Solo dan Jogja Nggak Cocok untuk Frugal Living, Mending ke Delanggu Aja! 

Solo dan Jogja Nggak Cocok untuk Frugal Living, Mending ke Delanggu Aja! Mojok.co

Solo dan Jogja Nggak Cocok untuk Frugal Living, Mending ke Delanggu Aja!  (unsplash.com)

Delanggu lebih cocok untuk frugal living.

Sepertinya konsep frugal living hari ini bukanlah ide yang unik. Toh kita semua dipaksa untuk frugal dengan kondisi ekonomi dan sosial yang … sebut saja menantang. Tapi, entah kenapa masih banyak orang yang menjadikan frugal living sebagai pilihan hidup. Dan, untuk menyempurnakan kekonyolan ini, mereka ingin frugal living di Jogja atau Solo. 

Entah bagaimana fantasi frugal living menurut mereka, tapi ini ra mashok blas! Mungkin frugal living ala mereka adalah tinggal di penthouse dan hidup dari bagi hasil investasi. Tapi, setiap hari makan sayur lodeh dan belanja produk organik. Bukan hidup dengan UMR yang mencekik dan gali-tutup lubang utang. 

Dua lokasi itu bukan opsi! Jogja dan Solo akan mengisap isi dompet kalian secepat lintah mengisap darah anak rusa. Tidak, jangan ke Jogja dan Solo. Pilihan terbaik ada di kecamatan Delanggu di Klaten!

Delanggu kecamatan kecil yang diapit dua raksasa 

Aku harus spesifik untuk menyebut Delanggu. Karena geser sedikit ke barat, kalian akan bertemu Klaten. Dan, Klaten yang kini jadi perpanjangan tangan Jogja jelas tidak cocok untuk frugal living. Ya, kecamatan yang cukup besar ini adalah wilayah terbaik yang tersisa untuk hidup miskin yang estetik. 

Meskipun hanya kecamatan dan dikenal sebagai lumbung padi, Delanggu bukanlah desa terpelosok. Kecamatan ini menjadi jalur utama yang menghubungkan Jogja dengan Solo. Benang merah yang mengikat dua monarki yang pecah pasca Giyanti. Posisi ini yang membuat Delanggu tidak terlalu ndeso, tapi tidak terlalu kota. 

Posisinya yang terapit juga membuat Delanggu tidak terseret arus pembangunan dua raksasa lain. Berjarak 44 kilometer dari Jogja dan 20 kilometer dari Solo membuat Delanggu jadi buffer zone. Kecamatan ini bukan titik perputaran uang, dan sekadar jadi ‘jalan raya’ dua mesin ekonomi. Sehingga Delanggu sukses mempertahankan ekonomi agraris. 

Akan tetapi, dengan posisi tengah ini, Delanggu punya akses ke dua daerah yang lebih berkembang. Tanpa harus mengubah Delanggu jadi metropolitan baru. Dan, posisi ini sangat cocok bagi kalian yang masih fetishizing perkara hidup miskin estetik. 

Baca juga Orang Jogja Nggak Kenal Frugal Living, Sejak Dulu Sudah Terlatih Prihatin Living Gara-gara UMK yang Tiarap.

Properti Delanggu terjangkau untuk hidup miskin estetik 

Tentu unsur utama hidup kita belum berubah sejak Orde Baru: Pangan; Papan, dan; Sandang. Nah perkara papan atau hunian ini krusial dalam frugal living. Kamu bisa makan oseng-oseng lombok dan pakai kaos partai tiap hari. Tapi ketika harga properti melambung tinggi maka hidup kalian tetap ngos-ngosan membayar KPR

Aku coba mencari harga kontrakan di daerah Delanggu. Puji Tuhan, masih di bawah Rp13 juta per tahun. Alias kurang lebih satu juta per bulan. Bandingkan dengan Jogja dan Solo yang dikuasai kos-kosan mahal. Bahkan, dengan budget sewa kos di dua kota itu, kalian bisa dapat rumah lega di Delanggu. 

