selamat ulang tahun, saya jadi belajar tidak berekspektasi pada manusia 

16 Juli 2026
Fans Ronaldo nangis melihat Messi real GOAT di final Piala Dunia (Unsplash)

Final Piala Dunia yang bikin fans Ronaldo hilang arah: Cemas dukung Messi atau membiarkan fans Barcelona makin besar kepala?

18 Juli 2026
Kenapa banyak daerah di jombang bernama mojo? (Wikimedia Commons)

Kenapa banyak daerah di jombang bernama mojo?

21 Juli 2026
Stop bilang orang Sunda pemalas, kami cuma tahu cara menikmati hidup tanpa harus burnout Mojok.co

Stop bilang orang Sunda pemalas, kami cuma tahu cara menikmati hidup tanpa harus burnout

17 Juli 2026
4 hal lazim di Jogja yang masih asing di Tulungagung, tapi perlu dicontoh demi ruang publik yang lebih hidup  Mojok.co

4 hal lazim di Jogja yang masih asing di Tulungagung, tapi perlu dicontoh demi jadi daerah lebih hidup 

17 Juli 2026
Alasan orang Semarang seperti saya menghindari nonton di bioskop XXI, lebih memilih Cinepolis walau kalah populer Mojok.co

Alasan orang Semarang seperti saya menghindari nonton di bioskop XXI, lebih memilih Cinepolis walau kalah populer

19 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.