Solusi 'Gerakan Menengok Tetangga' bagi Warga Kompleks yang Biasa Diem di Rumah Bae – Terminal Mojok

Solusi ‘Gerakan Menengok Tetangga’ bagi Warga Kompleks yang Biasa Diem di Rumah Bae

Artikel

Sejak corona mewabah dan menghantam perekonomian, di WA muncul gerakan menengok tetangga sebagai langkah antisipasi kalau-kalau tetangga kita termasuk keluarga yang terdampak corona dari segi perekonomian. Gerakan yang bagus, pikir saya. Nyesek juga ketika membaca berita ada keluarga yang sampai mati kelaparan di rumah. Lha itu saudara dan tetangganya pada ke mana? Mungkin inilah yang menjadi dasar dari gerakan menengok tetangga, mengajak kita untuk lebih peka, utamanya dengan tetangga yang hidup di sekitar rumah.

Masalahnya adalah, bagaimana dengan kita, eh saya deh, yang tidak terbiasa nangga? Masa tiba-tiba muncul main ke rumah tetangga? Apalagi sampai tanya-tanya masak apa hari ini? Aduhhh… apa nggak aneh? Oke, oke, atas nama kemanusiaan mungkin kita memang harus menepis perasaan aneh itu. Ta-tapi kan….

Ya. Saya adalah salah satu orang tidak terbiasa nangga. Saya yakin banyak juga yang seperti saya. Yang kalau sudah sampai rumah ya anteng di rumah saja. Males keluar-keluar kalau nggak penting-penting amat. Oh ya, nangga itu maksudnya datang dan haha hihi ke rumah tetangga, ya. Kali aja ada yang nggak tahu.

Tadinya saya pikir mungkin ini terjadi karena saya tinggal di perumahan. Tahu sendiri kan imej orang perumahan tuh seperti apa? “Usdek” alias urusan dewek-dewek alias selfish. Tapi ternyata nggak juga. Buktinya tetangga saya, sama-sama tinggal di perumahan, tapi saya lihat dia pinter nangga. Hari ini kelihatan sedang main di rumah Ibu A, besok kelihatan lagi gabung-gabung manja sama ibu-ibu yang lain. Berarti bukan karena faktor perumahannya, tapi memang dasarnya saya yang suka #dirumahaja. Paling ya itu tadi, keluar kalau memang ada kepentingan seperti menengok tetangga sakit, arisan, memenuhi undangan atau… minta daun kemangi.

Maka, alih-alih sidak ke rumah tetangga yang menurut kita bakal terasa aneh karena tidak pernah dilakukan sebelumnya, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk bisa tetap ikut gerakan menengok tetangga meski kita bukan orang yang pinter nangga.

Baca Juga:  Gini Amat Rasanya Punya Rektor UNY Nyambi Selebgram seperti Pak Sutrisna Wibawa

#1 Jadilah orang yang curigaan

Curigaan ini curigaan yang positif loh, ya. Bukan curiganya orang yang bersin terus dianggap kena corona. Bukan.

Jadi gini, sebetulnya jika kita jeli, kita pasti bisa membedakan suasana di lingkungan sekitar sebelum dan sesudah corona. Tetangga kita yang biasanya hanya terlihat Sabtu dan Minggu, tiba-tiba sepanjang hari terlihat ada di rumah, misalnya. Itu patut kita curigai sebagai keluarga yang terdampak corona. Apalagi kalau kepala rumah tangganya yang seharian di rumah. Jangan-jangan dia korban PHK? Atau tetangga kita yang biasanya ikutan nongol belanja di tukang sayur keliling terus tiba-tiba absen sekian lama, dan sekalinya datang cuma beli tempe, itu pun patut kita curigai. Jangan-jangan ekonominya lagi seret hingga uangnya tak cukup untuk beli lebih dari tempe.

Nah, berikutnya jika sudah ada keluarga tertentu yang kita curigai ekonominya sedang limbung, saatnya untuk membantu. Berbagi makanan untuk berbuka, misalnya. Jadi sekali waktu, masaklah dengan porsi lebih banyak dan bagikan dengan tetangga sekitar. Mereka pasti dengan senang hati menerimanya.

#2 Memakai jasa pihak ketiga

Cara kedua yang bisa dilakukan bagi kita yang tidak terbiasa nangga tapi ingin menyukseskan gerakan menengok tetangga adalah lewat pihak ketiga. Pihak ketiga inilah yang nantinya akan memberikan info akurat tentang kondisi rumah tetangga. Pihak ketiga tersebut adalah… anak tetangga. Hehehe….

Momen interogasinya bisa saat nggak sengaja ketemu di warung. Tapi jangan asal tembak: “Eh, bapak ibu kamu lagi punya duit nggak?” Hiyaaa… ngajak ribut amat nih pertanyaanya. Basa-basi dulu, dong. Main alus gitu. Tanya dia puasa apa nggak atau pura-pura lupa dia kelas berapa, misalnya. Setelah itu baru pertanyaan yang lebih menjurus, “Eh, Bapak sekarang di rumah terus, ya?” atau “Tadi sahur lauk apa?” Seketika, info valid tentang kondisi rumah tetangga pun kita dapatkan.

Jadi, tidak terbiasa nangga bukan menjadi alasan untuk menutup mata dengan kondisi lingkungan sekitar kita. Selalu ada cara asal kita mau. Corona memang sudah menghantam perekonomian banyak orang. Sekarang ini semua sedang mengalami masa sulit. Tapi masa sulit bukan berarti kita boleh pelit. Tetap usahakan untuk berbagi terutama kepada mereka yang tingal di sekitaran rumah. Jangan sampai kita bisa tidur nyenyak sementara tetangga kita nggak bisa tidur karena menahan lapar….

Baca Juga:  Bagi Saya, Masyarakat Desa Adalah Potret Indonesia yang Sebenarnya

Sumber gambar: Wikimedia Commons

BACA JUGA Tidak Perlu Menjatuhkan Mimpi Para Mahasiswa Pejuang 3,5 Tahun dan tulisan Dyan Arfiana Ayu Puspita lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
3


Komentar

Comments are closed.