Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Stop Glorifikasi Guru Bule: Native Speakerism dalam Industri Bahasa Inggris yang Nggak Ada Bedanya dengan Neo Rasisme

Faqih oleh Faqih
30 April 2025
A A
Stop Glorifikasi Guru Bule: Native Speakerism dalam Industri Bahasa Inggris yang Nggak Ada Bedanya dengan Neo Rasisme

Stop Glorifikasi Guru Bule: Native Speakerism dalam Industri Bahasa Inggris yang Nggak Ada Bedanya dengan Neo Rasisme

Share on FacebookShare on Twitter

Pernah nggak pas lagi scrolling Instagram ketemu iklan kursus bahasa Inggris yang bangga mempromosikan “belajar sama native speaker”?

Nah, selamat datang ke dunia industri bahasa Inggris, di mana mitos native speaker=guru terbaik berujung pada termarjinalkannya guru lokal. Industri bahasa di sini (masih) berani bayar mahal guru ‘native’ dan ngasih label ‘premium’ atau ‘ekslusif’ di paket kelasnya. Nah, apakah berarti guru lokal nggak premium? Mari kita bongkar bareng kenapa stereotip ini harus segera kita matikan!

Native-speakerism

Saya rasa, industri bahasa di sini terjangkit native-speakerism. Apa sih native-speakerism? Intinya, banyak orang menganggap guru yang lahir dan besar di negara penutur asli Inggris (kayak UK, US, Australia) itu otomatis juara mengajar. Padahal kemampuan ngajarnya belum tentu lebih oke dibanding guru lokal yang kompeten.

Sebenarnya, banyak ahli bahasa bilang bahwa konsep ‘native’ itu samar banget dan layak diperdebatkan (kompilasi tulisan yang cukup komprehensif dapat dilihat dalam buku (En)Countering Native-speakerism). Holliday (2015) dengan tajam mengaitkan native-speakerism dengan hierarki warna kulit dan budaya yang dilegitimasi sebagai ‘standar emas’. Dia menamai fenomena ini sebagai neo-rasisme, karena ia tidak lagi bersifat eksplisit sebagai penindasan ras tradisional, melainkan terselubung dalam wacana profesional dan komersial industri bahasa Inggris.

Neo-rasisme bekerja lewat narasi bahwa penutur Barat adalah “pemilik” bahasa, sementara ragam dan aksen lain dianggap sekadar variasi inferior. Sederhananya, pengajar bahasa Inggris non-native (baca: selain kulit putih) dianggap tidak cukup otentik dan tidak sempurna, sehingga kerap mengalami diskriminasi dalam pasar kerja.

Coba kita pikirin baik-baik: dalam konteks bahasa Inggris, orang mana yang dapat dikategorikan sebagai native? Apakah orang Singapura yang dalam kesehariannya biasa bicara pakai bahasa Inggris tidak tergolong native speaker? Bagaimana dengan orang India dengan aksen khasnya yang sejak lahir sudah terbiasa menggunakan dengan bahasa Inggris sehari? Tetap bukan native meskipun dapat bicara lancar?

Atau contoh yang lebih dekat dengan kita: anak Indonesia yang sejak kecil sudah lancar berbahasa Inggris (misalnya dengan menjadi siswa di sekolah internasional). Kalaupun mereka tidak dianggap native karena dialek mereka berbeda, bahasa Inggris di AS, UK, dan Australia pun muncul dengan beragam logatnya. Kenapa label native hanya dilabuhkan pada orang Barat?

Native vs non-native yang sudah tidak relevan

Kini saatnya kita terima semua variasi Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional, yang juga dikenal sebagai paradigma World Englishes. Lagi pula, secara statistik dan kedekatan geografis, kita lebih mungkin menggunakan bahasa Inggris dengan mereka yang bukan berasal dari ‘English-speaking countries’ dibanding mereka yang berasal dari AS-Canada, UK, dan Australia-New Zealand. Jelas, dari jumlah populasinya saja kalah jauh.

