Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Sragen Dianggap Badut Jawa Tengah, padahal Punya Potensi yang Amat Hebat, tapi yang Terkenal Justru Hal Buruknya

Muhamad Iqbal Haqiqi oleh Muhamad Iqbal Haqiqi
5 November 2025
A A
Nongkrong Masih Dianggap Tabu di Sragen, Nasib Kafe di Sana Kian Suram  Mojok.co

Nongkrong Masih Dianggap Tabu di Sragen, Nasib Kafe di Sana Kian Suram  (wikipedia.org)

Share on FacebookShare on Twitter

Badut adalah sosok jenaka yang sering jadi bahan candaan. Dia membuat semua orang tertawa dan bahagia, tapi jarang membuat orang mengenangnya. Kehadirannya transaksional tanpa kesan dan emosi yang mendalam. Selepas tertawa, orang akan melupakannya. Membiarkan ingatan mereka soal badut itu hilang seketika. Itulah Sragen, daerah di Jawa Tengah yang bagi saya seperti sosok badut. Orang tahu, tapi tak mengenalnya dengan baik.

Saya beberapa kali melalui daerah ini, lokasinya yang strategis, apalagi menjadi jalur keluar tol yang menghubungkan beberapa daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Keberadaannya sebagai ring timur Solo Raya, yang merupakan koridor panjang membuatnya jadi rute wajib bagi pemudik, wisatawan, dan truk logistik, terutama yang pergi ke Solo atau Semarang.

Efeknya, secara ekonomi Sragen bisa berdikari, warung makan, rest area, penginapan, dan destinasi yang statusnya sebagai persinggahan pengendara, pasti hidup.

Tapi, satu hal yang saya sadari. Daerah ini, tak memberikan memori yang berkesan, ia sekadar diingat sebagai perhentian dan exit tol. Tak lebih dari itu. Layaknya seorang badut, ramai orang membersamainya ketika pertunjukan, tapi tak pernah meninggalkan kenangan karena tak berkesan.

Di sini, saya nggak akan mengupas soal badutnya Sragen dari sisi angka-angka statistic seperti pertumbuhan ekonomi, tingkat kemiskinan, atau pengangguran layaknya tulisan saya soal daerah lainnya.

Sragen itu strategis, tapi…

Dari segi sektor usaha, geliat ekonomi di Sragen itu ada dan nyata. Sebab seperti yang saya jelaskan di awal, posisinya strategis. Pasar tradisional ramai dan tumbuh, sektor pertanian melalui sawah juga potensial, bisa dilihat tuh kanan kiri jalan raya, sawah semua. Kemudian, di Sragen juga terdapat sentra batik, misalnya di Kliwonan dan sekitarnya yang selalu padat dan tak pernah benar-benar tidur. UMKMnya pun bergeliat, terutama kulinernya, mulai dari nasi pecel, tengkleng, dan warung makan lain yang nggak sepi-sepi banget.

Hanya saja, segala gambaran ekonomi riil itu jarang diangkat sebagai citra dari Sragen itu sendiri. Sebab ya memang kurang spesial bila dibanding kota tetangga, yaitu Solo. Di telinga publik ya yang sering didengar adalah Solo dengan festivalnya atau Karanganyar dengan puncaknya. Sragen? Oh itu… pintu keluar tol atau langganan banjir saat Bengawan Solo meluap.

Badutnya Sragen nggak berhenti di situ. Tahukah kalian kalau Sragen itu punya sesuatu yang diakui sebagai warisan Dunia UNESCO, yaitu Sangiran. Tapi sayangnya, branding Sangiran lebih sering terdengar sebagai paket wisata Solo dan sekitarnya. Nama Sragen terabaikan. Wisatawan datang ke museum, terpukau dengan fosil purba, berfoto di instalasi, tapi yang dikenang lebih banyak adalah Solo. Sragen hanya nyempil sebagai penggembira di story atau feed media sosial para pengunjungnya.

