Soto kok Lauk Kerupuk, Lauk Tempe Lebih Manusiawi!

Soto kok Lauk Kerupuk, Lauk Tempe Lebih Manusiawi! terminal mojok

Penggemar soto lauk tempe nggak jarang dianggap aneh. Hmmm, sepertinya ada paham-paham yang harus diluruskan. Ya, ini tentang citra warga penggemar soto lauk tempe. Padahal kami Pancasilais, adil, dan beradab. Sebelumnya, tanpa mendiskreditkan kerupuk, saya mau bilang kalau soto lauk tempe itu lebih manusiawi.

Maaf ya, kerupuk. Saya hanya ingin menyelamatkanmu. Tirai harus dibuka, keadilan harus ditegakkan.

Soto itu seperti anak yang memberi pengaruh pada kerupuk. Saat mereka bertemu, idealisme kerupuk akan hilang. Dia yang dulu renyah-renyah saja akan kehilangan jati dirinya. Jadi lembek, nggak berkarakter!

Ibarat perjodohan, coba bayangkan kalau kalian dapat pasangan yang lebih mendominasi, pasti nggak pas kayak soto dengan kerupuk. Kalau kalian nggak mau dijodohkan, bayangkan saja itu relasi bos dengan karyawan, atau dosen dengan mahasiswa.

Kerupuk kalau digabung dengan soto yang kelihatannya menyatu, sebenarnya hanya tengah ditindas. Pengaruh rasanya nggak begitu muncul. Kecuali jumlah kerupuknya lebih banyak kayak rakyat yang bersatu buat demo pejabat. Ini adalah sisi lain dari realitas yang dielu-elukan. Beda dengan tempe. Ia lebih tak mudah goyah. Soto yang basah ditambah dengan tempe yang padat lebih serasi.

Saya nggak menutup mata kalau ada orang yang makan soto lauk kerupuk di dunia ini. Saya juga nggak menutup mata bahwa sebenarnya ada banyak penindasan, termasuk di dunia perkulineran, yang lakonnya adalah makanan dan bumbu masakan itu sendiri.

Lantas, untuk apa ini dibahas? Setelah membaca tuntas, kalian akan menemukan jawabannya. Nggak, deh. Ya tentu saja untuk meluruskan bagaimana karakter pencinta soto lauk tempe sebenarnya.

Tempe adalah pejuang tangguh yang bisa mengimbangi dominasi dari soto. Kalau makan pakai lauk tempe, memang jumlah sotonya yang lebih banyak. Tapi dengan jumlah tempe yang lebih sedikit saja, dia sudah mampu hadir tanpa rasa yang lenyap akibat kuasa kuah sotonya.

Sebagai manusia yang berperikeadilan, memilih tempe untuk digandengkan dengan soto adalah sesuatu yang tepat. Entah relasi mereka sebagai apa. Menurut saya, tempe pada soto itu sama-sama lakon. Sedangkan, kerupuk pada soto hanya figuran.

Sebenarnya saya kasihan sama kerupuk. Nasibnya sama kayak rempeyek yang ditolak dari geng gorengan. Apalagi tengah ditindas soto, sekarang malah diromantisasi. Ngalahin kota yang UMR-nya rendah, tapi suasananya disebut-sebut bikin candu. Iya, kayak kota Jo… (sebagian teks hilang).

Malah ngrasani kotanya Mojok! Kembali ke laptop. Eh, kembali ke kerupuk, hehehe.

Kerupuk akan selalu ada. Tanpa disorot karena sotonya, ia tetap memiliki eksistensi. Toh kerupuk bisa membuat geng baru dengan rempeyek. Biar nggak jadi duo, dia bisa ngajak adiknya, keripik, buat join. Alhasil, jadilah Tiga Diva yang siap manggung di warung-warung.

Saya nggak menyebut orang yang suka makan soto lauk kerupuk itu nggak manusiawi. Mereka mungkin hanya belum sadar saja. Meski pencinta soto lauk tempe kayak saya dicap radikal, sebenarnya memilih tempe itu sudah melewati pertimbangan yang melibatkan nurani dan akal sehat.

Kayak CS pinjol, saya hadir di sini untuk mengingatkan. Tapi biar beda, saya mengingatkannya nggak marah-marah. Tentu dengan baik hati kayak Cinderella, pasti disayang mama oh papa.

Saya juga nggak membela tempe. Dari segi privilese, tampaknya tempe memang lebih beruntung. Teksturnya kokoh dan nggak sok kuat kayak kerupuk yang sebenarnya rapuh. Maka dari itu, saya mengusulkan untuk warga pencinta soto sekalian, biarkan tempe menggantikan peran krupuk dalam mangkuk kalian. Ia ditakdirkan hadir sebagai penyelamat.

Biarkan kerupuk mendapatkan jalan takdir yang indah. Biarkan ia berbahagia dengan nasi pecel, nasi goreng, dan makanan yang nggak mengikis idealismenya. Tetap menjadi kerupuk yang renyah seperti tujuan awal ia diciptakan.

Tanpa bermaksud memanja kerupuk karena mau digembleng seperti apa pun, dia tetap nggak bisa survive di planet bernama sotoizme.

Jadi semuanya, katakan dengan lantang: “Pilih tempe untuk soto yang lebih manusiawi!”

Perdebatan soto pakai lauk kerupuk dengan lauk tempe bisa menjadi babak baru yang menyaingi eksistensi karier bubur diaduk atau nggak diaduk. Saya nggak pengin ada pasangan yang putus gara-gara beda selera makan. Biar tetap kompak buat saja ganda sotonya pakai kerupuk-tempe vs bubur setengah diaduk setengah nggak.

Kita belajar dari warga Indonesia, sering bertengkar dengan sesama warga, tapi auto kompak saat lawan negara lain. Wqwqwq.

Sumber Gambar: YouTube Delish Tube ID

BACA JUGA Membedah Perbedaan Soto Mie Bogor dan Betawi dan artikel Yuliana Kristianti lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
Exit mobile version