Baca Juga:

Apa Urgensi Belajar Bahasa Portugis? Ketemu Bahasa Inggris Aja Masih Nangis!

Tanpa Les, Tanpa Bimbel: Cerita Mahasiswa yang Selalu Dapet Skor TOEFL 500-an Berbekal Nonton Film dan Main Video Game

Dengan kata lain, dikotomi ‘native’ vs ‘non-native’ sudah tidak relevan dan tidak berguna sama sekali. Kita tidak lagi memerlukan validasi mereka yang berkulit putih sebagai ukuran kemampuan berbahasa Inggris. Justru sebaliknya, jika tujuan pengajaran bahasa Inggris adalah untuk berkomunikasi global, eksposur pembelajar terhadap ragam dialek bahasa Inggris menjadi semakin penting. Ketika bekerja, mereka mungkin akan menggunakan bahasa Inggris untuk berinteraksi dengan klien dari Singapura atau bos dari India.

Setelah kita sadar bahwa ‘native’ itu sendiri mitos, selanjutnya tinggal tanya: siapa yang paling diuntungkan oleh stereotip ini?

Industri pendidikan paham betul cara mengkapitalisasi mitos ini dan memainkan psikologi publik untuk kepentingan mereka. Misalnya, di feeds Instagram Kursus ABC, kita bakal disambut foto bule ganteng atau cewek cantik dengan label belajar bareng native speaker, lengkap dengan embel-embel eksklusif dan premium, seolah-olah sekadar bersuara dengan aksen Barat auto jago semua.

Ada paket “bule” untuk korporat dan orang tua yang rela bayar mahal. Lalu ada paket “lokal” untuk mahasiswa dan pekerja kantoran dengan harga lebih miring. Belum lagi ada add-on “speaking club with native speaker” yang bikin makin cringe! Boleh jadi mereka sekadar menemukan turis bule dan langsung ditawarkan mengajar part-time. Sad but true.

Guru bahasa Inggris lokal terpinggirkan

Sementara itu, guru lokal jadi marjinal. Fee per jam mereka timpang. Misalnya ditawar Rp150.000/jam, padahal di lembaga yang sama bule dapat Rp250.000/jam. Meskipun secara kualitas dan sertifikasi sudah mumpuni, para guru lokal ini akan terus dibayar murah simply karena mereka nggak berkulit putih. Kebayang kan absurdnya sistem ini? Apa ungkapan yang tepat untuk menggambarkan kondisi ini selain rasisme?

Ini jelas merugikan ekosistem pengajaran dan kesejahteraan guru lokal. Fenomena ini membuat saya mikir: sebenarnya, saat kursus-kursus itu buka lowongan, mereka lagi nyari apa sih? Pedagog profesional yang paham metode pengajaran atau badut marketing yang sekadar bisa diajak foto bareng? Coba bayangin CV guru lokal berisi gelar S1 jurusan pendidikan, pengalaman ngajar 4 tahun, dan sertifikasi guru, tapi kalah bersaing sama guru “native” yang pengalaman mengajarnya nggak jelas sambil nulis, “Let’s learn English together!”

Belajar bahasa Inggris nggak harus sama native, kok

Melalui tulisan ini saya mengajak para pembaca, khususnya mereka yang berencana mau belajar bahasa Inggris, untuk tidak terkecoh dengan label ‘kelas native’. Cek kredensial gurunya, bukan asal usul atau warna kulitnya. Dukung guru lokal yang udah punya skill mumpuni dan pantas dapat upah adil, sekaligus jadi konsumen kritis yang tolak label premium cuma karena bule. Ingat, bahasa Inggris itu bahasa internasional, bukan bahasa orang Amerika atau British doang.

Selain itu, para pengajar bahasa Inggris yang terhormat: daripada mengajar slang Amerika, aksen British, dan yang semacamnya itu, lebih baik berikan materi yang lebih relevan dan berguna bagi kebutuhan komunikasi global. Budaya kulit putih bukan hal yang ekslusif dan sepenting itu sehingga murid harus paham. Ada banyak pendekatan pengajaran yang lain yang lebih relevan dan berguna bagi mereka.