Baca Juga:

Dilema Pemuda Sragen: Bertahan Nggak Berkembang, Ditinggal Dikira Nggak Sayang Kampung Halaman 

Sragen Daerah yang Cuma Dilewati, Tak Pernah Jadi Tujuan Orang karena Tidak Punya Apa-apa

Terlalu lekat dengan hal negatif

Selain itu, lebih apesnya Sragen sering melekat pada kabar yang tonenya negatif alih-alih positif, misalnya pada awal tahun 2025 saat banjir melanda beberapa kecamatan, lini masa langsung ramai. Atau Gunung Kemukus yang masih lekat dengan ritual seks meski pada dasarnya sudah direvitalisasi sebagai wisata dan cagar budaya. Semua itu ramai dan jadi perbincangan. Tapi di sisi lain, ketika Sragen melempar brandingnya sebagai Sragen, The Land of Java Man, tidak jadi bahan perbincangan publik di luar daerah.

Agenda lain seperti Sangiran Fair yang rapi kurasinya atau ketika festival batik Kliwonan mencoba mengangkat marwah perajin, gema nasionalnya sering tak sebesar kabar apes soal banjir atau ritual seks di Gunung Kemukus. Ibaratnya, Sragen jadi terkenal saat sial, tapi kembali sunyi saat ada agenda bagus. Badutnya dobel: badut panggung tetangga sekaligus badut headline musiman.

Mau atau tidak?

Padahal, kalau berbicara keotentikan destinasi, Sangiran di Sragen adalah laboratorium alam dan sejarah yang nggak dimiliki oleh Kota lain. Gunung Kemukus yang jadi candaan untuk ritual begituan yang jadi kisah gosipan, adalah sebuah situs yang bisa dimanfaatkan menjadi heritage site dengan kurasi sejarah, lanskap, dan ritual yang lebih beradab.

Selain itu, ada batik Kliwonan yang jadi pabrik desain rakyat yang siap diangkat kelasnya. Tiga poros ini, kalau dikurasi dengan serius dan ritme yang terjadwal dengan baik, bisa mengubah Sragen dari koridor jadi tujuan.

Persoalannya adalah mau atau tidak. Bukan hanya dari pemerintah setempat, tapi juga masyarakatnya itu sendiri. Mereka juga harusnya mulai bangga dengan Sragen. Kebanggaan itu perlu dituangkan melalui kanal-kanal media sosial yang masif tapi organik. Tujuannya supaya Sragen nggak hanya disinggung sebagai situs penemuan fosil yang ditulis di sejarah SD, jalur sungai bengawan solo, atau pintu keluar Tol. Tapi sebagai daerah yang punya keunikan tersendiri.

Akhir kata saya mau bilang begini, Sragen berhak atas sorot lampunya sendiri. Ia bukan hanya kilometer persinggahan, bukan hanya pintu keluar, bukan hanya bahan gosip esek-esek. Sragen punya manusia purba yang memaksa belajar. Ia punya bukit yang siap dibaca ulang sebagai pustaka pengetahuan, bukan bahan olok-olok. Ia punya tangan-tangan yang menulis motif di kain, sabar dan telaten. Semua unsur ini sudah ada, tinggal disatukan menjadi panggung yang tidak lagi ketutup sama nama tetangga.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sragen, Kota yang Hidup Cuma Sampai Maghrib, Setelah Itu, Seakan Jadi Kota Mati

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 5 November 2025 oleh

Tags: batik kliwongangunung kemukuskabupaten sragensangiransragen
Muhamad Iqbal Haqiqi

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

ArtikelTerkait

Jalan Gabugan-Sumberlawang, Jalan Paling Dibutuhkan Sekaligus Meresahkan di Sragen Mojok.co

Jalan Gabugan-Sumberlawang, Jalan Paling Dibutuhkan Sekaligus Meresahkan di Sragen

