Stasiun Slawi memang sepi, tapi bukan berarti tak punya peran yang penting. Justru ia adalah kunci kehidupan di Slawi
Bagi saya, kegiatan bepergian ke luar kota seharusnya memang nggak perlu dibikin ribet. Makanya menggunakan tranportasi seperti kereta api kerap jadi pilihan paling masuk akal: tinggal pesan tiket online, datang, duduk, dan menunggu sampai di kota tujuan. Apalagi kalau tempat tujuan masih punya stasiun terdekat, rasanya seperti dapat jatah hoki tahunan.
Seperti ketika saya ikut mudik ke kampung halaman istri di Slawi. Kecamatan kecil ini, bagi orang luar seperti saya, terlihat cukup maju, dengan pabrik-pabrik dan berbagai jenis pertanian yang tidak main-main. Meski wilayahnya kecil, transportasinya tergolong mudah karena sudah tersedia stasiun, sehingga akses ke dan dari tempat ini cenderung lebih praktis.
Stasiun sepi yang cuma punya dua kereta aktif
Stasiun paling utara di Daop 5 Purwokerto ini memang cuma punya dua kereta penumpang yang aktif. Makanya wajar kalau rute di sini disebut salah satu yang tersepi. Fakta ini saya peroleh dari cerita istri dan pengecekan di menu aplikasi KAI. Adapun pilihan kereta yang masih bisa dipesan ya cuma KA Kamandaka dan KA Joglosemarkerto.
Mendengar hal tersebut saya sempat mbatin, kok bisa ya stasiun sesepi itu tapi masih beroperasi. Kalau dibandingkan dengan Stasiun Cepu yang letaknya juga di kecamatan bahkan di ujung timur Jawa Tengah, jelas Stasiun Slawi kalah ramai. Stasiun Cepu punya sekitar 10 kereta yang lalu lalang dengan 72 jadwal keberangkatan dan kedatangan setiap hari berdasarkan GAPEKA 2026 yang beroperasi secara reguler, mulai dari layanan lokal dan jarak jauh.
Tapi tampaknya memang di situlah letak uniknya Stasiun Slawi. Sederhana, sepi, tapi masih bertahan hingga sekarang.
BACA JUGA: Slawi, Kota Teh yang Tidak Punya Kebun Teh
Saksi bisu kejayaan pabrik gula di Slawi
Jika ditelusuri ke masa lampau, pembangunan Stasiun Slawi sesungguhnya memang diciptakan bukan untuk melayani transportasi penumpang. Fungsi awalnya justru bersifat komersial: menjadi jalur angkutan bagi hasil perkebunan di sekitarnya, khususnya komoditas gula. Fenomena ini sejalan dengan dinamika pesat industri gula di Kabupaten Tegal pada era kolonial, ketika komoditas tersebut menjadi salah satu pilar ekonomi yang sangat strategis.
Stasiun Slawi resmi dibuka pada 25 Agustus 1885. Awalnya berupa halte kecil yang menyertai peresmian jalur kereta api Tegal–Slawi sepanjang 14 kilometer, dioperasikan oleh perusahaan kereta api swasta Belanda, Javasche Spoorweg Maatschappij (JSM). Meskipun saat ini fungsinya telah berubah dan dihadapkan pada aktivitas penumpang yang relatif terbatas, Stasiun Slawi tetap menjadi saksi bisu dari era kejayaan industri gula yang pernah mendominasi kehidupan ekonomi di wilayah tersebut.
BACA JUGA: Stasiun Tegal itu Romantis, Sayang Dikorupsi
Stasiun Slawi akan tetap punya peran penting
Stasiun Slawi memang ditakdirkan untuk terus hidup dan beroperasi. Dari awalnya sebagai jalur pengangkut gula zaman kolonial hingga berubah menjadi rute transportasi publik, stasiun ini membuktikan satu hal: kesempurnaan stasiun nggak melulu soal kepadatan jumlah gerbong yang lewat tiap jam. Yang terpenting, justru dari perannya bagi warga sekitar, yang tetap bisa diandalkan, dan masih menghubungkan ke kota-kota besar seperti Semarang, Purwokerto, Cilacap, Solo, dan Yogyakarta.
Pun menurut saya, stasiun ini jelas punya nilai praktis yang nggak bisa diremehkan. Kalau saja sampai berhenti beroperasi, tentu saya akan ikut kelimpungan saat hendak main ke rumah mertua. Membayangkan harus mobilan atau naik bus pantura yang ugal-ugalan ya jelas bikin mikir pindho. Memang sih masih bisa menggunakan kereta dan turun di Stasiun Tegal. Tapi ya itu, tambahan waktu untuk perjalanan menuju ke Slawi ya tetap saja lumayan membuat mager.
Penulis: Dimas Junian Fadillah
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Teh dan Camilan Olahan Tahu Slawi Tegal, Layak Dikenal Lebih Banyak Orang seperti Warteg
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.




