Sudah saatnya kita memutus rantai mitos native-speakerism dan berhenti mengglorifikasi guru bule dalam pengajaran bahasa Inggris. Bahasa Inggris adalah milik kita semua, bukan milik segelintir orang Barat saja. Maka mari jadikan pembelajaran benar-benar inklusif, relevan, dan berbobot.

Penulis: Faqih
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Pengalaman Berkomunikasi dengan Bule yang Bukan Native English Speaker

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 30 April 2025 oleh

Tags: Bahasa Inggrisguru bulenative speaker
Faqih

Faqih

Sempat menjadi guru selama 5 tahun namun banting setir ke bidang riset dan analisis untuk hidup yang lebih baik. Peduli dengan isu pekerja dan pendidikan.

ArtikelTerkait

Gelar Kampung Inggris yang Membebani Warga Pare

Gelar Kampung Inggris yang Membebani Warga Pare

30 Januari 2022

Dapetin Skor TOEFL 550 Nggak Susah kalau Kamu Tau Triknya!

24 Mei 2021
4 Jenis Orang yang Selalu Ada di Situs Speaking English MOJOK.CO

4 Jenis Orang yang Selalu Ada di Situs Speaking English

27 Juli 2020
Bahasa Inggris Menjadi Anak Tiri, Bahasa Arab Tabungan Akhirat (Unsplash)

Standar Ganda Masyarakat di Desa Terhadap Pelajar Bahasa Arab dan Bahasa Inggris

13 Oktober 2023
Menggunakan Bahasa Indonesia sebagai Lingua Franca di Kampung Inggris terminal mojok.co

Menggunakan Bahasa Indonesia sebagai Lingua Franca di Kampung Inggris

19 November 2020
melatih anjing

Kenapa sih Melatih Anjing Harus Pakai Bahasa Inggris?

17 November 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lebaran Saatnya Masa Bodoh dengan Ocehan Tetangga (Unssplash)

Refleksi Lebaran Bagi Kepala Rumah Tangga: Tunaikan yang Wajib, Masa Bodo dengan Gengsi dan Ocehan Tetangga

14 Maret 2026
Daihatsu Taruna, Mobil Sok Gagah yang Berakhir Gagal Total dan Bikin Penggunanya Bingung Setengah Mati

Daihatsu Taruna, Mobil Sok Gagah yang Berakhir Gagal Total dan Bikin Penggunanya Bingung Setengah Mati

17 Maret 2026
Terminal Ir Soekarno Klaten Terminal Terbaik di Jawa Tengah

Terminal Ir Soekarno Klaten: Terminal Terbaik di Jawa Tengah yang Menjadi Tuan Rumah Bagi Siapa Saja yang Ingin Pulang ke Rumah

18 Maret 2026
Lebaran Membosankan Adalah Fase Pendewasaan yang Pahit (Unsplash)

Lebaran Membosankan Adalah Fase Pendewasaan yang Lebih Pahit dari Obat Puyer

12 Maret 2026
Ulukutek Leunca, Makanan Sunda Paling Nggak Normal dan Rasanya Bikin Pusing Pendatang  Mojok.co

Ulukutek Leunca, Makanan Sunda Paling Nggak Normal dan Rasanya Bikin Pusing Pendatang 

13 Maret 2026
Suzuki Satria Pro Aib Terbesar Suzuki yang Tak Perlu Lahir (Wikimedia Commons)

Suzuki Satria Pro: Aib Terbesar Suzuki yang Seharusnya Tak Perlu Lahir

18 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Getol Kuliah Peternakan Sejak Sarjana hingga S3 di Luar Negeri, Kini Bantu Para Gembala di Kupang Jadi Kaya 
  • 3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan
  • Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?
  • Mudik Gratis BUMN 2026: Hemat Rp600 Ribu dari Jakarta-Solo Tanpa Pusing Dana THR Berkurang
  • Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali 
  • Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.