17 Januari 2025
bus rute jakarta-sragen

3 Rekomendasi Bus Rute Jakarta-Sragen buat Kalian yang Pengin Mudik

24 Desember 2021
Sragen Daerah yang Cuma Dilewati, Tak Pernah Jadi Tujuan Orang karena Tidak Punya Apa-apa

Sragen Daerah yang Cuma Dilewati, Tak Pernah Jadi Tujuan Orang karena Tidak Punya Apa-apa

20 Januari 2026
Dilema Pemuda Sragen: Bertahan Nggak Berkembang, Ditinggal Dikira Nggak Sayang Kampung Halaman Mojok.co

Dilema Pemuda Sragen: Bertahan Nggak Berkembang, Ditinggal Dikira Nggak Sayang Kampung Halaman 

20 Januari 2026
Derita yang Saya Rasakan Selama Tinggal di Perbatasan Ngawi-Sragen: Mau Pesan Ojol, Malah Disarankan Bertapa

Derita yang Saya Rasakan Selama Tinggal di Perbatasan Ngawi-Sragen: Mau Pesan Ojol, Malah Disarankan Bertapa

13 Mei 2025
Gemolong, Kecamatan Terbesar Kedua di Sragen yang Kini Menjelma Menjadi Kota yang Proper

Gemolong, Kecamatan Terbesar Kedua di Sragen yang Kini Menjelma Menjadi Kota yang Proper

2 Oktober 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kalau Nggak Doyan Kuliner Sumenep, Cobalah Kuliner Orang Bangkalan Madura yang Ternyata Beragam Mojok.co

Kalau Nggak Doyan Kuliner Sumenep, Cobalah Kuliner Bangkalan Madura yang Rasanya Nggak Kaleng-kaleng

15 Februari 2026
Honda Brio, Korban Pabrikan Honda yang Agak Pelit (Unsplash)

Ketika Honda Pelit, Tidak Ada Pilihan Lain Selain Upgrade Sendiri karena Honda Brio Memang Layak Diperjuangkan Jadi Lebih Nyaman

16 Februari 2026
Liburan ke Jakarta Bikin Saya Makin Cinta Semarang dan Bersyukur Kuliah di Sana

Liburan ke Jakarta Bikin Saya Makin Cinta Semarang dan Bersyukur Kuliah di Sana

19 Februari 2026
Mimpi Lulusan S2 Mati di Jakarta, Masih Waras Sudah Syukur (Unsplashj)

Lulusan S2 Merantau ke Jakarta Sudah 3 Tahun: Kini Tidak Lagi Memikirkan Mimpi tapi Cara Bertahan Hidup dan Tetap Waras

18 Februari 2026
Surat Terbuka untuk Bupati Grobogan: Sebenarnya Desa Mana yang Anda Bangun dan Kota Mana yang Anda Tata?

Surat Terbuka untuk Bupati Grobogan: Sebenarnya Desa Mana yang Anda Bangun dan Kota Mana yang Anda Tata?

18 Februari 2026
Makanan di Jawa Memang Terkenal Manis, tapi Kenapa Sambelnya Ikutan Manis?

Makanan di Jawa Memang Terkenal Manis, tapi Kenapa Sambelnya Ikutan Manis?

20 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan
  • Salut dengan Ketahanan Yamaha Mio Sporty 2011, tapi Maaf Saya Sudah Tak Betah dan Melirik ke Versi Baru
  • Mall Kokas, Tempat Paling Membingungkan di Jakarta Selatan: Bikin Pekerja “Mati” di Jalan, tapi Diminati karena Bisa Cicipi Gaya Hidup Elite
  • Mobil Pribadi Pilihan Terbaik Buat Mudik Membelah Jawa: Pesawat Terlalu Mahal, Sementara Tiket Kereta Api Ludes Dibeli “Pejuang War” KAI Access
  • Pemilik Kos di Jogja Muak dengan Tingkah Mahasiswa Jakarta: Tak Tahu Diri dan Ganggu Banget, Ditegur Malah Serba Salah
  • Niat Daftar LPDP Berujung Kena Mental, Malah Diserang Personal oleh Pewawancara dan Tak Diberi Kesempatan Bicara

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.