Membeli properti di Delanggu juga lebih masuk akal dibanding Jogja dan Solo. Tentu saja, karena Delanggu adalah kecamatan rural yang sederhana. Aku pernah mencari harga rumah paling standar di Jogja, 300 juta-an. Di Delanggu, kamu sudah dapat rumah cukup lega dengan bonus halaman yang bisa jadi carport dua mobil SUV. Tapi kamu ingin frugal living, kan? Pakai saja halaman itu untuk berkebun dan menghasilkan pangan. 

Kenapa aku tidak memasukkan unsur pangan dan sandang? Bukan karena tidak penting, tapi karena rerata harga keduanya kini tidak terlalu mencolok. Perkara pangan tentu bisa diakali dengan jajan di warung tetangga atau memasak di rumah. Dan, sandang bisa diakali dengan menanti tanggal kembar atau sumbangan kaos parpol. Tapi papan adalah kunci frugal living sebenarnya. 

Fasilitas umum yang siap memanjakan frugal living 

Kalau kamu melihat Delanggu dari Google Maps, pasti akan merasa sunyi senyap. Tidak ada fasilitas umum yang mentereng, apalagi pusat ekonomi megah. Tapi, perhatikan satu poin utama: dia ada di tengah-tengah daerah yang lebih ‘mahal’. Dengan sedikit effort (baca: motoran 30 menit sampai 1 jam), kamu sudah bisa mengakses fasilitas umum kelas atas. Kamu juga bisa mengakses mall, bioskop, dan pusat hiburan lain dengan geser ke Jogja atau Solo. 

Tapi kalian ingin frugal living, kan? Ngapain mikir mall dan bioskop? Hiburan frugal itu cukup menonton jathilan, YouTube (bukan premium), dan scrolling kekonyolan pejabat. 

Untuk kebutuhan dasar, Delanggu sudah ada rumah sakit dan sekolah sampai tingkat menengah. Kalau perkara menguliahkan anak, cukup geser sedikit ke dua kota tadi. Itu pun masih bisa pulang-pergi tiap hari modal motor yang rutin ganti oli. 

Tapi jika kalian butuh akses ke Jogja atau Solo secara rutin, masih ada KRL. Stasiun Delanggu jadi titik pemberhentian KRL Jogja-Solo yang jelas murah itu. Kalian bisa bekerja di Jogja atau Solo demi gaji yang lumayan, lalu tidur nyenyak di Delanggu. Meskipun tabu menyebut gaji di dua kota itu dengan “lumayan”.  

Satu lagi, koneksi internet di Delanggu sudah sangat layak! Tentunya ini penting bagi kalian yang bekerja remote. Atau minimal harus rutin update story hidup susah estetik. 

Baca juga Kabupaten Nganjuk, Satu-satunya Tempat di Jawa Timur yang Akan Membuatmu Kaya Raya.

Pemuas fantasi frugal living 

Yang lebih penting perkara frugal living bukan poin-poin sebelumnya. Tapi, bagaimana bisa meromantisisasi hidup susah dengan gaya. Dan, Delanggu adalah pemuas fantasi bagi mereka yang punya fetish mlarat. Delanggu, meskipun jadi jalur distribusi utama, tetaplah kecamatan rural. Sepedaan di pinggir hamparan sawah luas bukanlah mimpi di Delanggu. 

Bayangkan begini, kalian adalah pekerja remote dengan kantor pusat di Singapura. Setiap pagi kalian akan menyiapkan laptop di teras rumah, lalu Check-In meeting sambil menatap sawah. Sarapan jajan pasar yang satu item masih seribuan. Siang sedikit kalian makan di warung tetangga yang masih mematok harga nasi ayam sepuluh ribuan. Ketika matahari mulai malu-malu di ufuk barat, kalian selesaikan pekerjaan dan jalan-jalan santai keliling desa. Malamnya kalia tidur ditemani suara jangkrik tanpa ada keriuhan ala pusat kota. 

Itu kan fantasi frugal living kalian?! Sudahlah, Delanggu adalah titik terbaik memulai hidup miskin yang estetik dan instagramable. Setidaknya sampai Delanggu (atau Klaten) menyerah, jadi korban gentrifikasi, dan berakhir seperti daerah lain. 

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Slow Living dan Frugal Living di Desa Memang Omong Kosong, Apalagi Kalau Kamu Cuma Buruh Rendahan dan Gajimu Mengenaskan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version